Why Me?

Why Me?
Why Me? 58



Genta terus berjalan begitu cepat, ketika dia berbelok kearah toilet tidak sengaja dia bertemu dengan Windi, tatapan Windi begitu sendu menatap kearahnya, perempuan itu tersenyum, sangat manis namun Genta terus berjalan karena terlalu kesal. Dia masuk kedalam salah satu toilet, lalu menutup pintu dengan begitu keras, didalam sana berulang ulang, Genta memukul dinding begitu kuat.


Dadanya yang tadi terasa sesak dia lampiaskan melalui pukulan dengan bertubi tubi, rasa sakit? Ah Genta tidak merasakannya, dada sesak nya yang perlu dia usir saat ini.


"Sialan, brengsek, ********, asuu" umpat Genta bertubi tubi.


Setelah merasa tulang jari jemarinya terasa sakit, Genta berhenti, dia terduduk jongkok sambil menarik rambutnya dengan begitu kasar


"Kenapa elo diem aja Ta, kenapa elo gak jawab kata kata Gara tadi, kenapa??" Raung Genta lemah.


"Lo tahu kalo Lo gak salah, Lo tahu kalo itu bukan kesalahan elo tapi kenapa elo diem aja?"


"Dasar ****, ****"


Genta menghujani pipinya dengan tamparan yang begitu keras.


"Lo **** Ta"


Plak


Plak


Plak


Tamparan itu tidak henti hentinya dia berikan ke pipi nya sendiri. Genta terlalu kesal dengan dirinya yang tetap diam meskipun tahu Gara memakinya begitu kasar.


Tamparan itu berubah melemah, Genta mendongak untuk menghalu air mata. Saat bayangan senyum Gara yang merangkulnya dari samping membuat dadanya kembali berdesir. Jujur dia rindu Gara, merindukan lelaki yang penuh senyum itu, lelaki yang tetap mengeluarkan jokes ksatria untuk menghibur teman temannya.


"Gue gak salah Ra, gue juga benci bokap gue" lirihnya.


Genta mengusap wajahnya, menenggelamkan wajahnya disana.


"Permisi"


Dok dok dok


Suara pintu toilet yang tertutup di pukul pukul dari luar. Genta hanya menatap pintu yang bergetar karena pukulan itu.


"Woy buruan, Lo **** atau gimana sih, gue mau boker udah kebelet ini" kata seseorang dari luar.


Genta bangkit, dia merapikan rambutnya yang acak-acakan  lalu membuka pintu.


Ditatapanya Bagor yang sudah berdiri sambil memegangi perutnya. Saat melihat Genta keluar Bagor buru buru menerobos, dan itu jelas membuat Genta kesulitan keluar karena tubuh besar Bagor.


"Sialan, gue dulu yang keluar"


Akhirnya Bagor mengalah dengan mundur selangkah dan menunggu Genta keluar.


"Lo **** atau gimana sih Gen, lama banget, gue udah pengen pup ini" Bagor berjalan masuk kedalam dan menutup pintu.


"Sembarangan aja kalo ngomong" timpal Genta dari luar.


"Lagian el___"


Brutt


Saat suara menjijikan terdengar dari dalam Genta memundurkan tubuhnya untuk menjauhi toilet.


"Woy abis makan bangkai ya elo" Genta menjapit hidungnya dengan jari jemari.


"Kagak gue abis makan ban__"


Brut


"Nyak sam__bal" kata Bagor.


"Serah" Genta sudah berjalan meninggalkan toilet.


Saat dia berjalan beberapa meter, langkahnya kembali terhenti, dia kembali bertemu Gara yang kedua bola matanya memerah, rambutnya acak acakan, seragamnya pun sudah keluar bebas dari dalam celana, tidak ada dasi yang digunakan Gara seperti biasanya.


"Ra" panggil Genta mencegah Gara melangkah pergi.


Gara menoleh sejenak, menatap kedua bola mata Genta lalu dialihkan secara bebas.


"Sampai kapan elo mau kayak gini?, gue, elo dan semuanya juga tahu kesalahan ini bukan gue yang nyiptain" kata Genta masih berusaha menahan egonya.


Gara menoleh nya "Lo mau tahu kesalahan elo apa?"


Gara maju selangkah dan mendekati Genta, tatapan mata mereka bertemu , beradu bagaikan dua musuh yang ingin saling membunuh satu sama lain.


"Kesalahan elo karena elo lahir sebagai anak Akmal Azhar Pinaringan" tekan Gara pada setiap kalimatnya.


Kata kata itu. Kata kata yang sangat menyakitkan yang pernah Genta dengar, bahkan saat ini tanpa bisa dicegah lagi, air mata yang sudah setengah mati ditahannya terjun bebas. Genta tidak lagi perduli dia dimana, bahkan ketika banyak siswa melintas didepannya Genta tidak perduli lagi.


"Salah kalau gue lahir dari orang sebejat itu?" Tanya Genta "Gimana pun dia, dia tetep bokap gue"


"Dan elo bangga punya bokap otak mesum kayak dia!!"


