
Setelah teman teman Genta pulang, Genta turun dan ikut bergabung makan malam bersama keluarga barunya. Ini makan malam kedua setelah Genta pulang ke Jakarta, karena dia banyak makan diluar bersama anggota Kera band.
"Papa mu tadi bilang apa aja?" Selidik Rani ketika memberikan nasi ke Genta.
"Gak ngomong apa apa" Genta tidak ingin memberitahu Rani soal perceraian Akmal. Lebih baik Rani tahu sendiri.
"Jangan bohong kamu. Pasti ada yang dibicarakan papamu sampe dia nemuin kamu kesini" sinis Rani.
Richard tidak mau ikut campur jika soal Genta, bukannya tidak menyukai Genta, hanya saja Richard sadar posisi dirinya, dia tidak mau terlalu ikut campur dalam masalah Akmal dan Genta. Richard memilih sibuk menyuapi putrinya.
"Papa ngasih rumah ke Genta"
"Terus kamu mau tinggal disana?" Rani baru saja duduk setelah mengisi piringnya yang kosong.
"Iya besok kalau Genta udah nikah"
Tiba tiba saat membicarakan pernikahan, hati Genta terasa sakit sendiri. Apalagi tadi sebelum Gara dipaksa pulang oleh Irvan, Gara sempat membahas job manggung di pernikahan Roy dengan Gadis. Sebenarnya Gadis siapa yang dibicarakan tadi?.
"Kenapa gak dimakan Ta?" Tanya Richard saat menyadari Genta hanya melamun saja.
"Ha?" Genta gelagapan lalu menyendok nasi kedalam mulutnya.
Selesai makan, Genta sudah berdiri namun Amanda mencegahnya untuk pergi dengan menarik narik tangan Genta.
"Kak Genta, kita main yuk, kakak jarang dirumah jadi Amanda gak punya temen" keluh Amanda.
Sebenarnya Genta ingin bermain dengan Amanda. Tapi pikirannya sedari tadi terpenuhi oleh Gadis.
"Lain kali ya. Kakak cape banget, gak papa kan?"
Wajah Amanda tertekuk, tahu kalau putrinya kecewa, Richard segera mendekati Amanda.
"Amanda gak kasihan sama kak Genta. Kan tadi kak Genta habis cari uang, besok aja ya main sama kak Genta nya" Richard segera mengendong Amanda ke pelukannya.
"Kenapa kak Genta cari uang sih, kan papa kaya" protes Amanda.
"Papa, kasih kak Genta uang yang banyak biar dia gak sibuk sibuk kerja, kita kan kaya pa" kata Amanda dengan polos.
"Iya, besok Papa kasih kak Genta uang yang banyak. Sekarang main sama papa aja yuk" Richard segera pergi, meninggalkan Genta yang sedang berdiri dengan tatapan kosong sendirian.
π‘π‘π‘
Genta merebahkan tubuhnya sambil menatap langit langit yang berwarna putih, tidak ada stiker bintang yang pernah dipasangnya dengan Akmal, sekarang hanya warna putih polos menyeluruh.
Kenapa Gadis menikah? Pertanyaan itu menghantui Genta, bahkan hatinya terasa berdesir, Genta merasa dikhianati, sebab Genta sudah sesetia ini hanya menunggu kepulangan Gadis. Bahkan rencana Genta menyusul Gadis ke Aceh sudah dia rancang sejak kini.
Drrtt
Ponsel Genta bergetar, dia meraih benda pipih itu dan membaca pesan yang masuk di grup chat.
Kera Band
Gara : Jangan lupa besok kita berangkat agak pagian, soalnya resepsi dimulai pagi
Eles : Allahuakbar, orang ini gak ngerti kode apa gimana sih π
Irvan : Ra, Lo bisa left bentar gak dari grup ini, ketimbang elo gue susulin dan gue bunuh.
