Why Me?

Why Me?
Why Me? 75



Didalam mobil yang di kendarai Kera band. Hanya terdengar suara musik musik berdetum, pikiran Genta sedang melayang jauh, meninggalkan dimana mereka kini berada.


"Lo kenapa Ta?" Tanya Gara yang berada di kemudi depan.


Genta hanya menatap melalui pantulan kaca, lalu mengalihkan pandangannya hingga menembus kaca.


"Mikirin Gadis?" Tebak Irvan dari sebelah kiri.


"Kenapa?" Tanya Eles.


Genta menarik nafas dengan begitu panjang, lalu menghembuskan perlahan. Ada ketakutan yang menyelimuti benaknya. Apalagi beberapa hari ini, Gadis selalu membahas mengenai pernikahan.


"Kenapa si Ta?" Irvan menyenggol lengan Genta.


"Gue bingung" akunya "Gue__ gue ngerasa Gadis kepengen hubungan ini dilanjut ke pernikahan deh"


"Yaudah gasken, biar enak kan kalo mantap mantap gak perlu kita gangguin" ujar Gara sambil cekikikan.


"Iya bang setuju, lagian Abang sama kak Gadis juga udah lama pacarannya, pernah kepisah tapi sama sama Saling setia. Nunggu apa lagi, ya gak" Antar memajukan wajahnya hingga berada di sebelah Irvan dan Genta.


"Masalahnya" Genta menatap arah depan "Gue ragu"


"Elah, ragu kenapa?" Irvan mengangkat kaki sebelah kiri.


"Lo sama Gadis kenal udah lama, meski kalian sempet putus tapi kalian sama sama Saling cinta, apalagi yang buat elo ragu?" Tanya Eles.


"Lo takut masalah finansial Ta?" Tanya Irvan memastikan "Gini deh, Lo sekarang udah terkenal, udah mapan. Gadis juga iya. Jadi apalagi yang perlu elo khawatirin?"


Genta menarik nafas, ada yang membuatnya ragu. Ketakutan akan memulai hubungan ke jenjang serius, Genta takut jika pernikahannya berakhir seperti kedua orangtuanya.


"Pernikahan itu bukan cuman ijab Kabul, tapi menyatukan dua kepala, dua keluarga dan dua pikiran" kata Genta "Pacaran lama belum tentu menjamin pernikahan akan sampai ujung usia" imbuhnya lagi.


"Ta. Gini deh, kalo Lo takut nikah karena masalah nyokap bokap elo, Lo salah" kata Irvan "setia atau enggaknya pasangan itu bukan terletak di siapapun tapi diri kita sendiri, nah sekarang elo yakin gak bakalan setia sama Gadis?"


"Yakinlah" sergah Genta dengan tegas.


Seumur Genta mengenal Gadis belum pernah terlintas dalam pikirannya untuk menghianati Gadis.


"Nah itu, kalo elo yakin bakalan setia, Lo gak perlu takut sewaktu waktu pernikahan elo gagal" kata Irvan kembali menyakinkan Genta.


"Ta kata orang kalo Lo gak siap patah hati Lo harus pacaran, tapi kalo Lo siap bercerai jangan menikah" kata Eles dengan begitu bijak.


"Pertanyaannya Lo siap gak cerai?" Tanya Gara.


Genta menggeleng dengan tegas, menikah hanyalah sekali, tidak akan ada dua kali atau seterusnya bagi Genta.


"Yaudah, gas aja. Mantepin diri elo" ujar Irvan


"Jangan mau kalah sama ampar ampar pisang, kecil kecil gitu dia mau nikah men" Irvan cekikikan sendiri.


"Serius Par?" Genta menoleh dengan cepat kearah Antar yang justru sedang nyengir.


"Doain bang, rencananya gue mau nikah sama temen seangkatan pas SMA dulu" kata Antar sambil nyengir kuda.


Genta hanya tersenyum, diam diam dia iri dengan keberanian Antar untuk mengajak menikah wanita.


🏡🏡🏡


Setelah bertemu dengan perancang busana yang akan dia gunakan besok malam, kini Genta dan Akmal sedang duduk santai di sebuah cafe. Akmal meminta Genta menemuinya, sambil membahas pengalihan sebagian aset yang dimiliki.


"Gimana kabar Mama mu?" tanya Akmal sambil menyesap es cappucino.


Genta hanya menoleh sekilas, pertanyaan klise yang sering ditanyakan Akmal. Genta tahu bahwa papanya ini merindukan sosok istri seperti Rani.


