
Genta menyusuri koridor rumah sakit , saat dia bertemu dengan Gadis, perempuannya itu lantas memeluk Genta sambil terisak.
"Papa sempet ngeluh sakit, aku takut Genta" rintihnya.
Genta mengusap punggung Gadis, berusaha menguatkan perempuan itu.
"Gak ada apa apa" katanya.
Didepan ruang ICU itu, ketakutan Gadis mengalir ke Genta, entah kenapa Genta juga merasa takut, takut jika Martine sudah tidak sanggup lagi.
🏡🏡🏡
Genta kembali kerumah pukul enam pagi, dia harus bergegas kesekolah. Minggu depan ujian UN, Genta tidak boleh melewatkannya. Minggu Minggu ini boleh dikatakan memang Minggu tenang namun Minggu ini adalah Minggu persiapan sebelum ujian.
"Gimana keadaan papanya Gadis?" Tanya Rani ketika memberikan sereal ke Genta.
Lelaki itu mengusap wajah sambil memakan sereal dengan hati hati.
"Sempet drop, kritis banget"
"Emangnya TBC otaknya udah parah?"
"Udah, Om Martine juga punya riwayat diabetes, sama lemah jantung"
"Pasti berat buat Gadis" Rani duduk disebelah putranya "Kamu kasih dukungan ke dia ya"
Genta mengangguk "Gimana makan malam semalam sama Om itu?"
Rani berhenti mengunyah, dia menatap kearah Genta.
"Lancar" Rani jadi teringat percakapannya semalam dengan Richard, lelaki itu menyarankan Rani untuk memberi kebebasan Genta dalam hal memilih, dan Rani merasa bersalah dengan pengekangan terhadap putranya.
"Genta" panggil Rani "Kamu kangen papa kamu?"
Genta melongo menatap Rani, tumben ibunya menanyakan seputar Akmal. Bahkan dulu dulu Rani hampir tidak pernah mau membahas apapun mengenai mantan suaminya.
"Kamu" Rani ragu untuk mengatakannya "kamu boleh bertemu papamu, kamu juga boleh menerima apapun dari dia"
Kenapa tiba tiba? Maksudnya Genta memang senang dengan keputusan semacam ini tetapi kenapa harus mendadak, apa karena Rani ingin mengusirnya dan mengganti dengan kehadiran Richard. Ah tidak, Genta tidak boleh berpikiran seperti itu.
Genta menggeser kursi dan berjalan pergi tanpa menghabiskan serealnya, dia masih belum bisa menerima jika keputusan Rani karena ingin menyingkirkan Genta.
🏡🏡🏡
Dikelas, Genta hanya termenung sendirian, dia banyak memikirkan tentang Rani. Bahkan ketika Irvan kembali kekelas setelah berpacaran dikantin dengan kekasihnya, Genta masih melamun.
"Kesambet elo ngelamun terus" Irvan menggeser kursi dan duduk, lalu mengangkat kaki untuk dinaikan diatas meja.
"Mikirn Gadis Lo?"
"Enggak, mikirin nyokap"
Irvan menatap kearah Genta yang masih mencoret coret buku tulisnya dengan asal.
"Ada masalah?" Tanya Irvan sambil merogoh saku celana.
"Nyokap kayaknya mau nikah"
Tidak ada sahutan lagi dari Irvan, keduanya kompak diam dengan isi kepala masing masing.
Banyak jam kosong hari ini, kelas juga keadaan sepi karena banyak yang pergi ke kantin atau ke perpustakaan. Ketika jarum jam menunjukan pukul sepuluh, ponsel Genta bergetar, lelaki itu merogoh saku celana dan menatap nama sipemanggil, Gadis, kenapa perempuan itu menghubunginya?
"Hal___"
Suara tangis Gadis disebrang membuat Genta menegang, jantungnya berdegup kencang.
"Papa" suara Gadis berhenti, hanya ada tangisan yang terdengar "Papa gak ada"
Rasanya Genta ikut berhenti bernafas, Genta memindahkan arah tatapan ke Irvan yang menatapnya dengan bingung.
"Yang, maksud kamu apa?" Tanya Genta memastikan arti perkataan Gadis.
"Genta kesiniiii" raung Gadis.
Selesai ucapan Gadis, panggilan terputus, Genta jadi takut sendiri, takut ada apa apa dengan anak itu. Tas yang ada diatas meja lantas dia sambar dan Genta dengan cepat berlari meninggalkan kelas.
