
Karena hari ini wekend Genta berniat untuk tidak bangun pagi, namun sayang, begitu telinganya mendengar suara Rani memotong sayuran, Genta membuka mata. Pandangannya menyapu langit langit kamar. Dia menguap lebar lalu menoleh kearah meja dan mencari ponsel.
Sial, hari ini dia janji akan menemani Akmal bermain golf. Dengan berat hati, Genta masuk kedalam kamar mandi. Setelah selesai lelaki itu mencari pakaian yang pas untuk dirinya, dengan balutan handuk saja Genta memilih baju di lemari, setelah selesai kaos putih yang akan dia balutkan dengan jaket jeans menjadi pilihannya.
Genta menoleh kearah jam dinding, pukul 9 pagi, dia bergegas turun setelah mengenakan sepatu Vans nya. Pada undakan tangga terakhir dia mendapati Rani sudah selesai menghidangkan makanan.
"Sarapan dulu Ta" ajak Rani.
Genta menggeser kursi dan duduk, Rani sudah mengambilkan lauk Pauk yang akan dimakan anaknya.
"Papa mana?" Tanya Genta disela dia mengaduk sarapannya.
"Papamu udah berangkat dari tadi, katanya kamu ditunggu di kantor papa"
Genta hanya mengangguk saja dan memilih melanjutkan sarapan. Hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring saat ini.
"Gen" ditengah tengah suapan, Rani memanggil putranya.
Genta hanya mendongak saja tanpa bersuara, matanya menatap Rani yang tidak menatap kearahnya.
"Kamu masih temenan sama Gara?" Tanya Rani lalu memasukan sesuap nasi ke dalam mulut.
Genta memicingkan mata, tumben Rani bertanya perihal kehidupan pribadinya.
"Masih, kenapa?"
Rani menarik seulas senyum kearah putranya, meski begitu Genta merasakan sorot mata Rani adalah sorot yang tidak menjelaskan pertanyaannya tadi sebagai pertanyaan biasa.
"Gak papa, Mama cuman jarang liat kalian berdua" jawabnya.
"Kita sering ngumpul di rumah Gara" Genta memilih tidak ingin peduli dengan pertanyaan Rani, dan menganggapnya hanya pertanyaan biasa saja.
🏡🏡🏡
Genta sudah berada dikantor Akmal saat ini, lelaki itu menyandarkan motor dan berjalan masuk kekantor. Ketika di lobi , Genta bertemu dengan Lisma yang rapi dengan setelan kerja.
"Tante" karena merasa kenal Genta menyapanya lebih dulu.
Langkah Lisma terhenti ketika melihat Genta, perempuan itu menarik sudut bibir begitu paksa. Entah kenapa ekspresi Lisma selalu tidak semenyenangkan itu.
"Tante habis rapat sama papa?" Tanya Genta.
Lisma memiliki beberapa saham di perusahaan Akmal, dan Genta juga tahu bahwa perusahaan Akmal dan Lisma sudah bekerja sama beberapa tahun.
"I-iya" jawabnya sedikit terbata "Saya duluan" pamitnya terlihat tergesa gesa.
Genta hanya bisa melihat Lisma dengan aneh, mamanya Gara memang seperti itu, terlihat pemalu. Tidak lama Akmal turun dari lift sudah menggunakan pakaian santai.
"Ayo berangkat" ajaknya.
"Tadi aku ketemu sama mamannya Gara, ngapain dia disini?"
Akmal menghentikan langkahnya dan tersenyum "Kamu lupa, golf ini bukan murni olahraga tapi bisnis, nah Lisma itu dia punya beberapa persen saham di perusahaan kita, jadi dia ikut andil dalam usaha ini" Akmal menatap Genta.
"Kamu perlu ingat ini sebagai penerusnya papa, kalau cara menaklukan musuh adalah dengan menjadi temannya" kata Akmal sudah berjalan.
Genta belum paham istilah bisnis semacam ini, yang dia bisa tangkap bahwa Lisma memiliki saham dan ada meeting barusan. Genta mengikuti langkah Akmal keluar perusahaan.
🏡🏡🏡
Dilapangan hijau yang terbentang luas, ternyata dia tidak sendiri. Didepannya berdiri laki laki seumuran Akmal yang mengenakan topi dan kaos warna putih, disamping lelaki itu berdiri laki laki yang tidak ingin dia lihat, Roy Kiyoshi maksudnya Roy Abimanyu Basupati.
"Ini anakku, dia kelas 3" ucap Akmal memperkenalkan Genta pada rekannya.
"Aku banyak dengar tentang dia, anak band, terkenal, ponaanku aja sampe suka sama band dia" lelaki itu tersenyum dan menyalami Genta.
"Genta Om" perkenalannya pada lelaki berkaos putih itu.
"Kalo ini anakku, dia juga kelas 3, sama sama sekolah di SMA Sevit, aku rasa mereka sudah kenal" lelaki itu menepuk bahu Roy.
"Kenal pa, siapa yang gak kenal Genta Edenata anak pak Akmal" Roy tampak tersenyum mengejek.
Sialan, batin Genta.