"Baik, rencananya Mama mau nambah momongan" dusta Genta menambah nambahi, padahal Rani dan Richard belum pernah membahas mengenai menambah momongan.


"Oh ya" Akmal tersenyum, sedikit getir "Kamu gak kepengen tinggal sama papa?"


Genta kembali tersenyum, lalu memandang kearah jalan raya yang dilalui orang orang. Angin panas yang sedang menerpa diluar membuat Genta bisa merasakan hawa panasnya hanya dengan melihat saja.


"Genta belum kepikiran pa" Genta menyesap es cup yang dia pegang.


Akmal mengusap kain celana yang sedikit terkena debu, lalu menatap putra sulungnya yang semakin gagah setiap hari.


"Papa udah cerai sama Sandra" akunya dengan suara lirih.


"Aku udah tahu"


"Papa mau fokus sama diri papa sendiri saat ini" katanya "Mungkin papa tidak akan menikah lagi"


"Aku berharap gitu" Genta menoleh kearah Akmal dengan kesungguhan hatinya "Diusia papa yang seperti ini, aku rasa papa gak cocok untuk menikah lagi. Papa lebih baik merenungkan dan menunggu karma papa" Genta tersenyum.


Entah kenapa Akmal tersenyum miris mendengar kata tidak sopan dari putranya, lagi lagi Genta lah orang yang bisa menusuk hatinya sendiri.


"Papa gak selingkuh Genta" perjelas Akmal "kali ini papa bener bener gak selingkuh"


"Papa gak selingkuh" Genta menatap arah depan "Tapi pikiran Tante Sandra yang menganggap papa selingkuh"


"Ya, dia masih belum percaya kalau papa udah sadar" kata Akmal dengan suara menyesal "Ah sudahlah, kami juga sudah bercerai"


Genta menatap kearah depan, tanpa sengaja dia melihat Gadis sedang berjalan bersisian dengan rekan kerjanya. Genta hanya bisa memandangi saja, melihat perlahan Gadis keluar bersama teman perempuan nya.


"Ya"


🏡🏡🏡


Genta duduk di pinggir kolam setelah pulang menemui Akmal dan tanpa sengaja melihat toko berlian. Kini sebuah kotak brudu berisi cincin berada di genggamannya. Entah kenapa Genta membelinya, padahal tidak ada keberanian sedikitpun untuk melamar Gadis. Ada banyak keraguan mengenai ini.


Genta menutup perlahan kotak brudu setelah dipandangi cukup lama lalu terasa sofa yang dia duduki berguncang. Genta menoleh, menatap seulas senyum manis dari Rani.


"Bagus cincinya" puji Rani ikut duduk disebelah Genta.


"Beli tadi" jawabnya cuek.


"Oh ya, buat lamar Gadis?" Rani menggoda Genta dengan senyum jahilnya.


Entah kenapa yang digoda tidak merasa malu, atau merasa risih, justru tatapannya datar dengan wajah yang begitu kaku.


"Kenapa?" Rani yang merasa ada yang aneh lantas bertanya.


"Genta pengen nikah sama Gadis, tapi Genta belum siap" ceritanya.


"Kenapa?"


Genta menggeleng, dia tidak tahu kenapa merasa begitu ragu, padahal Gadis memperlihatkan sisi yang membuatnya nyaman. Berada disebelah Gadis, Genta merasa dunia akan baik baik saja.


"Karena Mama sama papa?" Tebak Rani.


Tangan kurus Rani terurur untuk membelai rambut Genta, dielusnya secara perlahan rambut Genta.


"Gak semua pernikahan akan berakhir sama" kata Rani "Mama dan papa berpisah karena memang kesalahan yang diperbuat papamu tidak bisa diperbaiki lagi, kalau bisa kami pasti masih bersama"


Rani ingin mencoba saran Gadis, perempuan itu menyarankan Rani untuk menjelaskan perpisahan yang masih belum Genta terima hingga saat ini.


Rani baru menyadari bahwa Genta tidak seutuhnya baik baik saja, luka yang dia derita selama perceraiannya masih mengendap dengan sempurna, bahkan menjadi bayang bayang untuk Genta hingga  putranya itu memberi jarak pada siapapun.


"Genta" Rani menurunkan tangannya "Menikah itu artinya kita memilih satu pasangan untuk seumur hidup" kata Rani.


"Kalau yang kita pilih ternyata salah, kita bisa membuat dua pilihan, memperbaiki kesalahan itu atau meninggalkan pilihan kita" Rani memandang arah depan.