🏡🏡🏡
"Papa bangun, papaa" suara tangisan Gadis itu memenuhi ruangan.
Hanya ada dirinya sendirian di ruang ini selain dokter dan suster, anak malang ini menangisi kepergian Martine yang secara mendadak. Sekali lagi Gadis menggoyangkan tubuh Martine, meminta Martine bangun.
"Papa janji akan nemenin Gadis, papa janji bakalan ada disini sama Gadis"
Raungan Gadis semakin keras, Gadis meremas kemeja terakhir yang dikenakan Martine. Padahal tadi pagi Martine ingin makan bubur hingga Gadis keluar sebentar dari rumah sakit untuk membelinya, namun ketika dia kembali, ruangan Martine sudah dipenuhi oleh perawat.
"Gadis" Genta merangkul tubuh Gadis dari samping.
Perempuan yang mengenakan kaos biru muda dengan celana jeans itu menangis sesegukan di dekapan Genta.
"Papa tadi pengen bubur Ta, tapi belum sempet di makan"
Genta menatap kelantai, plastik warna putih dengan bubur didalamnya. Pelukan Genta semakin diperkuat dengan tangisan Gadis yang semakin kencang.
"Papa gak pergi kan Ta, aku gak punya siapa siapa selain papa di dunia ini"
Genta menatap kearah Martine, wajah damai kematian menghiasi wajahnya. Genta memejamkan mata sambil memeluk tubuh kecil Gadis.
"Gentaaaa Tuhan jahat banget sama aku, kenapa Tuhan ambil dua duanya orang yang berarti di hidupku"
Genta hanya diam saja, dia bisu setengah mati. Apa yang hari ini menimpa Gadis begitu dia rasakan sakitnya.
"Cantik ya Om" saat itu Genta begitu berani memuji Gadis didepan Martine, hingga membuat wajah Martine yang cerah saat memandangi wajah putrinya.
"Jangan kau sakit anak satu satuku" kata kata berat berwibawa khas Martine kembali terdengar.
Genta mempererat pelukannya, didekap Gadis dengan kekuatannya selama potongan potongan percakapan Martine dan Genta terputar kembali. Terdengar samar samar ditelinganya.
Tubuh Gadis melemah, Gadis ambruk kedalam pelukan Genta.
"Dis, sayang, Dis" Genta menepuk pipi Gadis, perempuan itu masih saja memejamkan mata rapat rapat. Seolah enggan terbangun dari mimpi paling berat sepanjang hidupnya.
🏡🏡🏡
Minggu ini adalah Minggu terberat untuk Gadis, Genta selalu bolak balik kesana, menghiburnya, menemani Gadis yang selalu menangis dan enggan makan. Genta selalu datang lagi, datang pagi hari dan pulang malam hari, hanya untuk menemani dan kembali mewarnai hidup Gadis.
"Minggu depan kita ujian" Genta duduk di bawah kaki Gadis, menangkup kedua tumit Gadis.
"Kamu harus makan, kalau kamu gak makan, papa pasti sedih"
Mata Gadis kembali berair jika menyangkut soal Martine, berat rasanya kehilangan separuh jantung Gadis.
"Waktu kecil aku di tinggal ibu" Gadis sesegukan sambil berpegangan pada lengan Genta "Aku belum paham apa apa tapi aku masih ingat jelas gimana perasaan papa hari itu, papa nangis, natap kearah ku tanpa nyawa"
Gadis sesegukan dengan hebat, air matanya sampai jatuh dan menetes ke tumit nya sendiri.
"Sekarang aku ngerti perasaan papa, aku kehilangan mereka Ta, padahal aku masih butuh papa. Aku butuh papa" raung Gadis.
Genta memeluk Gadis dengan erat, menyalurkan kekuatannya.
"Masih ada aku disini, aku akan jaga kamu, aku yang akan gantikan Om Martine"
Gadis memeluk Genta dengan kencang, membasahi kaos hitam Genta dengan air matanya. Gadis kehilangan semua, semua kebahagiaan dia di regut oleh Tuhan. Ibunya meninggal saat Gadis masih kecil dan sekarang, harus papa juga.
Pelukan itu berhasil mengantarkan Gadis menuju mimpi indahnya, perlahan lahan Genta merebahkan tubuh Gadis, mengusap rambut perempuan itu dan menyelimutinya.
"Gadis sudah tidur?" Tanya Ana, adik Martine.
Genta mengangguk kemudian duduk di meja makan bersama Ana.
