Why Me?

Why Me?
Why Me? 73



Pagi sekali sekitar jam 5, Kera band sudah bersiap menuju pemotretan yang berada di luar kota. Menghabiskan sekitar 2 jam disana, lalu kembali ke ibukota dan menghadiri acara talk show. Kini sebelum acara dimulai. Kera band sedang bersiap di belakang panggung, menunggu pemandu acara memanggil namanya.


"Nanti kalo teh Feni manggil kalian, keluar dari tirai ini ya" tunjuk salah satu kru TV.


Mereka semua kompak mengangguk, tangan Gara sudah berkeringat karena gugup. Maklum ini acara tlakshow pertama mereka.


Irvan sedari tadi sibuk mengecek ponsel, sedangkan Eles mati matian berdoa, Antar sedang membenarkan penampilannya dan Genta malah melamun di samping kru.


"Mulut lo nanti jangan asal ceplas ceplos" peringati Irvan pada Gara.


Pasalnya, rahasia Irvan dengan Pelangi tidak boleh bocor ke media, karena bisa jadi itu akan menjadi boomerang untuk Kera band.


"Iya iya, tenang aja" kata Gara santai.


"Jangan tenang tenang Ra. Mulut elo udah kayak knalpot rusak, asal keluar gitu aja" tambah Eles.


"Iya iya" Gara melotot karena kesal "Gue gak bakal ngomong apa apa" imbuhnya.


Suara pemandu talkshow yang mulai menyapa penonton dirumah maupun di studio terdengar menggema.


"Sudah penasaran dengan tamu kita hari iniiiii?" Tanya Feni selaku pemandu acara "Tamu kita kali ini gak kalah lebih heboh dan sedang jadi bincang bincangan anak muda"


Kera band semakin deg degan. Tidak ada yang bersuara barang sepatah kata.


"Dia ini grup yang beranggotakan 5 orang cogan cogan" suara riuh terdengar "uuuu siapa kira kira??" Feni menambahkan dengan bumbu bumbu logat seksy.


"KITA PANGGIL KERA BAND"


Tepuk tangan lantas menyambut kalimat Feni barusan. Bahkan semua penonton berdiri, hanya untuk menyambut mereka. Genta sebagai orang yang memimpin jalan membuka tirai dari depan, lalu kegugupannya bertambah banyak lantaran banyaknya kamera yang menyorot kearahnya, juga banyak sekali penonton yang bertepuk tangan.


"Halooo Kera band" sapa Feni menyalami satu persatu diantara mereka.


"Halo teh" sapa Genta dengan senyum canggung.


Mereka mengambil duduk di sofa yang sudah disediakan lalu Feni yang mulanya berdiri mulai menjentikan jari.


"Mas gendang, kalau saya bilang puter puter ya" Feni mulai memundurkan pantatnya "puter, puter puter"


Si penabuh gendang memukul gendangnya sesuai intrusksi Feni, lalu penonton mengimbuhi kalimat "asik" secara serentak sampai dengan gaya khas Feni, perempuan itu duduk di sofa dengan gaya casualnya.


"Tepuk tangan dong buat Kera band" kata Fani yang langsung di turuti penonton.


"Kera band" Fani menatap satu persatu "Kalian gak cocok jadi Kera band, cocok nya GGU" pujinya.


"Apa itu?" Tanya Gara.


"Ganteng Ganteng Uwwuuu"


Semua anggota Kera band hanya bisa tertawa mendengar pujian itu. Gara memperbaiki duduknya sedikit lebih dekat dengan Genta.


"Kera band, sebenarnya arti dari Kera band sendiri apa sih?, soalnya kan kera itu bukannya monyet ya?" Tanya Feni memulai acara talk show nya.


Mereka semua saling pandang untuk bertanya siapa yang akan menjawab pertanyaan Feni. Lalu semua mata menatap ke Genta tanda bahwa lelaki itu yang harus menjawabnya.


"Emm, Kera itu sebenarnya berarti arek" jawab Genta singkat.


"Jadi dulu waktu kita sama sama liburan ke Malang, kita sering di tanya "kera Malang ya", nah kita kan gak tahu, setelah kita cari tahu ternyata Kera itu kebalikan dari arek" imbuh Gara.


