Why Me?

Why Me?
Why Me? 70



Meski luka yang pernah diderita oleh Genta belum sepenuhnya sembuh, akhirnya menerima asal dari luka itu bisa membuat Genta sedikit iklas, meski kerap menyalahkan kepergian orang orang disekitarnya, adalah kesalahan Genta.


"Jadi kita bikin dua lagu sekaligus?" Tanya Irvan kearah Gara yang sedang bersiap duduk di kursi drum.


"Ya, lagian kita udah vakum di dunia musik lama banget kan? Hitung hitung syukuran atas kembalinya Kera band" jawab Gara mulai memainkan stik.


Mereka sedang berlatihan di kamar Genta, menerima fasilitas yang diberikan Richard untuknya. Semua peralatan band dirumah Gara sudah dijualnya, Gara terlalu emosi waktu itu, hingga mengubur semua mimpi Kera band, mimpi yang mereka susun bersama sama.


"Rencananya mau cari produser baru atau pakai produser yang pernah naungin D'Masiv dulu?" Tanya Eles sambil menghisap rokok.


Ketergantungan Eles dengan rokok tidak bisa dihilangkan hingga saat ini, dia sering merokok. Bahkan bisa habis satu bungkus rokok dalam sehari.


"Gue belum mikirin sih" kata Gara "Lo Van, elo kan yang ada di Jakarta selama ini. Dapet kenalan produser gak?"


"Bang sorry telat" Antar yang baru saja tiba lekas meletakkan tas didekat meja dan menggulung kemeja panjangnya.


Terkadang melihat Antar bekerja sekeras itu untuk menuruti kemauan mamanya, membuat keempatnya kasihan.


Genta mengangguk. Lagipula mereka belum memulai apapun. Tadi sibuk membicarakan fasilitas yang diterima Genta dari papa barunya. Lalu sama sama mengejek Genta yang memiliki dua papa.


"Gue ada sih kenalan tapi bukan produser" kata Irvan menatap Gara "Basis Noah"


"Wah mantap tuh, kita bisa ikut gabung produser Noah" celetuk Genta


"Oke. Nanti gue coba hubungin dia" kata Irvan.


"Yok, kita mulai aja, kita coba sesuai nada" Genta sudah bersiap sambil memegang mikrofon.


Antar, mulai berdiri dan memegang keyboard, sedangkan Eles sudah memegang bassis, Irvan juga sudah mulai menggenjreng gitarnya.


🏡🏡🏡


Sebulan lebih sibuk bolak balik untuk menyiapkan rekaman, kini lagu yang di buat Gara sudah berhasil mereka nyanyikan dengan bagus. Bahkan produser Noah memuji kinerja mereka, lagu lagu yang mereka ciptakan tanpa diduga berhasil masuk trending nomor satu di YouTube, berhasil masuk beberapa chart tangga lagu.


Mereka tersenyum senang, saat melihat komentar positif dari akun musik di YouTube.


"Gak nyangka ya. Lagu kita bisa diterima masyarakat" kata Gara yang begitu puas terlihat dari raut wajahnya. Bahkan beberapa kali, lelaki itu memutar dua lagu yang dia ciptakan.


"Banyak yang bikin tiktok pakek lagu kita juga" imbuh Eles tidak percaya.


"Coba mana lihat?" Gara memepetkan tubuhnya ke Eles dan mengintip beberapa chalange tiktok yang menggunakan lagunya.


"Lagu judul "ayah" yang paling banyak didengerin orang" Irvan mulai bergabung sambil mencomot buah didepan Genta.


"Bdw kita banyak dapet undangan buat ngisi acara acara" Irvan menambahi "ada juga buat kita tampil di acara musik televisi"


Genta ikut memakan buah "Kita ambilin satu satu aja yang ada di Jakarta, gue juga liat email tadi kalau ada tawaran manggung di luar Jabodetabek"


"Wahh" Gara geleng geleng sambil menyandarkan kepalanya disandarkan kursi, dia begitu tidak menyangka bahwa Kera band begitu populer saat ini.


"Sumpah, gue kira keputusan gue buat gak nyari kerja bakalan salah, ternyata enggak" Eles begitu senang bahwa keputusan untuk tetap bertahan dan membesarkan nama Kera band berbuah hasil, meski di dua bulan pertama dirinya harus extra hemat.