"Kamu pasti pacarannya Gadis ya?" Ana ikut duduk didepan Genta "Makasih ya selama seminggu ini kamu mau nemenin Gadis"
Genta mengangguk sekali lagi, dia terus menatap kearah sendok sendok yang berada di keranjangnya.
"Eee Tante khawatir sama Gadis"
Genta mendongak menatap wajah Ana yang tengah mengusap usap jari jemarinya.
"Tante gak bisa terus terusan ada di Jakarta, Tante punya anak disana, dan kalau Tante harus tinggal di Jakarta, itu gak mungkin" kata Ana.
"Genta, kalau kamu mau. Kamu tolong bujuk Gadis supaya ikut tante ke Aceh, disana Tante bisa ngerawat Gadis seperti anak Tante sendiri"
Genta tidak bisa berkedip, mulutnya terkunci rapat. Membujuk Gadis? Itu tidak mungkin, sama saja membiarkan Gadis nya pergi dari sisinya. Genta tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi.
🏡🏡🏡
Gadis terbangun dan mulai menyadari bahwa Martine sudah pergi, Martine tidak ada disini, tidak ada yang memintanya membuatkan makanan paling lezat yang bisa membuat Martine tertawa.
Saat menyadari itu, Gadis menatap tantenya Ana sedang menatap kearahnya sambil mengulum senyum. Ana adalah adik Martine satu satunya.
"Tante" Gadis mendekati Ana dan memeluk perempuan itu.
"Papa__" Gadis kembali terisak lagi, lagi dan lagi.
Bahkan jika menumpahkan seluruh air matanya pun tidak akan bisa membuat Gadis merasa lega. Ana sedikit menjauhkan tubuhnya lalu membimbing Gadis duduk di sofa kamar.
Di sekanya air mata keponakan satu satunya itu, lalu Ana mengusung senyum dari bibir.
"Sayang, Tante tahu ini berat. Tapi kita harus bisa ngelewatin ini semua" kata Ana sambil memegang tangan Gadis.
"Kamu mau kan ikut Tante ke Aceh, kita ke sana, kamu tinggal sama Ayu, Rizal dan Maxs" rayu Ana "Tante gak bisa harus di Jakarta terus, adik mu Maxs butuh Tante"
Gadis menatap wajah Ana, menatap kesungguhan perempuan itu untuk merawatnya. Gadis melepaskan genggaman tangan Ana lalu menatap kearah depan. Meninggalkan Jakarta, itu berarti Gadis juga harus meninggalkan Genta, itu berarti Gadis harus meninggalkan semuanya yang ada disini.
Gadis mengamati wajah Ana yang menunggu jawaban Gadis.
"Tante. Gadis butuh waktu buat mikirin hal ini" katanya.
Ana mengangguk, setelah anggukannya ada suara ketukan dari luar. Ana keluar untuk membukakan pintu, tidak lama dia kembali lagi ke kamar Gadis.
"Ada Genta" kata Ana.
Gadis berjalan pelan dan menatap Genta yang sudah kembali lagi ke rumahnya, padahal tadi dia sudah kesini dan membuat Gadis bisa tertidur.
"Udah bangun?" Tanya Genta lantas memeluk Gadis.
Perempuan itu mengencangkan pelukan sambil menghirup aroma Genta.
Genta menguraikan pelukan keduanya lalu duduk di sofa dan menatap Gadis yang juga ikut duduk disebelahnya.
"Genta jalan yuk, bosen dirumah" cengiran itu mengakhiri kalimat Gadis.
🏡🏡🏡
Empat hari berturut turut dihajar oleh ujian, kini ujian terakhir berakhir di laksanakan, selama itu pula hubungan Genta dan Gadis semakin dekat. Bahkan Genta selalu pulang malam untuk menemani Gadis.
Setelah keluar dari ruang ujian. Genta berjalan santai menuju ruang kelas ujian Gadis. Menunggu perempuan itu jika dia belum selesai.
"Ta, gue mau ngomong" dari belakang suara Irvan terdengar menggema di lorong.
Genta menoleh, lalu menaikan alis karena heran. Tumben sekali Irvan ingin berbicara hingga meminta persetujuannya, biasanya Irvan langsung pada inti yang ingin dia sampaikan.
"Apa?"
"Ikut gue bentar, ke ruang OSIS" ajak Irvan sudah mendahului Genta.