"Oh jadi Kera itu arek band" Feni mengangguk "Kalian ini gimana sih ceritanya bisa bikin band yang spektakuler gini"


"Jadi dulu si Genta itu selalu bawa gitar ke sekolah. Terus karena gue sama dia kan dulu satu kelas kita sering nyanyi nyanyi gak jelas gitu" cerita Irvan.


"Dulu gue sering ngajak dia buat ke rentalan band gitu, bayar studio buat main main band" imbuh Genta.


"Nah gue juga sering diajakin sama Irvan" Eles ikut menimpali.


"Nah iya, dulu gue sama Eles kan sama sama anak futsal jadi gue ajakin dia" kata Irvan memperjelas kalimat Eles.


"Waoww ternyata anak futsal pemirsaa" bisik Feni sensual kearah kamera namun bisa didengar satu studio.


"Oke lanjut lanjut" persilahkan Feni.


"Gue sama Gara kan sekeles, nah gue tahu kalau Gara itu bisa main drum, dulu buat ngepasin pas kita nyewa studio gitu jadi gue ajak dia" kata Eles.


"Pertama ketemu mereka kita nyewa studio deket sekolah, sangking hobinya dulu sepulang sekolah selalu kesana" cerita Gara


"Lama lama si Irvan nyaranin buat bikin band, yaudah kita bikin formasi asal asalan, eh malah jadi sampe sekarang" Genta tertawa lebar mengingat itu semua.


Feni menatap Antar yang sedari tadi diam saja. Antar juga tidak masuk kedalam cerita mereka.


"Si Abang ganteng satu ini kok gak ngomong" goda Feni.


"Soalnya dulu gue ditawarin bang Irvan buat gabung ke Kera band, nah dulu mereka udah ngeluarin satu lagu yang terkenal banget, makanya gue mau" cerita Antar.


"Iya, dulu si Irvan ngajak ampar ampar pisang" Gara hendak melanjutkan kalimatnya namun dicegah oleh Feni.


"Eits siapa ampar ampar pisang?" Tanyanya.


"Ini si Antar, kita semua manggil dia ampar ampar pisang, panggilan sayang gitu" ucap Eles.


"Aduh mau dong disayang" goda Feni sembari beratraksi sedikit.


"Jadi Si ampar ampar pisang diajak gabung ke Kera band begitu?" Tanya Feni.


"Iya, karena si Irvan lagi deketin kakaknya"


Senggolan di kaki Gara membuat lelaki itu menutup mulut. Semua anggota menggigit bibir dalam dengan lirih. Memang mempercayai Gara tidak ember adalah satu kesalahan. Tahu kecanggungan itu Feni tertawa lirih.


"Oke pemirsa jangan kemana mana tetap di Talkshow Ta ta dung"


"Gue keceplosan" kata Gara nyengir.


"Bang, jadi gue elo pilih gara-gara gue adiknya___"kalimat Antar langsung dipotong dengan cepat oleh Irvan.


"Enggak, gue murni milih elo karena elo punya skil" Irvan buru buru menenangkan, takut kalau Antar marah padanya.


"Kita mulai 5 detik lagi ya" kata kru tv.


"Lo hutang penjelasan bang" kata Antar marah.


Setelah intro masuk yang membosankan dan segala permainan yang Kera band lakukan, kini mereka kembali duduk di kursi fakta atau mitos. Sebuah kursi yang mengharuskan mereka menjawab pertanyaan yang di berikan pemandu acara dengan jujur.


"Genta Edenata Pinaringan" penonton lantas meneriaki dengan horor panggilan Feni barusan.


"Genta, fakta atau mitos, kalau kamu belum bisa move on dari mantan kamu yang udah putus enam tahun yang lalu?"


Deg


Genta menatap ke manajer yang sedang di belakang kamera, lelaki itu mengangkat jari membentuk v sebagai tanda damai karena memberitahu sesuatu yang sedang menjadi gosip setelah Kera band naik daun.


Perlahan Genta membalik tulisan menjadi FAKTA. Ya, fakta bahwa dirinya belum melupakan Gadis memang sebuah kebenaran.


"Siapa tuh mantannya?" Tanya Feni mendekati Genta.


"Orang paling spesial buat gue" jawab Genta menatap kearah kamera.


"Putusnya kenapa?, Kamu ke gep selingkuh atau dia yang nyelingkuhin kamu?"


"Gue gak tahu kenapa. Yang jelas dia pergi tanpa pamitan ke gue atau ngasih kejelasan ke gue kenapa dia harus pergi" rasanya Genta berharap gadis menonton ini.