"Woy, ampar ampar pisang ngelamun aja Lo" Genta melempar potongan apel kearah Antar.


Lelaki yang dilempar sedikit terkejut lalu memandang Eles, Irvan, Gara dan Genta bergantian.


"Kenapa, ada masalah?" Tanya Irvan.


"Nyokap gue gak setuju gue jadi artis bang" adu Antar.


"Gak kaget sih gue" Gara menaikan kakinya keatas meja "Nyokap elo kan dari dulu emang gitu"


"Tapi kan gue pengennya jadi artis bang, jadi anak band" Tutur Antar dengan nada berat.


Eles menepuk bahu Antar lalu mengelus nya dengan perlahan. Menjadi Antar itu mudah mudah sulit, meski semua kehidupannya di fasilitasi dan dijamin oleh kedua orangtuanya. Namun berjalan di jalan yang sudah disiapkan orangtuanya tidak begitu menyenangkan, Antar memiliki keinginan yang tidak sama dengan orangtuanya.


"Kata nyokap elo gimana?" Tanya Genta.


Antar menatap kearah Genta lalu menarik nafas "Katanya, jadi artis dan terkenal itu gak jamin masa depan, sekarang emang kita lagi diatas tapi sewaktu-waktu, kita bisa jatuh"


"Terus nyokap elo tetep nyuruh elo jadi dosen?" Tanya Eles.


Antar mengangguk "Mama bilang, jadi dosen lebih terjamin. Dipandang orang terhormat, sedangkan artis, katanya banyak yang gak berpendidikan"


"Tar, gue bukannya mau mempengaruhi elo ke jalan yang salah. bukan ya" Eles menatap kearah Antar "Hidup ini milik elo, lakuin apapun yang elo inginkan. Jadi dosen atau artis gak pernah salah, asal apa yang elo lakuin itu buat elo seneng"


"Elo akan nyesel kalau elo gak ngelakuin apa yang elo mau, karena hidup ini punya elo, kalau elo nyesel, nyokap bokap elo gak akan ngerasain hal itu" imbuh Eles "Sekarang gini, Lo seneng gak nge-band bareng kita?"


Antar mengangguk mantap "Seneng banget, walaupun gak ngasilin duit tapi asik, gue suka musik dari kecil, apalagi piano, gue suka banget"


"Yaudah sekarang Lo lakuin aja apa yang elo mau, kalaupun nanti nama Kera band akan redup, Lo gak akan pernah nyesel pernah ngewujudin mimpi bareng kita" kata Eles.


"Dah lawan aja nyokap elo" celetuk Gara yang dipelototi ketiga temannya.


Gara justru mengangkat bahu tanda masa bodo.


"Gini deh, Lo kenal bilgets, dia pernah keluar kuliah dan ngelakuin apa yang gak disuruh orangtuanya tapi buktinya dia berhasil" imbuh Gara "Lo bisa jadi anak band dan artis, jadi artis yang berpendidikan, bila perlu Lo nantinya bisa pegang brandambasor khusus pendidikan, kayak ruang guru misalnya"


Antar mengangguk mendengarkan itu, lalu merasa mendapatkan kekuatan dari nasihat nasihat mereka.


Pintu kamar Genta yang semula tertutup, perlahan dibuka oleh Amanda yang mengintip secara perlahan.


"Ada apa Manda?" Tanya Genta yang menatap Amanda sedang berkedip memandangi teman teman kakaknya.


"Di cariin Om om" suara Amanda yang sedikit cedal membuat Eles gemas hingga berdiri dan membuka pintu lebar-lebar.


"Namamu Amanda ya?" Tanya Eles duduk jongkok untuk mengimbangi tinggi Amanda.


Perempuan yang rambutnya tergerai itu mengangguk sambil menggendong kuat kuat boneka kelincinya. Dia takut dengan orang orang baru yang belum pernah di temui.


"Kenalin, nama kakak Eles, temennya kak Genta" Eles mengulurkan tangan.


