
Gadis mengurai pelukannya dan menatap wajah bengkak Genta. Kemarin setelah Genta berkelahi dengan Gara, luka diwajahnya belum sempat di obati. Gadis menatap tidak percaya kearah kekasihnya, kenapa Genta seberantakan ini.
"Kita obati luka kamu dulu ya" kata Gadis hendak beranjak namun tangannya dicekal kuat oleh Genta.
"Gue_gue gak papa"
Irvan menghela nafas kasar mendengar itu, berapa kali telinga lelaki itu mendengar kata dia baik baik saja nyatanya yang terlihat dimata Irvan adalah kehancuran Genta. Kenapa lelaki itu tidak terbuka sedikit saja?.
Irvan berjalan mendekati Genta dan merendahkan tubuhnya untuk mengimbangi Genta yang sedang bersandar di tembok.
"Sampai kapan Lo kayak gini?" Tanya Irvan dengan suara tegasnya "sampai kapan Lo mau nipu kita semua, Lo bilang gak papa ke kita tapi yang Lo lakuin kayak gini" Irvan menggeleng tidak percaya.
"Gue tahu Lo hancur, gue tahu Lo rapuh, gue tahu Lo pengen ngeluh, kenapa gak Lo keluarin semuanya, kenapa Lo harus nipu kita semua?" Nada suara Irvan Menaik.
Pandangan Genta terangkat dan menatap Irvan, tatapan yang masih sama, rapuh dan tidak bertenaga.
"Ta, kita semua tahu Lo hancur, kita semua nunggu elo buat cerita dan ngeluarin semua yang elo rasain, bukan malah diem sendiri dan nyiksa diri elo" imbuh Irvan.
Genta menggeser tatapannya, meski begitu tidak ada niatan untuk mengeluarkan perasaan yang dia rasakan. Tidak, sebenarnya ada begitu banyak cerita yang ingin Genta sampaikan. Tapi semuanya rapat terkunci didalam hatinya, memulainya? Genta bahkan tidak tahu kata apa yang bisa mengawali untuk bercerita, kalimat mana yang mampu menggambarkan lukanya.
Bayangkan saja, kenyataan runtuhnya keluarga Genta benar benar menghantam batinnya ditambah kenyataan bahwa adik temannya sendiri adalah buah hati ayahnya.
"Van, jangan paksa orang yang gak mau cerita buat cerita" tekan Gadis ketika menatap wajah pias Irvan.
Gadis tahu Irvan kecewa dengan sikap bungkam Genta, Gadis tahu lelaki itu ingin mengulurkan tangan kearah sahabatnya. Tapi terkadang seseroang hanya bisa diam untuk mengubur masalahnya.
Irvan menghela nafas dari mulutnya, padangannya menatap Genta yang tidak menatap kearahnya, Irvan kembali bangkit.
"Kita kebawah dulu Dis" kata Irvan yang langsung mendorong bahu Eles dengan pelan untuk keluar dari kamar Genta.
Sepeninggalan Irvan dan teman temannya, Gadis lantas mengelap tangan Genta yang terluka, mengobatinya dengan telaten, juga tidak lupa memberi salep di beberapa luka memar diwajah Genta.
Gadis hanya bisa menghela nafas pasrah saat Genta hanya diam saja dengan tatapan sekosong itu. Tidak ada tenaga sama sekali bahkan yang dilihat Gadis terhadap Genta, Genta terlalu lemas hanya untuk bergerak.
"Kamu udah makan?" Tanya Gadis.
Genta menggeleng dengan lemah, makan? Ah Genta lupa kapan terakhir dia makan, kemarin, semalam atau lusa. Yang dia ingat semua makanan sudah dimuntahkan Genta saat dia mabuk berat kemarin.
"Kamu mau aku masakin? Bubur, sup atau___" kalimat Gadis terhenti saat Genta perlahan berdiri menuju kasurnya.
Genta menatap mata Gadis, lelaki itu menatapnya dengan tatapan yang masih sama.
"Kamu pulang aja. Aku mau tidur" katanya sudah merebahkan diri dan menutup mata nya dengan lengan.