"Kenapa gue salah? Akmal cuman otak selakangan"


Bugh


Genta memukul wajah Gara, pukulan itu berhasil membuat Gara limbung dan terjatuh diantara tanaman yang di tanam di dekat selokan. Gara terjatuh hingga seragam putihnya terkena sedikit genangan air yang berada tak jauh dari posisi jatuhnya.


Genta menatap dengan tatapan pias, meski begitu Gara masih bisa tertawa. Lelaki itu berdiri dan mengibaskan seragam nya yang kotor.


Beberapa siswa siswi yang tadi berteriak saat Genta meninju Gara menatap kearahnya tanpa berani memisahkan.


"Bilang sekali lagi, gue gak segan segan bunuh elo!" Ancam Genta.


"Seharusnya elo sadar diri, bokap elo gak lebih dari sampah" Gara menatap Genta.


"Nyokap elo jauh lebih murahan dari bokap gue" kata Genta.


"Brengsek"


Bugh


Gara menendang dada Genta hingga lelaki itu jatuh dan menabrak dinding, tak berhenti disitu, Gara menarik kerah Genta dan menindih lelaki itu.


Bugh


"Berani elo bilang gitu soal nyokap gue"


Bugh


Genta mendorong tubuh Gara dan membalas tinjuan yang dilayangkan Gara tadi.


"Karena nyokap elo yang udah mau selingkuh sama bokap gue, anjing"


Bugh


Bugh


"GENTAAAAA"


Sebuah tarikan di lengan Genta membuat lelaki itu berhenti dan menoleh ke dalang yang menarik tangannya.


"Taaaa" Irvan datang bersama Antar.


Lelaki itu lantas memisahkan keduanya, menarik Genta dan mendorong dada lelaki itu untuk sedikit menjauh dari Gara yang masih terbaring diatas tanah.


"Eh anjing Lo tahu ada orang berantem bukannya dipisahin malah di tonton" teriak Antar saat melihat beberapa siswa justru merekam aksi Genta dan Gara.


"Lo apa apaan sih, Lo tadi bisa bersikap dewasa kenapa sekarang malah kayak gini?" kata Irvan kearah Genta yang bahunya naik turun.


"Ra, lo gak papa?" Eles berusaha menolong Gara namun ditepis lelaki itu.


Gara berdiri dengan seragam SMA yang kotor, lelaki itu memandang kearah Genta.


"BUBAR KALIAN SEMUA, KALO ADA YANG BILANG MASALAH INI KE BK, LO LO SEMUA MATI" peringati Antar kearah siswa siswi yang bergerak untuk menjauh dari kerumunan.


Gadis menatap kearah Genta yang kini seragamnya tak kalah kotor. Hanya dengan melihat tatapan Genta dan Gara, Gadis bisa menyimpulkan kalau masalah ini akan semakin rumit.


"Kalian kayak bocah tahu gak" komentar Eles ketika keadaan sudah mulai sepi.


"Bang sekarang mending kita pergi dulu dari sini sebelum ketahuan guru BK" saran Antar.


Genta mengusap dahinya dan berjalan pergi begitu saja tanpa menghiraukan panggilan Eles maupun Irvan.


Setiap kali Genta melangkahkan kaki, dadanya terasa nyeri, kenapa hanya dia saja yang merasa seperti ini.


🏡🏡🏡


"Kamu ganti baju dulu" suara Gadis yang mendekati Genta diatas roftof membuat kepala Genta bergerak menatapnya.


Gadis tidak hanya datang membawa seragam olahraga melainkan juga tisu basah dan kotak p3k. Gadis ikut duduk disebelah Genta, perempuan itu tidak banyak bicara, wajahnya tertekuk kecewa meski begitu dengan telaten Gadis membersihkan wajah Genta.


"Kamu marah?" Tanya Genta.


Gadis hanya menggeleng lalu usapannya berhenti, perempuan itu menunduk dan terisak. Membayangkan bagaimana kemarahan Genta membludak tadi membuat Gadis takut sendiri. Genta adalah lelaki yang tidak pernah kasar, tapi tadi yang dilihatnya sungguh berbeda dengan Genta yang selama ini Gadis kenal.


"Hiks hiks" suara isakan itu membuat Genta semakin merasa bersalah.


"Hey, kamu kenapa?" Genta mengusap air mata Gadis.


"Aku takut kamu kenapa napa" akunya "Genta, jangan kayak tadi ya, aku gak mau kamu kayak gini, aku kangen Genta yang dulu, Genta yang sering ketawa, Genta yang gak pernah marah, aku kangen kamu Taaa"


Genta menelan ludahnya, lelaki itu menarik Gadis kedalam pelukan. Membiarkan Gadis menangis tersedu sedu didalam dekapan lelaki itu.


"Maaf" hanya kalimat itu yang lancar diutarakan Genta.


Saat menatap kearah pintu roftof Genta menatap Windi yang juga menatap kearahnya, perlahan Windi bergerak menjauh dan Genta hanya bisa memperdalam pelukan mereka.