
Sengaja, ketika pagi hari Genta buru buru kerumah Gadis, semalaman dia tidak tidur hanya untuk menunggu pagi hari. Saat menapaki tangga, Genta menatap sekilas Richard yang sudah ikut bergabung di meja makan.
"Tadi Om bawa__" suara Richard langusng dipotong dengan cepat oleh Genta.
"Maaf Om, bilangin Mama aku kerumah Gadis" dan Genta langsung mengambil helm didekat ruang tamu lalu berlari keluar rumah.
🏡🏡🏡
Genta sampai dirumah Gadis, saat matahari baru saja muncul, saat pedagang sayur baru saja berkeliling. Genta sudah berada didepan rumah Gadis, menatap rumah itu dari luar gerbang.
"Diss, Gadiss" teriak Genta begitu lantang.
Tidak ada sahutan sama sekali, rumahnya tampak sangat kosong. Ada kecemasan yang kini menghampiri dan mengetuk hati Genta.
Genta buru buru merogoh saku celana dan mendial nomor Gadis. Benda Pipih yang dingin itu ditempelkan di telinganya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi"
Genta menurunkan ponsel dengan lemas, perbincangan nya dengan Ana kemarin kembali terlintas. Apa Gadis pergi dan ikut ke Aceh bersama Ana?
"Dis, Gadiss" Genta menggoyangkan gerbang dengan tergesa gesa. Tidak, Genta tidak mau kehilangan Gadis.
"Genta"
Genta buru buru menoleh saat namanya dipanggil dari belakang. Windi datang dengan setelan kemeja rapi, dia menatap Genta dengan binar mata yang berbeda.
"Lo tahu dimana Gadis?" Tanya Genta buru buru.
"Gadis ke Aceh, kemarin sepulang sekolah dia sempet cerita ke gue"
Kalimat dari Windi benar benar membuat Genta lemas sendiri. Dia menatap kearah rumah Gadis dengan lemas.
"Sebenarnya Tante Ana udah prepare sejak kita UN, Gadis yang minta gue buat jangan ngomong ke elo" kata Windi.
Genta berpegangan pada gerbang rumah Gadis, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kontak dia, Lo punya? Nomor sama WhatsApp nya Gadis gak aktif"
Setidaknya Genta masih memiliki harapan untuk menghubungi Gadis.
"Gue gak punya Ta"
Genta tidak habis fikir dengan Gadis, kenapa perempuan itu bisa pergi dengan cara seperti ini. Apakah memutuskan dirinya memang menjadi rencana Gadis sebelum dia pergi?. Kenapa Gadis tidak pergi dengan baik baik saja. Berpamitan padanya, lalu meminta Genta menunggu kepulangan Gadis, atau meminta Genta menjemputnya, nanti saat Genta sudah siap menikah. Bukan begini.
"Genta"
Genta menatap kearah Windi yang mendekatinya sambil mengelus lengan Genta.
"Sabar ya, kalau jodoh gak kemana kok"
Genta hanya bisa mengangguk lalu dia menatap Windi membuka gerbang dan mengangkut sampah yang ada didalam sana, sampah yang sudah dikumpulkan Gadis sebelum dia pergi.
Genta hanya bisa menatap itu, menatap sampah yang dibawa Windi ke pembuangan komplek rumah Gadis. Lalu perempuan itu kembali lagi, menatap dengan penuh kasihan kearah Genta.
"Udah mau pulang Ta?" Tanya Windi kepada Genta yang masih terus menatap rumah Gadis.
Ditinggalkan Gadis itu membuat Genta kehilangan semangat dan minat, tatapannya sudah berbeda.
Perlahan Genta mengangguk dengan lemah.
"Ada yang mau gue omongin" Windi mendekati Genta, begitu dekat.
"Kayaknya Lo perlu tahu ini deh, he he," Windi cengengesan di akhir kalimat.
