Why Me?

Why Me?
[Part 4: Kecewa]



Ketika Nana membuka pintu dan melihat sosok yang ada dibalik pintu. Yang tadinya dia terlihat sedikit bersemangat meski masih dengan muka datarnya, langsung berubah menjadi super datar bahkan terlihat sedikit kecewa. Karena yang ada dihadapannya bukanlah sosok yang ia dambakan melainkan dua orang pria tinggi dan besar yang memakai mantel hitam dengan raut wajah menyeramkan.


"Dimana Ayah dan Ibumu?" Tanyanya pada Nana dengan suara baritone-nya.


"Mereka sedang ada di luar kota" Jawab Nana dengan pelan.


"Benarkah? Kalau begitu tolong tanyakan kepada kedua orang tuamu itu kapan mereka membayar hutang mereka!!" Ujarnya dengan penekanan di setiap katanya, yang membuat hati Nana ciut mendengarnya.


"Baiklah, nanti akan saya sampaikan pesan anda tapi untuk sekarang kami belum bisa membayar hutang kami.." Ujar Nana dengan badan sedikit gemetar.


"Kalau kalian tidak membayar hutang kalian..maka-"


BRAKK!!


Suara hantaman ke dinding oleh lelaki besar bermantel hitam itu, membuat Nana tersentak dan terbelalak karena terkejut.


"AKAN KAMI AMBIL SEMUA HARTA KALIAN DAN KALIAN AKAN KAMI HABISI!! MENGERTI?!?!" Bentaknya seraya melangkah pergi diiringi rekannya dibelakang.


Sedangkan Nana langsung terduduk di depan pintu karena kakinya tiba-tiba merasa lemas. Adik-adiknya yang mendengar suara gaduh langsung berlari menuju sumber suara, dan melihat kakak mereka yang terduduk di lantai dengan cepat mereka menghampirinya kakak mereka.


"Kakak kenapa? Siapa yang bertamu tadi Kak?" Tanya Niel khawatir.


"Iya Kak! Nayya khawatir sama Kakak!" Timpal Nayya seraya memeluk Kakak mereka itu.


Nana yang melihat kedua adiknya yang panik dan mengkhawatirkannya, segera mencoba untuk menenangkan mereka.


"Kak Nana ngak papa kok Naiel, Nayya. Itu tadi ada orang yang nagih hutang.." Ujar Nana seraya tersenyum palsu lagi.


Sebenarnya, Nana tadi ingin membayar hutang dengan uang dari kompensasi yang diberi oleh bos dari restoran tempat dia bekerja, namun dia berpikir kalau uang itu hanya cukup untuk kebutuhan mereka kalau dibayarkan untuk hutang lalu mereka bertiga bagaimana? Akhirnya dia mengurungkan keinginannya itu.


"Gimana kalau kita sarapan? Kakak tadi lagi masak bubur ayam loh, kesukaan kalian." Ujar Nana berusaha mengalihkan pembicaraan yang disambut adiknya dengan baik.


"Bubur ayam? Yeayy!!" Ujar mereka berdua dengan kompak lalu berlari dengan cepatnya menuju meja makan.


"Bentar ya, Kakak siapin dulu kalian duduk manis ya." Ujar Nana seraya mulai menyalakan kompor dan memasak bubur untuk kedua adiknya.


Ketika sudah siap dia pun menyajikan dan mereka pun makan dengan lahap, setelah selesai makan mereka pun berangkat ke sekolah.


***


Sekali lagi, Nana berjalan di kerumunan manusia yang tidak memperdulikan sekitarnya, dan sekali lagi Nana berjalan dengan langkah pelan dan kepala yang ditundukkan menuju tempat yang disebut kebanyakan orang adalah 'sekolah'.


Ketika bel tanda pulang berbunyi, Nana menghela napas lega karena akhirnya semua kesengsaraan ini berakhir walaupun untuk sementara. Dia bangkit dari kursinya, mengambil tasnya melangkah pergi ke luar kelas, sepanjang lorong dia melamun memikirkan dimana dia akan mencari tempat kerja yang baru, dikarenakan tempat dia bekerja sudah hangus terbakar.


BRAGH!


Nana menghela napas panjang,  dia kembali melangkah namun tiba-tiba dia tersandung oleh sesuatu, dan Nana pun terjatuh dengan wajah terlebih dahulu mencium lantai. Terdengar suara gelak tawa, ternyata 'sesuatu' yang membuat Nana tersandung tadi adalah kaki seseorang. Orang itu sengaja menjulurkan kakinya agar Nana yang sedang melamun itu jatuh tersandung.