"Kamu juga terkenal. Om dengar kamu ketua OSIS ya"
Roy senyum malu malu, dan Genta terlihat muak untuk itu. Basa basi itu tidak berjalan lama, karena Akmal dan ayah Roy sudah pergi untuk melancarkan bisnis sambil bermain golf. Sedangkan Roy dan Genta, setia mengikuti ayah mereka.
Genta sudah jengah hanya mendengarkan suaranya saja.
"Gue juga gak nyangka, kalo nanti perusahan kita akan bekerja sama" nada Genta mengejek.
Roy tertawa "Termasuk bekerja sama dapetin Gadis"
Mendengar nama pacarnya disebut, Genta lantas menarik kerah baju Roy, lelaki itu hampir saja melayangkan pukulan andai Akmal dan ayah Roy tidak menoleh nya. Genta melepaskan itu dan mengusap kerah Roy.
"Lo deketin Gadis, gue gak akan segan segan bunuh elo" peringati Genta.
"Gue suka sama Gadis" aku Roy.
Genta hanya menatap Roy, dia tahu saat ini Roy ingin memancing amarah Genta.
"Tapi dia suka sama gue"
"Mungkin gak akan bertahan lama" Roy nyengir.
Genta tidak ingin menggubris nya, lelaki itu melangkahkan kaki, namun suara Roy membuat langkahnya berhenti.
"Kalo Lo sampe nyakitin Gadis, gue gak segan segan buat ngerebut dia" Roy berjalan dan berhenti disebelah Genta "Lo tahu, cewek mudah suka sama orang yang peduli sama dia" dan Roy sudah pergi.
Kepergian itu disusul Genta, karena Akmal mengajaknya untuk beristirahat meminum teh. Genta hanya menurut, lalu ketika mereka sudah sampai di peristirahatan, Akmal dan ayah Roy tampak begitu akrab, sesekali mereka tertawa.
"Baik, aku akan menjual beberapa persen saham ku" ujar ayah Roy "Dan aku akan setuju untuk menandatangi kerja sama perusahan kita"
Wajah Akmal tampak begitu antusias, sungguh wajahnya begitu cerah.
"Terimakasih, perusahan kami akan melakukan dengan sebaik baiknya" dan mereka berjabat tangan.
🏡🏡🏡
Acara yang membosankan untuk Genta ini berlangsung selama empat jam lebih, Genta hanya melihat Akmal dan ayah Roy bermain golf sesekali membahas mengenai bisnisnya.
Kini setelah terjebak di situasi yang tidak Genta sukai, Akmal dan Genta sudah keluar dari lapangan golf dan berniat kearah parkiran. Tapi tidak jauh dari mobil Akmal, lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Kamu bisa pulang sendiri kan Ta?" Tanya Akmal.
Genta melirik ke arah mobil, ternyata didalam sana ada seorang perempuan yang sedang duduk didalam. Genta sudah tahu tanpa melihatnya, jika wanita itu adalah perusak rumah tangga orangtuanya.
"Terserah" Genta segera pergi, dia pergi mencari taksi untuk ke perusahaan Akmal dan mengambil motornya disana.
Selama didalam taksi pun, Genta hanya diam, dia merogoh earphone yang selalu dibawanya, kemudian mengecek sesuatu yang selalu dia tonton, apalagi kalau bukan Vidio mengenai Akmal.
"Kamu kenapa tiba tiba Dateng kesini?" Akmal yang baru mendaratkan bokongnya langsung menyerang Sandra dengan pertanyaan.
"Aku mau kita putus" kata Sandra terdengar kaku.
"Sandra kamu gila, gimana sama anak kita?"
"Aku udah capek jadi selingkuhan kamu, kamu janji bakalan nyerai in Rani, tapi nyatanya?"
"Sandra, kamu tahu kan, kamu satu satunya wanita yang aku sayang di dunia ini" Akmal menggenggam tangan Sandra "Aku gak bisa hidup tanpa kamu"
Sandra menepisnya "Kalau gitu ceraiin Rani sekarang juga!!"
"Aku gak bisa sekarang, aku harus dapetin Genta, aku gak mau Genta jatuh ke tangan Rani"
"Kamu bisa relaiin Genta, kita bisa hidup bertiga, kamu, aku dan anak kita" Sandra menatap kearah Akmal.
"Aku gak sanggup kehilangan Genta, aku gak sanggup kalau Genta benci sama aku"
Sandra membuang muka "Kalau gitu kita putus aja"
"San, jangan siksa aku Sandra, aku sayang sama kamu" Akmal berhenti, dia menatap wajah Sandra "Kalau kamu mau putus, terus gimana sama anak kita?, kamu mau dia gak punya ayah?"
"Aku akan aborsi dia" dengan mata penuh kemantapan, Sandra menatap Akmal.
"Jangan bertindak bodoh, dia anakku"
"Kalau gitu kamu pilih aku atau Rani" Sandra lantas keluar dari dalam mobil dan dikejar Akmal.
Mendengar itu nafas Genta terasa sesak, Genta takut. Sungguh, dia merasa takut jika akhirnya Akmal akan memilih Sandra, pada akhirnya semua ketakutannya akan menjadi nyata.