"Gue suka sama elo Ta"
Geseran bola mata hitam Genta bergerak, lelaki itu mengernyitkan dahi mendengar pengakuan Windi yang sama mengejutkannya. Suka? Bahkan tidak ada sedikitpun perasaan semacam itu untuk Windi.
"Gue__" Genta menggantungkan kalimatnya.
"Lo tenang aja. Gue lagi gak nembak elo kok" Windi tersenyum "Gue cuman mau elo tahu aja kalau gue suka sama elo"
Genta masih memandang Windi lekat, memandangi ekspresi perempuan itu, ada binar ketulusan yang baru saja Genta tangkap.
"Gadis udah tahu perasaan gue, sebelum hubungan kita merenggang, gue sama Gadis sempet berantem. Dia bilang ke gue, kalau gue akan jadi pelakor sama kayak nyokap gue" Windi menatap Genta, kini tatapannya berubah sedih, seperti baru saja terpukul dengan ucapan itu.
"Awalnya gue kesel. Karena temen yang paling gue percaya bilang kayak gitu ke gue. Tapi semakin hari, waktu gue sama elo masih sering ketemu, gue ngerasa perasaan ini semakin besar buat elo, bahkan gue pernah kepikiran buat ngehancurin hubungan kalian"
Genta kaget mendengar itu, apakah pertemuannya dengan Windi selama ini justru disalah artikan oleh perempuan itu?.
"Serius Ta. Waktu elo jauh, gue ngerasa kehilangan. Tapi gue juga berpikir, kalau gue ngehancurin hubungan kalian, itu artinya gue sama aja kayak nyokap gue, gue pelakor, Perusak hubungan orang" lanjut Windi "Makanya gue mutusin mulai saat itu buat jauhi elo, gue mutusin buat nyimpen perasaan ini"
"Kenapa elo jujur sekarang?" Tanya Genta.
"Karena gue mau pergi" Windi tersenyum diakhir kalimat. Lalu mendekati Genta dan memeluk lelaki itu sepihak.
"Makasih Genta. Karena udah ngehibur gue disaat paling sulit dalam hidup gue, berkat elo gue bisa ngambil keputusan paling berat" Windi berkata seperti itu didalam pelukan Genta.
Lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Genta yang mengeras, kaku dan pucat. Windi tertawa senang, menertawakan wajah Genta.
"Gue mau ke Singapur, nyokap gue nikah sama orang sana" Windi tertawa getir "inget gak. Perempuan yang nampar nyokap gue di rumah Eles?"
Genta mengernyitkan dahi, lalu potongan bayangan saat mama Windi di permalukan didepan rumah Eles kembali terputar.
"Nyokap gue berhasil ngerebut lelaki itu, jadi kita semua bakalan pindah ke sana" Windi tersenyum "dan bokap gue, gue udah laporin dia ke polisi, sekarang lagi di proses"
Windi mengenggam tangan Genta. Lalu memilih secara perlahan tangan lelaki itu. Tangan mantan sahabatnya sendiri.
"Mungkin kalau elo gak ngeyakinin gue waktu itu, gue bakalan tetep ada di kondisi ketakutan setiap malam, gue akan takut setiap ngeliat mobil bokap gue" Windi melepaskan genggamannya.
"Makasih ya Genta. Buat semuanya" kata Windi, terakhir kali dengan senyum paling mengembang selama hidupnya.
Kini, Windi berbalik badan, berjalan kearah mobilnya. Terkadang melepaskan seseorang yang kita cintai jauh lebih baik dibandingkan menyiksa diri kita sendiri.
🏡🏡🏡
Genta menerima kepergian Gadis, menerima keputusan itu. Selama Gadis baik baik saja, Genta akan merasakan hal yang sama. Genta akan berusaha mengikhlaskan apapun, tentang berakhirnya pernikahan Akmal dan Rani, permusuhan antara dirinya dan Gara, juga perginya Gadis dari hidupnya.
Genta duduk di meja makan, bersama Richard dan Rani. Menatap steak yang sudah Richard pesan untuk makan malam mereka.
"Ada yang mau om bicarakan" suara berat berwibawa milik Richard terdengar menggema.
