Why Me?

Why Me?
Why Me? 43



Pagi ini Genta bersiap siap lebih awal, dia tidak sarapan karena sejak semalam Rani maupun Akmal tidak ada yang kembali kerumah. Dikondisi seperti ini, Genta merasa dirinya telah dibuang, diabaikan bahkan telah disingkirkan tanpa kata pamitan sejak awal.


Genta hendak menarik gas motor namun kedatangan Eles yang diantar Rivaldo membuat Genta mematikan mesin.


"Ta, tolong ijinin gue ya" Eles menyodorkan sebuah surat.


"Kenapa gak berangkat?" Tanya Genta.


"Bokap gue mau dioperasi" katanya "Gue duluan ya" dan Eles sudah masuk kedalam mobil.


Genta hanya bisa menatap kepergian mobil sedan itu, matanya menatap surat ijin dari Eles lalu dimasukannya kedalam tas, Genta kemudian membawa motornya melaju pelan kerumah Gadis.


🏡🏡🏡


"Morning" sapa Genta masih menyandarkan tubuhnya di tembok.


Gadis tersenyum "Pagi kembali, masuk yuk" ajak Gadis.


"Udah sarapan? Papa udah berangkat tapi aku buatin roti dulu ya" Gadis sudah beranjak pergi.


Perempuan itu masuk kedalam dapur, menyiapkan roti tawar yang di olesi selai kacang, membawa secangkir susu hangat. Gadis membawanya sambil melangkah pelan menuju ruang tamu.


"Dimakan" titah Gadis "udah minum obat?"


Genta mengantungkan roti tawar di bibirnya setelah diam sedikit lama roti itu di gigit dan dikunyah secara perlahan, Genta menggeleng setelahnya.


"Hm" Gadis mendesah pelan "Kebiasaan deh" perempuan itu menarik tas Genta dan membuka tasnya, memeriksa tas Genta secara sepihak.


"Obatnya mana?" Tanya Gadis setelah tidak menemukan apapun disana.


"Dirumah" jawab Genta santai.


"Belum pernah diminum?"


Genta menggeleng dengan santai, semenjak dia pulang dari rumah sakit, Genta meletakkan obat yang berada didalam plastik warna putih itu diatas meja, mungkin lelaki itu sudah membuangnya, Genta sampai lupa.


"Terus gimana mau sembuh?" tanya Gadis.


Perempuan itu menarik tangan Genta yang sudah menyelesaikan sarapannya, Gadis memeriksa luka yang dibalut perban, luka yang menempel dengan perban hingga menyisahkan warna merah karena darah luka Genta merembas dari kain perban.


Gadis hanya bisa menghela nafas berat lalu perempuan itu berdiri dan berjalan menuju kotak P3k yang berada di ruang televisi, Gadis mengambil semua kotak kecil itu. Untuk jaga jaga keluarga Gadis selalu menyiapi pertolongan pertama.


Gadis kembali duduk disebelah Genta dan menarik tangan lelaki itu.


"Kalo ada yang sakit itu diobatin, jangan nunggu lukanya parah" kata Gadis menatap mata Genta.


Dengan telaten, Gadis membuka perban yang membalut tangan Genta, dengan pelan perban yang menempel keluka Genta di tarik oleh Gadis, Genta sempat meringis tapi setelah perban berhasil di lepas Gadis, Genta tersenyum diam diam.


"Yang mau masuk kedokteran kan aku, kenapa kamu yang repot soal kayak gini" kata Genta menatap wajah serius Gadis.


Perempuan bermata sedikit hitam penuh sendu itu menatap mata tegas Genta.


"Karena kamu gak pernah jujur soal luka kamu, kamu selalu nutupin, ngehindari dan menganggap kamu baik baik aja" kalimat Gadis tadi tidak hanya membicarakan luka tangan Genta. Melainkan juga luka hatinya.


Genta tersenyum "Aku gak mau dikasihani"


"Kasihan atau tidak kan urusan orang, urusan mu cuman nyembuhin luka"


Gadis mengoleskan salep keluka Genta, lalu meniup niup ke area lukanya, sambil menunggu salep diluka paling parah kering, Gadis beralih keluka yang lainnya.


"Mama sama papa mu gimana?" Tanya Gadis disela mengoleskan salep.


"Kemarin berantem"


Gadis masih diam, menunggu Genta meneruskan kalimatnya. Perempuan itu dengan sabar meniup niup luka Genta yang sudah dia olesi dengan salep.


"Mama ngusir papa dari rumah" tiupan dari mulut Gadis berhenti.


Perempuan itu mendongak, menatap seulas senyum dari bibir pacarnya. Dari senyum itu Gadis bisa menjabarkan bahwa Genta begitu rapuh, Genta hanya pura pura tegar saja.


"Are you okey?" Tanya Gadis.


"Noo" meski begitu Genta masih terus tertawa sampai giginya terlihat.


Gadis mengenggam tangan Genta dengan kuat. Hanya dari genggaman dan tatapan saja Genta bisa tahu arti itu semua "Genta yang semangat, Genta kamu kuat" seperti itulah yang bisa Genta tangkap.