Amanda menatap mata Eles dan senyum merekah itu, lalu ikut menarik sudut bibir dan menerima uluran tangannya. Mata Amanda bisa tahu bahwa Eles bukan orang jahat, maka dari itu Amanda cepat sekali menerima perkenalan nya.


Genta berdiri dan mendekati Amanda yang sedang saling tatap dengan Eles.


"Adek gue masih kecil Les, jangan elo incer" ancam Genta.


"Astagfirullah" Eles mengelus dadanya "Tau aja niat gue" kemudian dia tertawa.


"Sini Amanda, main sama Abang Gara" Gara menepuk sofa disebelah untuk meminta Amanda duduk disebelahnya.


"Jangan mau Amanda, bang ini jahat" Irvan menunjuk kearah Gara sambil mengunyah buah.


"Eh Van. Kalo anak elo gak di gugurin mungkin udah sebesar ini kali ya?"


Mendengar pertanyaan Gara yang spontan itu Irvan lantas mendelik kearah Gara, lalu ketiga temannya terkekeh bersamaan.


Genta yang melihat itu di belakang pintu hanya bisa menertawai ekspresi Irvan yang lantas pias jika membahas anaknya yang digugurkan Pelangi.


🏡🏡🏡


"Papa mu kesini"


Belum turun ke tangga terkahir Rani sudah menghardiknya dengan kecemburuan yang terlihat dari wajah.


"Ran" Richard yang baru saja keluar dari ruang tamu lekas menenangkan Rani.


Genta dan Richard berpandangan sekilas, lalu dagu Richard memberi kode untuk segera menemui Akmal.


Baru selangkah. Rani sudah menarik tangan Genta.


"Jangan lama lama" kata Rani tidak suka dengan kedatangan Akmal.


Genta menarik sudut bibir sekilas, lalu melepaskan genggaman Rani. Bahkan jika Rani sudah memiliki seorang anak pun, Rani tetap memiliki ketakutan jika Genta akan pergi meninggalkannya, jika lelaki itu akan pergi dan dibawa Akmal.


Di ruang tamu. Akmal duduk sambil menyesap teh yang disediakan pembantu Richard.


"Ada pa?" Tanya Genta tanpa mau basa basi.


"Papa mau ngobrol sama kamu" kata Akmal "Kita keluar sebentar, bisa?"


Genta mengangguk. Lalu Akmal berdiri dan keduanya keluar bersamaan. Akmal mengajak Genta untuk pergi dengan mobil sedannya, lalu membawa mobil yang ditumpangi mereka ke sebuah tempat yang sepi dan nyaman.


Sampai disana, Akmal turun dan disusul Genta dari belakang, mencari bangku taman dan mereka duduk bersebelahan disana.


Lama sekali, hanya ada hening dan tatapan keduanya yang sedang memikirkan kilas masa lalu. Genta memikirkan kemungkinan jika Akmal dan Rani tidak pernah berpisah, juga Akmal yang memikirkan masa lalunya dengan Genta.


"Papa ingin menemui kamu. Tapi kamu selalu sibuk" ucap Akmal.


"Sibuk sama anak anak" kata Genta.


"Papa udah denger lagu lagu kamu" Akmal menatap Genta "Bagus semua, papa bahkan tersentuh dengan lagu yang berjudul ayah"


Genta tersenyum, lagu yang Gara ciptakan itu sesungguhnya diberikan untuk mendiang ayah Eles. Karena bagi Gara, lelaki yang melakukan perannya sebagai ayah hanya ayah Eles.


"Lagu itu diciptakan sama Gara untuk almarhum ayah Eles"


Akmal mengangguk, Meksi begitu, Akmal merasakan Genta sedang bersungguh-sungguh menyanyikan dan menyatakan kasih sayangnya melalui lagu itu.


"Kamu tidak berniat meneruskan perusahaan?"


"Genta gak kepikiran pa" Genta tersenyum "Genta lagi pengen fokus ke Kera band"


"Kamu sepertinya harus tahu ini, papa sama Mama Sandra akan cerai"


Genta menoleh dengan cepat kearah Akmal. Kenapa lelaki itu memilih mengakhiri pernikahannya dengan Sandra sedangkan karena perempuan itu Akmal meninggalkan dirinya dan Rani?.


"Why?"