Genta hanya bisa diam, menatap dengan seksama wajah kebule bulean milik Richard.
"Om, ingin membahagiakan mama mu" kata Richard.
Genta tidak perlu kaget. Atau merasa kaget atas ungkapan Richard barusahan. Dia sudah mempersiapkan diri untuk semua ini, mengikhlaskan dan menjalani apapun yang sudah digariskan Tuhan.
"Om bisa janji, gak akan nyakitin Mama?" Tanya Genta.
Richard mengangguk penuh mantap, dia memandang Rani dengan pandangan penuh cinta. Lalu tanpa malu menggenggam tangan Rani dan mengelus punggung tangannya.
"Perlu kamu tahu. Om seorang duda, dulu istri Om selingkuh dengan lelaki lain, jadi Om tidak akan menyakiti Mama mu, Om tahu bagaimana rasanya di sakiti"
Genta mengangguk lalu menarik nafas sedalam dalamnya dan menatap kearah Rani.
"Kalau Mama yakin, menikahlah"
Rani mengangguk, dari wajahnya penuh terimakasih dengan Genta. Rani berharap dengan mulainya hubungan dia dengan Richard bisa sedikit membuat dirinya kembali bangkit.
🏡🏡🏡
Genta dinyatakan lulus bulan lalu, dan seminggu yang lalu Rani dan Richard resmi menikah. Akmal sedang bahagia bahagianya bersama Sandra jadi tidak sempat datang ke pernikahan Rani. Lagipula Rani tidak mengundangnya.
Gara kuliah di Royal Collage of Art di Inggris tanpa berpamitan dengan Genta, tanpa menyelesaikan masalah mereka. Eles, tetap disana, di Kalimantan bersama keluarganya.
Irvan lelaki yang sudah menghancurkan masa depan perempuan lain kabur menyusul papanya di Amerika. Kuliah disana tanpa mau bertanggung jawab atas kehamilan Pelangi.
"Kamu yakin?" Rani membututi Genta sedari lelaki itu memasukan semua keperluan kedalam koper.
Genta mengangguk mantap lalu dengan senyum tulus menatap Rani.
"Genta gak kepengen ke UI atau kedokteran. Genta mau kuliah di Semarang" kata Genta kembali menyakinkan atas keputusannya.
"Ya, Mama bisa menerima kalau kamu gak mau kuliah di UI atau kedokteran" kata Rani terus membuntuti Genta "Tapi kenapa harus Semarang, itu jauh sekali Genta"
Genta berhenti melangkah. Lalu memasukan beberapa celana kedalam koper. Genta menatap Rani. Lalu tersenyum.
"Genta pengen belajar mandiri disana, Genta pengen bisa mengerti semua yang udah menimpa Genta"
"Taaa, kuliah kan bisa di Jakarta" bujuk Rani untuk membatalkan keinginan Genta.
Bahkan sedari semalam, Rani adalah orang yang tidak setuju atas keputusan Genta untuk kuliah di UNDIP, Semarang. Meskipun Genta menyakinkan akan baik baik saja tetap saja Rani tidak bisa melepaskan Genta. Putra tunggalnya bersama Akmal itu tidak pernah tinggal jauh darinya.
"Maa, kita udah bahas ini semalam, tolong ngertiin Genta"
"Mama, Mama takut kamu akan terjerumus ke pergaulan bebas"
Genta mengenggam bahu Rani dengan lembut, mengusapnya perlahan.
"Genta gak akan seperti itu, Genta janji" katanya.
Akhrinya mau tidak mau Rani melepaskan Genta dibantu Richard yang selalu menguatkan dirinya. Sengaja Genta pergi dari Jakarta, Genta ingin bisa memahami dan memaafkan semua orang disekelilingnya, termasuk melupakan Gadis jika itu bisa.
Karena berada di Jakarta tanpa teman temannya, mungkin akan terasa berat.
note : mulai part selanjutnya udah part nyantai, yang nunggu karma Akmal, angkat tangan dongggg