"Kalau dikasih kesempatan buat ketemu dia apa yang mau lo sampean ke dia?"


"Gue masih sayang sama elo" aku Genta yang membuat penonton menjerit karena merasa patah hati.


"Irvan Syafruri" kini giliran Irvan.


"Fakta atau mitos, kalau kamu itu fuckboyyyy" ekspresi Feni begitu lucu saat menyebutkan kata fuckboy.


Irvan mengangkat kertas benar, lalu penonton bertepuk tangan dan tertawa.


"Iya sih, memang wajah kamu itu mendukung banget buat jadi fuckboy" komentar Feni.


🏡🏡🏡


Setelah selesai mengisi acara di Talkshow, Kera band langsung mengisi acara di acara musik dan selesai melakukan serentetan acara hingga pukul delapan malam.


Genta kembali kerumah sambil mengusap wajahnya yang begitu berantakan, jaket dia sampirkan ke atas bahu.


"Taa" Rani memanggilnya dari meja makan.


"Ya ma?" Genta hanya menoleh saat melihat beberapa pelayan sudah menyiapkan hidangan yang begitu banyak untuk makan malam mereka.


"Jangan lupa nanti papa minta kita buat makan malam sama psikiater keluarga" Rani mengingatkan soal janji semalam membuat Genta hanya mengangguk.


"Masih lama?" Tanya Genta.


"Papa mu sama dia udah dijalan, kamu mandi dulu biar nanti Mama panggil kalau mereka sudah datang"


Genta lalu berjalan ke kamarnya, menatap rumah yang begitu sepi, lalu melirik sekilas ke kamar Amanda yang tertutup, ah mungkin Amanda sedang tertidur.


Saat membuka pintu kamar, Genta hampir terjatuh lantaran menginjak kelereng yang berserakan di lantai. Lalu menatap sekeliling yang seperti kamar pecah.


Amanda, sipelaku utama sedang bersembunyi dibawah ranjang, tapi Genta bisa menemukannya karena kaki Amanda masih menjulai keluar.


"Amanda, keluarr" panggil Genta yang membuat pantat Amanda bergoyang karena dia sedang memundurkan tubuhnya untuk keluar dari bawah ranjang.


"Hehe ketahuan" Amanda menggaruk kepala "Habis kak Genta jarang dirumah. Jadi Amanda kesepian" Amanda menyembikkan bibir.


Genta merendahkan tubuhnya lalu mengusap rambut adik yang berbeda ayah dengan dirinya.


"Lain kali kakak temenin main ya, tapi gak sekarang, kakak baru pulang" ujar Genta membuat wajah Amanda berubah sedih.


"Kak Genta jahat, gak sayang Amanda"


"Sayang kok" Genta merengkuh tubuh Amanda lalu menggendongnya "Lusa kakak ajak kamu main ya" lalu Genta menghujani ciuman di pipi Amanda lantaran gemas.


"Janji" Amanda mengulurkan jari kelingkingnya membuat Genta menerima itu.


"Tadi Amanda ngeliat kak Genta di tv, kak Genta ganteng" puji Amanda langsung memeluk leher Genta.


"Amanda" teriakan dari pintu membuat Genta menurunkan Amanda, lalu anak kecil itu lantas berlarian kearah Rani.


"Beresin dulu mainannya. Terus kita kebawah, biar kak Genta mandi dulu" ujar Rani yang langsung dituruti Amanda.


🏡🏡🏡


Genta mendengar seseorang masuk ke kamarnya, karena sudah selesai mandi, lelaki itu melilit bagian bawah dengan handuk, lalu mengusap rambut basahnya.


"Genta"


Ada suara yang begitu asing memanggil namanya, Genta berjalan pelan kearah pintu dan membukanya. Setengah terkejut kala mata Genta menatap seorang wanita yang menggunakan pakaian kerja berdiri didekat ranjang. Perempuan itu seperti sedang mencarinya, membuat Genta mendekati dia.


"Genta" panggilnya.


"Ya"


Perempuan itu menoleh saat mendengar jawaban Genta, lalu terperajat dan hampir terjatuh kelantai namun berhasil di tahan oleh Genta. Mereka berdua jatuh di atas kasur, dengan posisi perempuan itu menindihi tubuhnya. Mereka saling tatap, sangat lama.