Nana pun mendongak untuk menatap siapa yang membuat dia tersandung. Terlihat seorang gadis berambut pirang yang diikat dua dengan rok yang sangat pendek, sampai-sampai Nana hampir bisa melihat dalamannya. Nana dengan cepat bangkit dan menatap gadis itu dengan sorot mata tajam yang mana membuat gadis itu terkejut karena tidak menyangka bahwa Nana bakal menatapnya dengan tatapan tajam seperti itu.


Braghh!!


Gadis itu kesal dengan tatapan mata Nana lalu dia mendorong Nana hingga kembali terduduk di lantai.


"Woy rendahan! Berani juga kamu natap aku dengan tatapan seperti itu!! Ngak ingat ya kamu itu siapa?! HAHH!!" Bentaknya seraya menarik kerah baju Nana, Nana yang diperlakukan seperti itu hanya menatap datar dan menghela napas yang membuat gadis itu makin geram.


Sebenarnya, Nana bisa saja melawan dan memukuli habis gadis berambut pirang kuncir dua ini. Namun keinginan itu dia pendam dalam-dalam, karena dia tau akan konsekuensinya jika dia melakukan itu. Dia pasti akan dikeluarkan dari sekolah,  walaupun misalnya Nana mengatakan itu sebagai perlawanan atau perlindungan diri dari tindakan pembulian dan penindasan, pasti tidak ada yang bakal percaya dan pada akhirnya mereka pasti akan menganggap Nana yang salah, karena Nana juga tidak ada kekuatan untuk melawan dan memutar balik fakta seperti para anak orang kaya itu selalu lakukan.


"WOY KOK MALAH DIAM!! KENAPA?! TADI BERANI BANGET MELOTOT KE AKU SEKARANG KOK CUMAN DIAM AJA! MASANG MUKA DATAR DAN TATAPAN KOSONG YANG BODOH ITU!! TAKUT YA!? HUH EMANG YA ORANG MISKIN KEK KAMU ITU PASTINYA PENGECUT, PENAKUT, RENDAHAN, SAMPAH NGAK BERGUNA!! NGAK PANTES SEKOLAH DI SEKOLAH ELIT KEK GINI!!" Ujarnya mengejek Nana seraya menjambak rambut hitam legam Nana dengan kasar.


Siswa-siswi lain yang menyaksikan kejadian ini hanya diam saja, tidak ada yang berniat untuk menolong Nana, menonton Nana dibuli seperti sebuah tontonan yang menarik, mereka bahkan menertawakan Nana, ikut menghina dan mencaci makinya, menonton Nana dipermalukan, bahkan ada yang merekam kejadian pembulian ini untuk dijadikan bahan lelucon.


Nana hanya menerima perlakuan ini dengan pasrah, meski di dalam hati dia merasa kesal, marah, sakit, sedih, yang bercampur aduk menjadi satu, dan bergejolak bagai hendak meledak namun Nana berusaha menahannya dengan sekuat tenaga.


"Maaf.." Ujar Nana meminta maaf dengan lirih seraya matanya mendelik ke arah samping.


Gadis pirang yang mendengar itu tersenyum miring lalu menarik rambut Nana dan mendekatkan wajah Nana kehadapan wajahnya. Meludahi wajah Nana yang membuat Nana tersentak dan refleks mengelap ludah yang ada dipipinya dengan lengan bajunya.


"Apa? Kamu tadi bilang apa? Aku ngak dengar, coba bilang sekali lagi!" Ujarnya seraya menarik rambut Nana lebih keras yang mana membuat Nana meringis kesakitan lalu menatapnya.


"A-aku..minta maaf.." Ujar Nana meminta maaf sekali lagi yang membuat gadis pirang tadi tertawa terbahak-bahak sampai menangis.


"Ahahahaha....Aku ngak nyangka kalau sampah rendahan seperti kamu bisa minta maaf Wahaha..aduduh sakit perutku.." Ujarnya tertawa terbahak-bahak seraya memegangi perutnya.


"Ternyata orang tuamu yang merupakan sampah ngak berguna, makhluk rendahan itu ngajarin kamu minta maaf ya!! Aku ngak nyangka kukira sampah busuk seperti kau dan orang tuamu ngak bisa minta maaf!! Wahahahahaha-"


BUGHH!!!


Suara tawa gadis pirang itu terpotong, ketika Nana menghantam wajah gadis itu dengan sangat keras hingga dia jatuh tersungkur. Gadis pirang itu tak percaya dengan apa yang terjadi, dia memegangi pipinya yang terkena tinjuan dari Nana. Sementara yang lainnya tersentak kaget, mata mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga lebar melihat hal itu. Mereka tidak menyangka Nana yang selama ini hanya diam memasang wajah datar dan tatapan kosong ketika mereka caci maki, hina, ejek, rendahkan, tindas, buli, berani melawan balik.


[CONTINUE?]