Sebelum mengikuti Irvan, Genta mengirim pesan kepada Gadis untuk memintanya menyusul ke ruang OSIS, setelahnya Genta menyusul kepergian Irvan.
Sampai disana, pintu ruang OSIS ditutup setelah Genta masuk kedalam, tampak sesuatu yang sangat penting hingga Irvan berbicara empat mata secara resmi seperti ini.
"Kenapa sih?" Tanya Genta tetap berdiri dan menatap Irvan yang mulai memandangnya dengan sedih.
"Gue miris sama hubungan kita belakangan ini" jujur Irvan.
Genta masih diam, menunggu Irvan mengutarakan maksudnya.
"Pertama gue ngerasa Lo semakin egois setelah bonyok Lo cerai, Lo lebih banyak fokus sama diri Lo sendiri ketimbang gue, Antar, Eles bahkan Gara sekalipun" Irvan berkacak pinggang sejenak lalu memasukan tangannya kedalam saku celana "Tapi makin hari gue semakin mikir, gue bukan lagi temen elo Ta"
Genta memaku, apa maksud Irvan?.
"Apalagi sekarang, Lo sibuk sama Gadis ketimbang gue, Lo jarang banget ngumpul sama kita Ta, bahkan bisa dihitung berapa kali Lo dan gue ngobrol diluar kelas"
Genta menarik nafas "Jangan kayak anak kecil Van" tegasnya.
"Lo ngerasa gak sih Ta, kita udah bener bener jauh, gue kehilangan Genta Edenata temen gue yang dulu"
"Van, Lo tahu kan Gadis baru aja kehilangan bokapnya. Dan di kondisi sekarang, Gadis butuh gue"
"Gue tahu" pekik Irvan "Gue tahu Ta. Tapi apa harus Lo ngabisin waktu elo sama dia ketimbang ngumpul sama gue dan Antar?" Irvan menarik nafas.
"Kita udah kehilangan Eles sama Gara, dan sekarang apa gue juga harus kehilangan elo juga?, Mana Kera band yang dulu. Mana Genta yang gue kenal? Mana Genta yang selalu ngumpul sama gue mana?"
"Van" Genta memekik "Jangan egois, gue gak jauh, cuman kondisinya sekarang yang bikin kita jarang ngumpul"
"Semua karena Gadis" kata Irvan membuat Genta melotot "Lo jauh dari kita. Lo lebih mentingin dia ketimbang gue dan Antar" Irvan menarik nafas begitu sesak, semua emosinya berkumpul hari ini.
"Kita pernah janji gak akan berantem karena cewek, tapi gue ngerasa Gadis udah nguasai elo sepenuhnya. Bahkan sebucin bucinnya gue dulu, gue gak pernah sampe ngelupain temen"
Genta jengah sendiri, dia berbalik badan dan hendak pergi. Baginya berdebat mengenai posisi siapa yang lebih berharga sangatlah percuma. Gadis dan Kera band tidak bisa di pilih, keduanya sama sama berarti.
"Taaa" panggilan Irvan membuat Genta menoleh penuh kekhawatiran, ada yang tidak beres dari Irvan.
"Gue hamilin anak orang Ta"
Kalimat selanjutnya membuat Genta mengernyitkan dahi.
"Gue buntingan anak orang Ta" adu Irvan hampir terisak.
Jadi ini inti kenapa Irvan marah marah padanya, kenapa Irvan protes pada hal yang sebenarnya tidak pantas diperdebatkan.
"Lo gak tahu kan? Gue butuh temen saat ini"
Genta mendekati Irvan dengan wajah serius "Siapa ceweknya?"
Irvan menunduk "Pelangi".
**note : yang nanya kapan Gara tahu kalau Benua adiknya, nanti ada squel buat Gara.
terus cerita Irvan yang ngehamilin anaknya orang gak dijelasin rinci disini, karena Irvan juga akan ada squel.
nah kenapa Eles pindah? kalian pernah denger pepatah "perpisahan selalu berdampingan dengan pertemuan"
pokoknya pindahnya Eles ini berhubungan sama takdirnya Gara, (di squel nya)
sabar ya, ini Why Me bakalan panjang banget part nya. makasih udah sabar nunggu mood ku balik.
Mama Baek, mami nesa, Jojo, Simon, mprit, dedev, Mama Reza. dan segenap Mama hot, i love u ❤
kalian juga para pembaca ku, makasih udah bertahan sampe part ini. asli sih ini titik aku males buat nulis, banyak tugas kuliah, banyak kerjaan, ❤❤❤**