Gadis menarik nafas begitu sesak melihat sikap Genta seperti ini, sikap yang begitu acuh pada dirinya sendiri. Gadis bergerak untuk keluar, perempuan itu berjalan pergi tapi tidak menutup pintu kamar Genta.
Merasa kalau Gadis sudah tidak ada di kamarnya, Genta perlahan menjauhkan lengan tangan dari matanya. Dia kembali menyapu langit langit kamar dan kembali menegakkan tubuhnya, Genta menarik laci meja, mengambil obat tidur.
Genta mengeluarkan 4 Pill dan meletakkan ke telapak tangannya, overdosis? Ayolah jangan bercanda, Genta tidak perduli apapun saat ini. Kalau saja bernafas tidak disetel otomatis oleh tubuhnya mungkin Genta memilih tidak akan bernafas. Lelaki itu meneguknya tanpa air, meski awalnya terasa sesak di area dada perlahan obat itu meluncur bebas dengan dorongan dari air liur Genta sendiri.
🏡🏡🏡
Melihat Genta bernafas secara teratur, Gadis tak kuasa menahan tangisnya, Gadis begitu menyayangi lelaki yang memiliki kaki panjang ini. Begitupun Irvan, matanya bergerak bergantian menatap kearah botol obat dan Genta.
"Gimana kata nyokap elo, obat apa yang dikonsumsi Genta?" Tanya Eles begitu lirih kearah Irvan.
Lelaki itu menoleh kearah Eles, dan menyodorkan ponsel yang baru saja mendapatkan balasan dari mamanya
"Obat tidur" gumam Antar.
Eles menghela nafas "Dia bener bener kacau" lirihnya.
"Bang Genta padahal jadi panutan gue. Tapi ngeliat dia kayak gini gue kasihan banget" kata Antar melihat wajah tidak berdaya dari Genta
Gadis masih terisak dalam diam, sedangkan Irvan bergerak memunguti benda benda yang berhamburan di kamar Genta. Disusul Antar dan Eles, mereka membersihkan semua barang dikamar Genta, membuang pecahan kaca dan merapikan buku buku yang berserakan.
Hampir selesai, Irvan justru diam membisu menahan tangis.
"Kenapa kita jadi kayak gini ya?" Lirih Irvan yang didengar oleh Eles.
"Seharusnya orang yang hancur itu bukan Genta atau Gara. Tapi papanya Genta" Irvan menatap kearah Eles yang berhenti memunguti pena.
Antar hanya menatap kearah Irvan, menatap wajah Irvan yang memerah karena menahan marah.
"Karena yang jadi korban itu orang paling tersakiti" kata Eles.
Lelaki itu menatap kearah Irvan yang seperti tidak terima melihat Gara dan Genta harus bermusuhan, melihat kedua sahabatnya merintih sakit hanya karena nafsu seseorang.
"Van, ini proses kita, gue harap kita tetep pegangan tangan didalam masalah kayak gini" imbuh Eles.
"Tapi masalahnya, Gara sama Genta, mereka jadi saling benci satu sama lain" Irvan menyeka keringat yang tiba tiba menetes "Padahal kita punya target mimpi, gara gara___" Irvan berhenti, dia tidak mampu menjabarkan kesalahan Akmal yang terasa menyakitkan untuk mereka.
Eles mendekati Irvan. Menepuk bahu lelaki itu dan mencengkramnya dengan kuat.
"Yang perlu kita lakuin saat ini cuman ada disebelah mereka" kata Eles.
Antar menatap itu. Menjadi saksi bahwa perjalanan Kera band sangat hebat. Beruntung Antar menjadi bagiannya. Lelaki itu melangkah mendekati Irvan dan ikut melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Eles.
"Lo ngapain?" Irvan menepis tangan Antar.
"Biar kompak bang, kan kita satu band" cengirnya tanpa dosa.
Kehadiran Antar ini bagi Kera band sebagai obat, dalam kondisi apapun Antar selalu bisa menjadi penghibur untuk mereka, buktinya kini wajah Irvan mulai kembali cerah dengan senyum nya.
Obat tidur yang tadi di letakkan diatas meja kini di buang oleh Eles. Lelaki itu kembali memunguti kertas kertas yang ikut berhamburan dan berhenti bergerak saat membaca satu surat dari rumah sakit.