"Papa ngerasa, papa gak bisa bertahan. Sandra terlalu mengekang, bahkan selalu memiliki kecurigaan yang gak berdasar ke papa" Akmal menatap Genta "Papa gak bisa bertahan"


"Dia bukan curiga tidak mendasar pa, tapi karena dia pernah merebut papa, jadi dia selalu berpikir nantinya papa akan mengulangi apa yang dulu pernah papa dan dia lakukan di belakang Mama" kata Genta begitu menusuk hati Akmal.


"Kamu masih benci papa?" Tanya Akmal.


Genta menggeleng "Dulu iya, sekarang sudah gak" aku Genta.


"Maafin papa, papa memang orang yang brengsek" dada Akmal berdesir saat menyadari semua kesalahannya "Papa Rindu keluarga kita yang dulu Ta" nada suara Akmal begitu merendah.


Genta menepuk bahu Akmal, menguatkan papa nya sendiri.


"Penyesalan itu selalu di belakang kan pa?" Tanya Genta "Apa papa rindu Mama?"


Akmal menggeleng dengan cepat, tentu tidak boleh bagi dirinya merindukan Rani yang sudah menjadi istri orang lain, bahkan tidak boleh Akmal mengatakan hal itu. Dia tidak mau membenarkan perasaannya, meski beberapa hari sebelum pernikahannya dengan Sandra berakhir, Akmal pernah merindukan sosok Rani di hidupnya, sosok yang selalu mendukung Akmal, sosok yang selalu sabar menghadapi semua sikap Akmal.


"Papa belikan kamu rumah di dekat komplek papa" Akmal menyodorkan kunci kearah Genta.


"Gak besar, cukup untuk kamu tinggal dengan istrimu besok"


Mendengar kata istri, Genta teringat dengan Gadis, bahkan kerinduan yang selama ini selalu di usirnya kembali hadir, masuk lagi ke dalam hatinya dan hinggap membawa luka lama.


"Lusa, ada rapat direksi, papa akan mengalihkan setengah saham papa atas namamu" kata Akmal.


"Pa" Genta dan Akmal saling adu tatap "Jangan, papa masih punya Taennya dan Benua" Genta menarik nafas "Genta bisa berusaha dengan cara Genta sendiri"


Mendengar itu Akmal sedikit tertawa dan mengusap air mata yang perlahan turun dari matanya. Air mata penyesalan. Air mata sakit hati, dan air mata kerinduan yang beradu menjadi satu.


"Bagaimana bisa papa tidak memberikan apa apa ke kamu, sedangkan kamu anak papa yang paling menderita" kata Akmal "papa gak mau nantinya kamu justru di berikan dari papa barumu"


Genta hanya bisa diam saja, mengangguki kemauan Akmal dan kembali hening dengan fikiran masing masing.


🏡🏡🏡


"Taaa"


Genta yang baru saja masuk kedalam kamar setelah kembali, langsung di panggil Gara dengan antusias tinggi.


"Apa?" Genta menghempaskan tubuhnya diatas sofa.


"Kita baru aja dapet undangan spesial" Gara merapatkan duduknya.


"Raa, jangan deh" Eles memperingati.


"Kenapa sih, Gara juga perlu tahu" Gara kembali menatap Genta.


"Apa?" Tanya Genta penasaran.


"Lo ingat si Roy kiyoshi?" Tanya Gara.


Genta perlahan lahan mengangguk, entah kenapa jantungnya berdegup kencang, jika membicarakan tentang Roy, tidak mungkin di bicarakan mereka kalau bukan menyangkut Gadis juga.


"Dia ngundang kita ke acara pernikahannya besok" kata Gara.


Irvan, Eles dan Antar hanya diam saja, dia memandangi kearah Genta.


"Besok?" Ulang Genta.


"Iya, dia mau kita nyanyi di pernikahan dia, bahkan dia ngasih bayaran gede, lebih gede daripada kita manggung di televisi"


Genta memandangi keantusiasan Gara, wajah lelaki itu begitu cerah.


"Dia nikah sama siapa?" Tanya Genta begitu ragu.


Tolong, jangan orang yang berada dipikiran Genta, tolong, semoga saja yang dipikirkan nya salah.


"Gadis"