Antar : Bang Gara Gara emang suka cari gara-gara
Gara : Ta, jangan lupa Dateng, ini manggung pertama kita setelah terkenal.
Irvan : gue keluarin dia bentar
Irvan mengeluarkan Gara
Genta menatap pesan itu, pesan yang dengan antusias di tulis oleh Gara. Mungkin Gara tidak ingin Genta membawa masalah perasaannya di kepentingan band. Makanya dia begitu antusias saat mendapatkan job perdana ini.
Tidak lama pesan dari Irvan masuk keΒ ponselnya, pesan yang dibaca Genta dengan perlahan.
Irvan : Gimana? Kalau emang besok Lo gak mau Dateng, kita gak akan nerima undangan ini.
Genta hanya membacanya tanpa mau membalas, namun Irvan tidak berhenti disitu.
Irvan : lagian undangannya juga dadakan, kita ngecancel satu undangan gak bikin miskin.
Akhirnya Genta membalas pesan Irvan.
Genta : gue belum bisa mikir
Irvan : Sans aja, gue paham arti Gadis buat elo gimana. Maafin mulut pedes Gara yang kadang gak disaring dulu.
Genta hanya bisa memandangi pesan itu, lalu memilih mengenyahkan ponselnya dan membawa tubuhnya untuk tidur.
π‘π‘π‘
"Ta, Genta" Irvan menggoyangkan tubuh Genta yang masih tertidur diatas kasur.
Karena goyangan yang begitu kencang membangunkan Genta, mata merah karena dibangunkan secara paksa itu membuat Genta terduduk dengan kaget.
"Anjing. Lo ganggu orang aja" maki Genta.
"Lo beneran gak dateng ke nikahan Roy?"
Genta duduk sebentar lalu mulai mengingat dan kembali merasakan sakit hati. Bahkan dia semalam memimpikan Gadis yang berdandan begitu cantik untuk menemaninya pergi. Genta rindu perempuan itu, tapi apakah harus dia bertemu Gadis saat pernikahannya?.
"Gue sebenarnya gak nerima tawaran itu. Tapi Gara justru udah nerimanya" kata Irvan.
Genta hanya diam saja, bisakah dia datang kesana, mengucapkan selamat padahal hatinya sedang dihancurkan oleh pengantin wanita?.
"Ta, gue takutnya kalau elo gak dateng Gara marah sama elo, Lo tahukan gimana Gara, dia antusias banget nerima job ini" bujuk Irvan.
Genta hanya memandangi Irvan. Kenapa teman temannya tidak bisa memahami perasaannya?.
"Lagian Gadis itu mantan elo enam tahun yang lalu, udahlah lupain" Irvan masih membujuk "Tar gue kenalin sama ani ani kenalan gue"
Sialan, bahkan Irvan justru meminta nya melupakan Gadis. Kalau bisa mungkin Genta sudah melakukannya sebulan setelah dia putus, atau dua tahun yang lalu.
π‘π‘π‘
Genta berdiri di hadapan banyaknya tamu undangan, semuanya sudah bersiap, tapi hanya Genta dan hatinya saja yang tidak.
πΆπΆπΆ
Ku tak bahagia
Melihat kau bahagia dengan nya
Kutak bahagia
Melihat kau bahagiiaaaaa
πΆπΆπΆ
Saat suara Genta yang tidak diiringi alat musik mulai terdengar. Gara, Irvan , Eles dan Antar kompak menoleh. Ini diluar rencana mereka, bahkan mereka merencanakan akan membawakan lagu baru mereka.
"Ta, woy Lo salah lagu" bisik Gara dari belakang.
"Ta ini bukan lagi yang mau kita bawain"
πΆπΆπΆ
Harusnya aku yang disana
Dampingi mu dan bukan dia
πΆπΆπΆ
Mau tidak mau semuanya mengikuti lagu yang dibawakan Genta dengan instrumen yang tentu begitu bagus. Tapi ada bisik bisik dari tamu undangan yang membicarakan Genta. Ada yang mulai curiga kalau Genta baru saja ditinggal mempelai wanita.
