Why Me?

Why Me?
Why Me? 40



Setelah mereka mengantarkan Gadis, kini Irvan, Eles dan Gara mengantarkan Genta pulang kerumah, masalah motor Genta, Eles sudah meminta bengkel untuk memperbaikinya.


Selama perjalanan tidak ada yang bersuara, Genta selalu menatap arah luar dengan isi kepalanya, dan teman teman Genta berusaha untuk memahami, mungkin Genta butuh waktu berpikir sendiri. Sampai dirumah Genta, lelaki itu turun dari mobil Irvan.


"Lo yakin mau balik kerumah, gak nginep di tempat gue dulu?" Tanya Irvan setelah tadi menutup pintu mobil dan berdiri didepan Genta.


Lelaki itu mengangguk penuh kemantapan, mungkin Genta harus menghadapi semuanya, tidak lari seperti pengecut lagi.


"Kalo Lo butuh ruang kosong, pergi kerumah gue aja Ta, Lo tahu kan rumah gue selalu kosong" kata Irvan menatap Genta penuh kasihan.


"Kalo Lo butuh rumah yang rame penuh kekaleman, Dateng aja kerumah gue, Lo tahu juga kan Ta kalo gue kalem" kata Gara menyisir rambutnya kebelakang.


Sedangkan Eles tampak bingung akan menawari Genta untuk menginap dengan bentuk iming iming apa, sedangkan rumah Eles sempit, dia juga tidak terlalu kaya seperti teman temannya.


"Kalo gue, yah Lo tahu sendiri kan" ujarnya lirih.


"Thanks ya, tapi gue pengen dirumah" Genta tersenyum.


"Lo yakin" tanya Irvan untuk memastikan.


"Please deh jangan sok perhatian, geli gue" Genta sok sok bergidik.


"Emang kurap, kalo di perhatiin malah ngehina" Gara menepuk lengan Genta "Cabut ya Ta" pamitnya yang diikuti yang lainnya.


Genta hanya bisa memandangi kepergian ketiga temannya, nafas Genta mulai terasa sesak lagi, dia begitu frustasi bahkan ketika berdiri diluar rumahnya. Genta melangkah untuk masuk kedalam, menemui ruangan rumahnya yang begitu gelap gulita.


Genta menyalakan semua lampu, menatap kosong ruang tamu, dapur bahkan ruang keluarga yang seharusnya dijam seperti ini ramai oleh tawa Genta, Akmal dan Rani.


Genta meletakkan tas diatas meja makan, dia berjalan kearah meja makan yang penuh dengan hidangan. Genta menatapnya penuh miris, tadi pagi Rani sempat membuat sarapan, meskipun berakhir tanpa disentuh oleh Genta ataupun Akmal.


Genta memandangi makanan dingin yang sebagain sudah basi, lelaki itu mengambil satu persatu dan membuangnya ke kotak sampah, tidak lupa beberapa piring, mangkuk yang kotor di bawa ke wastafel untuk dicuci. Genta melakukannya sendiri, sampai selesai.


Dia tidak ingin jika Rani harus melakukannya lagi. Pandangan Genta menyapu seisi ruangan, betapa kosong rumah ini. Apakah kekosongan ini yang akan dia temui setiap hari nanti.


Genta memilih mematikan semua lampu ruangan dan naik kelantai atas.


Genta menyalakan lampu kamarnya, kamar yang terasa dingin itu membuat Genta semakin merasa frustasi sendiri, Genta membuka jaket dan seragam SMA nya, merasakan nyeri di punggung dan beberapa goresan luka.


🏡🏡🏡


"Rani dengerin aku" Akmal menarik tangan Rani begitu mereka sampai di ruang makan.


"Ini solusi terbaik untuk kita semua, ijinkan aku poligami"


Rani menatap Akmal tidak percaya, matanya memerah dan berkaca kaca.


"Gak ada wanita yang mau cintanya dibagi, gak ada!!" Pekiknya.


Akmal menarik nafas "Lalu kamu akan memilih jalan cerai untuk masalah kita, kamu gak kasihan sama Genta. Bagaimana pun dia butuh sosok ayah"


"Yang membuat Genta kehilangan ayah bukan aku, tapi kamu!!"


"Ranii" Akmal memegang kedua bahu Rani begitu kuat "Kalau aku poligami, Genta tidak akan kehilangan ayah, begitupun anak Sandra"


Rani menepisnya "Pergi dari sini, pergiii!!"" Usirnya.


