
"Seharian Genta gak pulang, nyokapnya nyariin dirumah gue" kata Eles ketika sore itu mereka kumpul di rumah Irvan.
Yah semenjak perkelahian terakhir kali antara Gara dan Genta, Gara jadi tertutup, bahkan tadi disekolah dia tidak kekantin, hanya sibuk menggoda Elis, bendaharanya.
Sepertinya Gara sedang melampiaskan semua kekesalannya dengan menggoda Elis yang mudah dibuat marah hanya karena kata kata sederhana, anehnya Eles melihat tawa Gara disana, jadi Eles tidak memaksa ketika Gara menolak pergi kekantin pak Tab.
"Dia gak kerumah gue setelah itu, emang dia gak balik?" Tanya Irvan meletakkan gitarnya.
Eles menggeleng "Tadi pas pulang sekolah nyokapnya kerumah gue" Eles bersidekap.
"Tu anak ada ada aja masalahnya, kalo gue jadi Genta paling gue udah bunuh diri" celetuk Irvan asal.
Ketika tiga menit dari kalimat Irvan, mereka berdua saling pandang lalu kompak berdiri dengan cepat.
"Kita cari kerumah Gadis dulu" saran Eles.
Yah, setelah kalimat Irvan mereka memikirkan kemungkinan kemungkinan yang membuat Genta tidak pulang. Tepat di luar, Antar datang membawa dua kotak makanan, ketika melihat Eles dan Irvan justru hendak pergi, Antar mencegahnya.
"Mau kemana bang, gue baru aja dateng" hadangnya.
"Eh ampar ampar pisang Lo mau ikut gak. Kita mau nyari Genta" kata Irvan buru buru kearah mobil.
"Ikut, emang bang Genta kemana?"
"Kita juga kagak tau ampar" jawab Eles.
🏡🏡🏡
Didepan rumah Gadis, mereka memecet bel berulang ulang. Tidak lama Gadis keluar dengan hanya berpakaian sederhana, matanya tampak sembab.
"Lo tahu dimana Genta?" Tanya Eles langsung pada intinya tanpa basa basi.
Gadis mengernyitkan dahi, Genta? Bahkan setelah kemarin malam mereka berkelahi, Genta tidak menghubungi sama sekali, dan itu yang membuat Gadis merasa kecewa.
"Gue gak tahu" kata Gadis "emang kemana Genta?"
"Kalo kita tahu kita gak kesini kak" jawab Antar mewakili mereka berdua.
"Genta udah gak balik dari semalam" katanya Irvan "terkahir kita ketemu pas mereka berantem sama Gara di rumah Gara"
"Genta berantem lagi" Gadis tampak kaget.
"Lo mungkin kaget denger ini Dis, tapi eee" Eles memandang kearah Irvan, meminta pendapat akankah memberitahu atau tidak.
Irvan mengangguk, lebih baik Gadis tahu daripada tidak, akan ada masalah lain lagi jika Gadis tidak tahu apa apa.
"Benua ternyata anak papanya Genta"
"Apa?" Gadis tampak tidak percaya "maksudnya?"
"Tante Lisma sama Om Akmal, mereka selingkuh" Eles menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kita cari Genta sekarang" kata Gadis buru buru masuk kedalam rumah untuk mengganti pakaiannya.
🏡🏡🏡
Genta duduk selonjoran diatas sofa sambil menatap arah depan, dia berada di club kumuh di area Jakarta, uang yang dia dapat selama ini dari Akmal dia hamburkan disini. Alkohol, rokok dia sudah menghabiskannya dari semalam. Genta butuh pelampiasan, benar benar membutuhkan ini semua untuk lupa masalahnya.
Genta butuh ruang sendiri, dia sudah memesannya dari semalam, sebuah ruangan kosong yang dipenuhi alkohol dan rokok, juga dentuman musik dari arah luar. Genta duduk di sofa, menatap arah depan dengan tatapan kabur.
"Mau nyoba" seorang pelayan memberi kode melalui gigitan jempol.
Dia sedang menawarkan narkoba, tapi Genta menggeleng sambil mengusir dengan tangannya. Genta mengambil sebatang rokok, menjepitnya di area bibir dan menyulut dengan korek. Dihisapnya rokok itu dalam dalam, tidak ada bayangan mengenai Akmal hari ini. Tidak ada apapun dari masalahnya, setiap bayangan Akmal datang, Genta lantas menghapusnya dengan meminum alkohol.
Ponsel yang berada di sakunya dia rogoh, Genta lalu menghidupkannya. Ada banyak pesan yang masuk di sana, tapi tidak ada yang menyedot perhatian Genta.
Genta melemparkan ponsel itu disisi sofa, lalu menuangkan alkoholnya lagi. Genta hanya ingin membuang bayangan mengenai penghianatan Akmal di dirinya, Genta ingin membuang semua.
Ketika sudah habis, Genta bangkit, meski kepalanya tampak berat dia meraih ponsel dan memasukannya ke saku, lelaki itu berjalan dengan terhuyung. Meski begitu Genta tetap bisa keluar dari dalam club, ah langit masih tetap sama seperti pertama kali dia masuk ke club ini.
Masih ditaburi bintang bintang yang gemerlap, Genta tidak menyangka semesta tetap seceria ini bahkan di saat dia hancur.
Genta berjalan kearah motornya tapi limbung, lelaki itu jatuh di depan club.
"Ha ha ha" Genta justru tertawa karenanya.