Ditengah penonton itu, ada yang menyedot perhatian Genta. Gadis berdiri dan menatap kearah mereka, Gadis tidak mengenakan pakaian pengantin justru hanya dres selutut yang begitu indah. Dia tersenyum kearah Genta, membuat jantung Genta berdegup begitu kencang.
Selesai membawakan lagu "Harusnya aku" yang tidak di rencanakan, Genta bergegas turun. Dia lantas mencari Gadis yang tadi pergi bersama seorang perempuan.
Genta membelah para tamu undangan lalu menemui Gadis sedang memberikan selamat kepada Roy, disana, perempuan yang berada disebelah Roy bukanlah Gadis Ayunda, tetapi perempuan lain.
Dengan cepat Genta menyusulnya, lalu berdiri disebelah Gadis dan menarik tangan perempuan itu.
"Genta" sapa Gadis dengan wajah begitu cerah.
"Dis" Genta sangat bahagia, bahagia karena menemukan Gadis saat ini.
"Ta, Lo bikin gue digosipin sama tamu gue" kata Roy menyapa kedatangan Genta.
Ah, Genta sampai mengabaikan Roy. Dia menyalami Roy dan mempelai wanita, lalu tersenyum canggung karena lagu yang dia bawakan tadi.
"Gila Lo ya. Istri gue dikira ninggalin elo" sambung Roy
"Sorry gue kira lo nikah__" Genta melirik kearah Gadis yang juga menertawai nya.
"Lo gak baca undangan dari gue?" Tanya Roy.
Genta menggeleng, tidak ada yang menunjukan undangan kepadanya, Gara hanya membahas kalau Roy akan menikah. Tapi tidak menunjukan dengan siapa Roy menikah.
"Gue udah kirim ke alamat elo, sorry Lo udah pindah ya?" Roy menggaruk tekuknya karena mengirim undangan ke alamat Genta yang lama.
"Tapi temen temen elo pada dapet semua"
Sialan. Ternyata Genta sedang di bodohi oleh keempat temannya. Mereka bahkan berakting seolah olah, Gadis yang menikah hingga membuat Irvan menyeret paksa Gara.
π‘π‘π‘
Genta mengajak Gadis sedikit menjauh dari kerumunan, sedikit canggung karena sudah enam tahun mereka tidak bertemu.
"Lo apa kabar?" Tanya Genta.
Gadis tersenyum, lalu menatap kearah depan dimana para tamu sedang berbincang-bincang.
"Baik, kamu?"
Gadis masih sama, suaranya tetap selembut dulu, yang beda hanyalah Gadis sudah mengenakan riasan dan itu membuat dirinya terlihat cantik. Mampu membuat Genta terbius karena kecantikannya.
"Baik" jawab Genta tetap memandangi wajah Gadis "Lo udah nikah atau udah punya pacar?"
Gadis menoleh kearah Genta, lalu menyembunyikan anak rambut kebelakang telinga. Sebuah cincin menghiasi jari manis Gadis, dan itu membuat jantung Genta berdegup semakin kencang.
"Hidup tanpa ayah dan ibu buat aku harus kerja keras Genta, gak ada waktu buat aku seneng seneng seperti itu"
Genta menghembuskan nafas dengan lega, tiba tiba tangannya yang dingin mulai menghangat. Syukurlah Gadis belum memiliki kedua duanya, harapan untuk kembali bersama Gadis semakin besar.
"Kamu sendiri?"
Genta menatap lekat kearah mata Gadis, mata lemah perempuan itu. Genta gemas sendiri hingga ingin mencium Gadis.
"Emangnya ada perempuan sebaik kamu di dunia ini?" Goda Genta.
"Ta, ajak ke hotel terus di ajak mantap mantap" Gara yang membawa segelas minuman ikut bergabung.
"Ganggu aja Lo" sinis Genta.