"Rani, tolong Kamu pikirkan lagi, cerai bukan satu satunya solusi untuk masalah kita saat ini" Akmal masih berusaha membujuk.


Akmal menatap istrinya yang begitu marah, dia tidak habis fikir, kenapa Rani bisa bereaksi berlebihan seperti ini, padahal Akmal ingin memberikan solusi untuk masalahnya selain bercerai.


"Oke. Kalau itu mau mu" akhirnya Akmal pasrah sendiri setelah melihat sikap keras kepala Rani.


"Cepat pergi!!!" Pekiknya.


"Aku tidak akan pergi sebelum aku bawa Genta" Akmal berjalan menaiki tangga tapi tangannya di cekal dengan kuat oleh Rani.


"Aku gak akan biarin kamu bawa Genta!!!" Sergahnya.


"Kamu jangan egois, Genta akan lebih bahagia sama aku" Akmal ikut mengotot.


"Gak, aku yakin Genta akan ikut aku, setelah dia liat penghianatan dari papanya, apa kamu pikir Genta akan mau tinggal sama kamu dan wanita murahan itu!"


"Kamu mau cerai kan, aku akan nurutin kamu, tapi Genta akan ikut aku" Akmal tetap ngotot.


"Aku gak akan biarin kamu nyentuh Genta" Rani berjalan cepat dan menghadang jalan Akmal.


Lelaki itu hampir naik pitam, dia menyingkirkan tubuh Rani, namun dengan kekuatannya, Rani berusaha tetap berdiri untuk melindungi Genta agar tidak jatuh ke tangan Akmal.


"Minggir aku mau ketemu sama anakku" kata Akmal berusaha keras menyingkirkan Rani yang sedang mengeluarkan segala kekuatannya.


"Gak" air mata Rani sudah terjun "Kamu udah punya anak dari wanita lain, jangan ambil Genta dari aku" cegahnya.


Genta terus tutup telinga saat mendengar keributan orangtuanya yang memecah gendang telinga itu, nafas Genta sampai begitu sesak, Genta terduduk di belakang pintu sambil menutup telinga dengan telapak tangannya.


Suara cekcok Rani dan Akmal itu bagaikan sembilah pisau yang terus menghujani tusukan di sekujur tubuh Genta. Air mata Genta pun tidak lagi bisa dibendung, lelaki itu sudah menangis, menutup rapat rapat telinganya agar tidak mendengar suara makian serta teriakan dari kedua orang tuanya.


"Mas mbak, HENTIKAN!!!" Genta mendengar suara Ghina yang melerai pertikaian itu.


"Hentikan, mas sama mbak bisa bikin mental Genta down" kata Ghina berjalan mendekati mereka.


Rani menghembuskan nafas sambil berpegang pada tangga, dia ingin mencari penyangga agar bisa berdiri dengan tegak. Sedangkan Akmal lelaki itu mengusap wajahnya begitu kasar.


"Jangan ikut campur dengan urusan ku Ghina" peringati Akmal.


"Aku harus ikut campur !!" Ghina mendekati Akmal "Ini masalah ponaanku, masalah rumah tangga kakakku, aku gak akan tinggal diam"


"Seharusnya kamu bantuin mas untuk dapetin hak asuh Genta"


"Mas gila" Rani ikut naik satu tangga "Dalam kondisi seperti ini, mas seharusnya lebih bisa menjaga hati Genta, bukan malah bertengkar seperti ini"


"Kamu mau bela mbakmu ternyata" Akmal geleng geleng melihat adik kandungnya.


"Aku gak bela siapa siapa, terutama kamu mas, suami yang tega ngehianati istri sendiri" Ghina sampai menunjuk kearah wajah Akmal sangking emosinya.


"Mending sekarang kamu pergi mas, kamu pergi buat tenangin otak kamu yang udah mulai geser"


Rani menggigit bibir lalu mendongakkan wajah.


"Pergi dari sini, jangan berani beraninya kamu injakan kaki di rumah aku lagi" usir Rani pada Akmal.


"BERANI KAMU NGUSIR AKU, HA !!!" Akmal mengangkat tangannya, hingga Rani menutup mata.


"PERGI MAS, PERGI DARI SINI" teriak Ghina "Sebelum Genta ngeliat kelakuan busuk papanya"