"Mama yakin, Kamu dan Gadis bisa memperbaiki setiap masalah yang akan kalian terima nantinya. Mama yakin kamu akan menjadi suami yang paling baik untuk Gadis" kata Rani.


"Genta___" Genta menatap mata Rani yang sudah berkaca kaca


"Maafin Mama" Rani memeluk Genta.


Pelukan yang kali ini diterimanya, pelukan yang entah kenapa terasa bisa meringankan semuanya. Rani melepaskan pelukan itu dan menyeka air mata secepat mungkin.


"Dulu, Mama bener bener gak bisa memaafkan kesalahan papa mu" Rani kembali menyeka air matanya "Terkadang ada kesalahan yang bisa dimaafkan. Tapi untuk perselingkuhan tidak ada kata maaf untuk itu"


Genta menatap butir bening yang terus berjatuhan dari mata Rani. Butir terluka seorang istri yang melihat suaminya berkhianat. Genta baru memahami rasa itu, kenapa dulu dengan egois dia meminta Rani bertahan, Genta tidak pernah menanyakan seberapa terlukanya perempuan ini.


"Mama mencoba memahami semua kesalahan papamu, tapi untuk selingkuh Mama gak paham Genta, apakah karena bosan seseorang bisa selingkuh?"


Saat tangan Rani bergerak untuk menyeka air matanya, Genta lebih dulu menyeka dengan cepat.


"Selama ini Mama sudah lakukan yang terbaik untuk papamu, Mama mengabdi, Mama rela meninggalkan Bandung dan tinggal di Jakarta, Mama rela melakukan semuanya untuk papamu, tapi papa mu memilih mencari wanita lain di luar sana" Rani terisak sejadi jadinya.


"Ma"


"Tolong kasih tahu letak dimana kesalahan Mama saat itu Genta, Mama merasa wajar jika Mama selalu mencurigai papamu yang selalu pulang malam, selalu punya banyak alasan untuk diluar rumah, apa Mama salah jika Mama menjadi istri seperti itu?"


Genta menggeleng dengan tegas, tidak ada yang salah yang selama ini di lakukan Rani.


"Kamu tahu apa yang lebih menyakitkan untuk Mama Genta?" Tanya Rani "Saat papamu pulang kerumah dan dia bersikap manis ke kamu dan mama, padahal dia punya wanita lain diluar sana" Rani memukul dadanya yang terasa sesak.


"Mama selalu bertahan saat itu untuk kamu Genta, tapi mama udah gak bisa, bahkan udah bertahun tahun pun, luka itu, rasa sakit dan penghianatan itu masih terus terasa"


Genta langsung memeluk Rani, memeluk dengan begitu erat. Rani tidak pernah salah, kesalahan ini terjadi karena keegoisan dari Akmal, jika lelaki itu bisa mengendalikan nafsunya mungkin semua akan baik baik saja.


Dari arah samping ada tangan mungil yang ikut memeluk keduanya.


"Amanda juga mau dipeluk" kata Amanda dengan manja, membuat pelukan Rani dan Genta terlepas.


"Sini peluk kakak" Genta langsung meraih Amanda dan didudukan di pangkuan Genta.


Agar Amanda tidak curiga, Rani bergegas menghapus air matanya.


"Genta"


Genta menoleh saat Rani memanggilnya, perempuan itu perlahan bisa mengusung senyum, apalagi saat Amanda juga menatapnya.


"Menikahlah, umurmu juga sudah cukup matang untuk menikah" ujar Rani "jangan buat Gadis menunggu lagi, perempuan itu sudah terlalu lama menunggu kamu"


"Kalau yang kamu takutkan adalah kegagalan rumah tangga seperti yang kamu rasakan, maka jangan pernah buat rumah tangga kamu gagal seperti papa dan Mama" Rani tersenyum sambil mengusap lengan Genta "Kamu harus bisa memperlakukan Gadis sebaik mungkin, jangan sampai anakmu nanti seperti kamu"


Rani kembali mengusung senyum lebar "Yang bisa membuat rumah tangga kamu nanti menjadi istana hanya kamu sendiri, Gadis itu istrimu, dia akan mengikuti semua yang kamu perintahkan, jadi sebagai suami, perintahkan Gadis agar ikut membantu membuat istana mu kokoh" nasihat Rani.


Ya, Genta menemukan kekuatan dan keberanian dari kata kata Rani barusan. Rani benar, jika Genta takut pernikahannya gagal seperti kedua orangtuanya, maka Genta harus membuat pernikahan nya nanti tidak gagal.