"Dis apa kabar?" Gara mengulurkan tangan yang diterima Gadis namun di pelototi Genta.
"Baik, kamu gimana?"
"Makin terkenal gue Dis, gak tahu ya lagu gue udah diputer di tv tv" kelakar Gara dengan bangga.
Gadis tertawa mendengar itu, memangnya siapa yang tidak tahu Kera band saat ini, hampir semua lagu diputar di sudut kota. Di putar para remaja remaja yang selalu menonton YouTube.
"Haii Dis, udah lama ya gak ketemu, makin cakep aja" Irvan dengan berani terang terangan memuji Gadis didepan Genta, tanpa memperdulikan reaksi Genta.
"Ha ha" Gadis tertawa lebar "Makasih Lo Van, Oh ya, aku sering beli Snack buatan kamu"
Irvan tertawa mendengar itu, lalu tidak lama Eles dan Antar juga ikut bergabung setelah mencicip makanan yang di hidangkan oleh Roy.
"Eles disini juga?" Tanya Gadis menyambut kedatangan Eles.
"Udah tiga bulanan ini lah, tapi masih numpang di rumah Irvan" kata Eles.
"Gak numpang Les, gue kesel deh denger elo ngomong gitu" Irvan memutar mata malas "Lo tinggal sama gue"
Eles mendorong bahu Irvan "Iya iya bosqueee"
"Kak Gadis tambah cantik, gue jadi makin ngefans" puji Antar yang semakin berani.
"Kamu berhasil gak kuliah di UI, itukan cita cita mu dari dulu"
"Wah udah jadi dosen dia Dis, tapi di pecat gara gara dua bulan gak masuk kelas" kata Gara.
"Jangan bilang bilang kenapa sih bang" protes Antar.
"Kerja dimana Lo Dis?" Tanya Irvan kepada Gadis yang sedang curi curi pandangan ke Genta.
"Rumah sakit plasma, aku jadi psikiater" Gadis mengeluarkan kartu nama di dompetnya lalu menyodorkan satu persatu "Dateng ya, siapa tahu kalian butuh temen"
"Wah kebetulan nih, temen kita si Genta ini udah mulai gila" Gara menepuk bahu Genta "Gila ditinggal pacarnya enam tahun Dis, sampe di acara pernikahan orang nyanyi galau"
"Sialan Lo" Genta menatap tidak suka kearah Gara, namun justru ditertawakan oleh Gadis.
"Udah lama kak di Jakarta nya?" Tanya Antar.
"Lulus Kuliah langsung kesini" kata Gadis kembali menatap Genta yang seperti terkejut.
"Kok gak kasih tahu aku?" Tanya Genta.
"Elah, emangnya elo siapanya Gadis pak? pakek acara dikasih tahu" cela Gara.
"Pergi gak Lo" Genta mendelik.
"Iya iya pergi, yuk ah kita kasih ucapan selamat ke Roy kiyoshi" ajak Gara ke pada empat temannya.
Kini hanya ada Gadis dan Genta yang berdiri canggung, Genta sempat curi curi perhatian.
"Kenapa gak ngasih tahu kalau kamu di Jakarta?" Tanya Genta.
"Aku sibuk jalanin magang di rumah sakit Ta" Gadis mengelus lengannya karena gugup "Aku sempat tanya ke mama mu, katanya kamu gak mau pulang ke Jakarta, dan aku kira kamu mau nikah sama orang Semarang"
Bodoh, jadi selama dua tahun yang lalu Gadis sudah di Jakarta sedangkan Genta justru sibuk menunggu kedatangan Gadis.
"Gue sempat kerja di Semarang Dis, gak ada siapa siapa gue disana, beneran" Genta berusaha menyakinkan yang membuat Gadis tertawa.
"Iya, aku percaya kok"
"Aku__" Genta menatap kearah Gadis.
"Ta, manggung lagi" ajak Irvan.
note : mana yang seudzon dari kemarin?