"Gentaaaa"
Genta menoleh ketika namanya dipanggil, dia melihat Gadis berjalan kearahnya, entah kenapa ilusi kali ini terasa begitu nyata. Gadis mendekapnya dari samping dan Genta tertawa karena itu.
"Lo masih pakek seragam SMA tapi ke club, kalo ada polisi gimana Taa?" celoteh Irvan yang terlihat kabur di mata Genta.
"Astaga bau alkohol lagi" Eles mengambil rokok yang terselip di mulut Genta dan membuangnya.
Namun sisa asap itu di hembuskan Genta, lelaki itu terlalu lemas untuk melihat sekeliling.
"Bang Genta panutan gue kenapa berubah kayak gembel gini sih" Antar tidak percaya saat melihat Genta, bahkan darah mimisan semalam saja sampai mengering di wajah Genta.
Benar benar buruk, Gadis menangkup wajah pacarnya, tisu basah yang selalu dia bawah di tas kecil itu dia keluarkan dan Gadis mengusap wajah Genta secara perlahan.
Genta masih menutup mata, untuk sekadar membukanya dia sudah tidak mampu, tapi Genta merasa sesuatu dingin mengenai kulit wajahnya.
"Kita bawa kerumah gue aja" saran Irvan "Kalo dibawa kerumahnya, gue takut nyokap Genta shok" kata Irvan.
"Untung aja dia ngidupin HP, kalo gak mungkin kita gak bisa lacak GPS dia" keluh Eles penuh syukur.
Gadis menatap wajah Genta yang begitu berantakan, hatinya merasa miris sendiri. Genta terlalu banyak menanggung semuanya, Genta terlalu sakit sampai bingung mengeluh nya dalam bentuk apa lagi. Genta terlalu rapuh untuk menanggung ini semua.
🏡🏡🏡
Genta tetap memejamkan mata meskipun tadi Irvan dan Eles memaksa mengganti pakaian yang sudah dua hari melekat di tubuhnya. Kali ini giliran Gadis yang merawat Genta, perempuan itu menatap mata tertutup Genta. Dia mengelus wajah pacarnya.
"Dis" panggil Irvan.
Gadis menoleh, menatap wajah Irvan yang juga sama khawatirnya seperti Eles dan Antar.
"Gue boleh minta tolong" Irvan duduk disisi ranjang "Dampingin Genta untuk saat ini, gue rasa cuman elo yang bisa paham apa yang ada di hati Genta"
Eles berdehem "Besok orang tua dia resmi cerai, gue yakin Genta bener bener rapuh saat ini," Eles menunduk sangking tidak menyangka dengan apa yang sudah di lalui Genta seorang diri.
"Lo__" Irvan hampir berkaca kaca hanya untuk memohon ke Gadis, Genta sosok teman yang hampir tidak pernah mabuk dan merokok, lelaki itu selalu ceria dengan tawanya, selalu memberi support dan selalu menyemangati.
Tapi melihat Genta saat ini, ini bukan Genta yang mereka kenali, Genta benar benar sudah menunjukan sisi hancurnya.
"Lo bisa nahan ego Lo sebentar buat maafin Genta, kita gak jamin Dis bisa disisi Genta dan paham apa yang dia rasain" lanjut Irvan.
Gadis dengan mantap mengangguk, berada di sisi Genta akan selalu dia lakukan dengan kekuatannya.
🏡🏡🏡
Genta mengernyitkan dahi, perutnya seperti dipeluk sesuatu. Genta membuka mata dan pandangannya kabur, kepalanya terasa berat. Genta menatap sekeliling, tempat yang tidak dia kenali. Lalu Genta menoleh ke arah samping dimana wajah damai Gadis sedang tertidur disebelahnya, perempuan itu memeluk Genta begitu erat.
Genta menemukan kedamaian dari wajah Gadis, segala pusing yang menderanya terasa hanya mainan saja. Kini tangan Genta mengusap wajah Gadis, dia mencintai perempuan disebelahnya.
"Genta" Gadis yang merasa di usap akhirnya membuka mata.
Gadis hendak berdiri tapi di peluk erat oleh Genta. Efek alkohol belum sepenuhnya hilang, Genta mendekatkan bibirnya dan melumut bibir Gadis dengan halus.
Entah kenapa justru Gadis terbuai karenanya. Genta melepaskan pungutan itu dan melepaskan bajunya.
Oh, malam ini mereka benar benar kehilangan kesadaran. Genta sudah menciumi semua bagian tubuh Gadis, tapi lelaki itu sepenuhnya sadar apa yang Genta lakukan. Ketika Gadis mendesah untuk meminta lebih saat itu juga Genta mencium tekuk Gadis dan memeluk perempuan itu dari belakang.
"Gue sayang elo Dis"
"Kenapa berhenti?" Tanya Gadis ketika Genta hanya memeluknya dan tidak melakukan hal lebih yang diharapkan Gadis.
"Karena aku sayang sama kamu"
Gadis membalikan badannya sehingga mereka berhadapan. Mata sendu Gadis sudah dipenuhi nafsu saat ini.
"Tapi aku mau Ta, kita lakuin sekarang" katanya.
Genta mencium bibir Gadis sekilas lalu memeluk perempuan itu.
"Gak sekarang Dis, kita masih punya banyak waktu" katanya.
Genta mengambil switer yang tadi dilepaskan Genta, lalu memakaikan untuk Gadis, dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Genta memeluk Gadis dari belakang dengan erat, rasanya masalah tadi, masalah yang menimpa Genta musnah hanya dengan memeluk perempuan ini.