Gadis kembali membalut luka di siku Genta yang paling parah, setelah kain kasa selesai membalutnya, Gadis tersenyum.


"Udah" kata Gadis begitu puas melihat kinerjanya.


Genta mendekati bibir ketelinga Gadis, membisikan kata dengan begitu lembut.


"Gadis, udah jam delapan, bolos aja gimana?"


🏡🏡🏡


"Lo yakin keadaan Eles baik baik aja?" Tanya Gara ketika Kera band menikmati jam istirahat dikantin langganan.


Diatas meja mereka, terhidang mie ayam, soto dan beberapa cireng serta cilok yang tadi disantap mereka seperti orang kelaparan. Kadang memaksa otak bekerja menjawab soal matematika memang menguras tenaga.


"Gue gak tahu" jawab Genta menatap langit.


"Gimana kalo nanti sepulang sekolah kita jenguk papanya bang Eles" saran Antar.


"Huu ampar ampar pisang, Lo udah ada peningkatan" puji Gara mengelus tekuk Antar.


"Gue udah pinter dari dulu ya bang Gara Gara"


"Gara nya sekali aja" protes Gara tidak terima.


"Gue takut deh bokap Eles kenapa napa" Irvan memasukan kulit kacang asin kedalam mulut sebelum dia keluarkan dan memakan isinya.


"Setahu gue, darah beku di otak tipis banget selamat nya meskipun dioperasi" imbuhnya "Nyokap sering nanganin orang kayak gitu di Papua"


Hanya ada helaan dari mereka berempat, meskipun Eles jarang berbicara dan terkesan cool, diantara mereka Eles lah yang selalu berpikir dewasa.


"Balik sekolah kita langsung kesana aja" kata Genta "Lo ampar ampar pisang mau ikut gak?"


Antar menggaruk kepalanya "Sebenarnya pengen bang, tapi gue ada les bahasa Inggris"


"Bolos aja ngapa, sekali juga" saran Irvan.


"Masalahnya nyokap gue, dia selalu nelfonin guru les gue" wajah Antar berubah sedih "Sebenarnya gue males bang ikut kegiatan kayak gini, tahu sendiri lah gue pengen kebebasan, pengen kumpul bareng kalian"


"Ya Lo tinggal bilang aja sama nyokap elo kalo Lo gak mau" saran Gara.


"Nyokap gue ibu pendekte, gue kudu jadi dosen, gue kudu masuk UI tanpa cela" Antar menarik nafas "Apalagi kalo nilai gue turun, pasti banyak jadwal les yang mengantri" meski begitu Antar berusaha tersenyum.


"Sabar ya ampar ampar pisang" Gara menepuk bahu Antar "Ibu ibu emang gitu, gue aja kalo nilai Eles lebih gede dibanding gue, dia muji muji Eles tujuh purnama"


"Ha ha busyet tujuh purnama lama banget bang" Antar tertawa, wajahnya kembali cerah.


🏡🏡🏡


Setelah bel pulang sekolah, mereka semua kompak bertemu diparkiran, tinggal Antar yang belum datang, tadi di grup chat Antar bilang dia akan datang, tapi sudah lima menit lebih Antar belum juga muncul.


"Si ampar ampar pisang mungkin gak bisa ikut" kata Irvan merasa frustasi sendiri.


Genta menatap arah motornya, motor warna hitam yang begitu gagah di tengah terik matahari.


"Kita tunggu sebentar lagi" saran Gara yang tidak mau meninggalkan Antar "Gadis gimana Ta?"


"Dia balik sama Windi nanti" kata Genta masih terfokus ke motornya.


Tidak lama suara derap langkah yang berlarian menghampiri mereka, Antar berlari sampai keringat membasahi wajah mulusnya.


"Sorry bang telat, tadi disuruh balikin buku keruang guru, malah disuruh suruh" keluhnya.


Mendengar itu Genta tertawa, wajah polos Antar yang kadang terlihat lucu, sangking lucunya sampai tidak pantas untuk digunakan julid.


"Yaudah gak papa, cabut kuy" ajak Genta sudah berdiri lebih dulu.


Gara berhenti, dia merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya yang bergetar. Dahi Gara bertautan, tumben pembantunya menelfon, biasanya kan Gara tidak pernah dihubungi pembantunya.


"Kenapa Ra?" Tanya Irvan yang menyadari keanehan di wajah Gara.


"Ini, pembantu gue nelfon, tumben banget ya" katanya kemudian mengangkat panggilan.


"Hallo bi" sapa Gara sedikit merasa tidak enak.


"Apa? Ya ya saya segera pulang" Gara lekas memutuskan panggilan.


"Kenapa Ra?" Tanya Genta.


"Benua jatuh dari tangga, gue kudu balik dulu" pamit Gara buru buru.


"Mau ditemenin gak?" Tanya Irvan ikut panik.


"Gak usah, kalian langsung nemuin Eles aja, Eles lebih butuh kalian" Gara dengan secepatnya masuk kedalam mobil dan melaju.


Sedangkan mereka bertiga hanya bisa menatap mobil Gara dengan kosong.


"Ada ada aja masalah kita" gumam Irvan lirih.


note : Kera band lagi banyak masalah