Why Me?

Why Me?
Why Me? 47



Genta sampai di ruang BK dan hanya mendapati kecewa saja, meski tanpa duduk dan mendengarkan maksud tujuan Bu Neli memanggilnya pun, Genta merasa sudah tahu apa yang akan di bicarakan guru BK nya itu.


"Duduk dulu Genta" perintah Bu Neli yang mengamati wajah babak belur nya.


"Wajah kamu kenapa? Habis berantem?" Selidik Bu Neli.


Yah Genta tahu kenapa dia di panggil kesini, hanya melihat Akmal duduk di sofa tamu saja Genta tahu maksud tujuan Bu Neli memanggilnya. Pasti Akmal meminta Bu Neli mengijinkan Genta pulang lebih awal.


"Saya gak papa Bu" akhirnya Genta memilih duduk di sebelah Akmal. "ada apa ibu memanggil saya?"


"Kami berterimakasih sekali pada kamu dan papamu, berkat beliau, kita punya fasilitas yang bisa kalian semua gunakan" Tutur Bu Neli mengucapkan Terimakasih nya.


Genta hanya bisa menatap ujung meja tanpa minat mendengarkan ocehan Bu Neli.


"Jadi ketika pak Akmal meminta ijin untuk membawamu pulang, tentu saja kami tidak akan menghalanginya"


"Langsung aja Bu" potong Genta dengan cepat.


Sebenarnya Genta sudah paham inti ini semua, yang jelas dia harus segera mengambil tas dan pergi dari sekolah bersama dengan Akmal, karena lelaki itu sudah meminta ijin ke sekolah.


"Genta yang sopan sama guru mu" tergur Akmal.


"Tidak apa apa pak" Bu Neli tertawa "Genta anaknya memang selalu antusias"


Genta menarik nafas dan semakin bosan mendengarkannya.


"Kamu boleh pulang lebih dulu Genta, nanti biar ibu yang ijinkan kamu ke guru kelasmu"


Genta berdiri dan segera pergi meninggalkan ruang Bk, dia begitu kecewa karena Akmal menjemputnya, kenapa lelaki itu harus kesekolah hanya untuk bertemu dengannya, apakah Akmal ingin menjelaskan pada semua orang bahwa keluarga mereka diambang kehancuran?.


Sampai dikelasnya, Genta langsung mengambil tas tanpa menyapa Irvan yang duduk menunggu kedatangannya. Ah tas ransel yang tadi dibawa Genta memang ditinggal di UKS saat Genta hendak ke ruang BK, namun sudah dibawa Irvan kekelas mereka.


"Ta, ada apa?" Eles yang tadi juga ada dikelas XII IPA2 lantas mengejarnya.


Genta berhenti sebentar "Masalah sama bokap" tuturnya lantas melanjutkan langkah kembali.


Tidak ada yang mengejar Genta lagi, sebab untuk masalah Genta, tidak ada yang bisa membantu, hanya bisa mengulurkan tangan untuk menguatkan.


🏡🏡🏡


Diparkiran Genta menatap Akmal dengan begitu pias, dia hanya tidak habis pikir kenapa Akmal senekat ini hanya untuk mendapatkan hak asuhnya.


"Papa bikin Genta malu tahu gak!" Pekik Genta tertahan.


"Kamu malu?" Akmal tidak percaya dengan kata kata putranya "Papa kesini cuman buat jemput dan bicara baik baik sama kamu" pungkasnya.


"Bicara?" Genta mengeraskan otot otot nya "Kalau papa mau bicara sama Genta, bisa nanti sehabis pulang sekolah atau dirumah"


"Mama kamu gak akan ijinin !!"


Genta mengusap wajahnya dengan frustasi, dia hampir menjambak rambutnya sendiri dengan kasar. Genta hanya mampu menghela nafas dengan berat. Mendengar kata kata Akmal tadi sudah menjelaskan bagaimana keluarga Genta sekarang, bagaimana mengenai hubungan Rani dan Akmal sekarang.


"Papa cuman mau bicara empat mata sama kamu" ujar Akmal melemah.


Sekali lagi, Genta mengambil oksigen sebanyak banyaknya. Dia menatap wajah Akmal yang melemah, entah kenapa ada rasa kasihan di hati, bagaimanapun Akmal adalah ayahnya, sebajingan apapun dia, dia adalah laki laki yang membuat Genta hidup.


"Papa duluan, Genta ngikutin dari belakang" kata Genta ikut melemah.


🏡🏡🏡


Dua botol soda itu diletakkan diatas meja, Akmal duduk di depan Genta sambil menyilangkan kaki, dua kancing jasnya sudah dibuka untuk memudahkan dia duduk.


"Ada apa?" Tanya Genta to the point.


"Kamu akan ikut Papa, tinggal sama papa diapartemen papa" jawab Akmal juga tidak mau menunda nunda tujuannya membawa Genta kemari.


Genta menunduk sebelum meledakkan bomnya. Dia begitu muak dengan segala bujuk rayu yang dilakukan Akmal. Lelaki itu mendongak kembali dan menatap Akmal dengan tatapan tajam.


"Lalu, Genta akan tinggal sama selingkuhan papa, jadi saksi kebahagian papa, gitu?" Angkatan alis sebelah kiri mengakhiri ucapannya.


"Genta, emang benar kalau papa akan menikah. Tapi ini lebih baik dari pada nanti kamu tinggal sama laki laki yang gak kamu kenali"


"Maksud papa?"


Akmal berdiri dan berjalan menuju mejanya, lelaki itu membuka laci meja dan mengambil amplop coklat yang dia sodorkan ke Genta.


"Perceraian ini cuman alasan Mama kamu buat nikah lagi"


Deg


Genta menatap bingung kearah Akmal, dengan ragu lelaki itu mengambil amplop coklat yang disodorkan Akmal barusan. Genta dengan pelan menarik isinya, sebuah foto Rani yang sedang berpelukan dengan seseorang.


Detik itu juga hati Genta terasa seperti diremas, apa tidak cukup jika Akmal saja yang mengkhianati dirinya, jangan Rani juga. Sejauh ini Genta selalu percaya dan akan terus mempercayai Rani.


"Papa gak mau kamu tinggal sama laki laki asing" kata Akmal "Kamu harus ikut Papa"


Mata Genta berair, dia mengedipkan dengan cepat untuk meneteskan air mata dan menghentikan air mata secepatnya, Genta menunduk, meremas foto itu lalu meletakkan ke atas meja. Senyum paksa lagi lagi terbit dari bibirnya.


"Papa kira, cara kampungan kayak gini bisa bikin Genta ikut papa?" Genta berdiri dan mengambil tasnya.


"Genta, papa cuman gak mau nantinya kamu tinggal dengan orang lain yang__"


"Gak ada yang lebih baik, tinggal sama papa juga sama aja, Genta tetep jadi saksi bahagianya papa sama selingkuhan papa" Genta lantas pergi.


🏡🏡🏡


Genta kembali kerumah sekitar pukul dua belas siang. Dia berjalan dengan lemas menuju kamarnya, Genta merebahkan tubuhnya dengan lemas. Apa benar Rani sudah memiliki laki laki lain? Genta memang tidak memiliki hak untuk melarang itu, Rani berhak bahagia, dengan siapapun itu. Tapi kenapa harus secepat ini.


Genta meraih obat tidur yang dia beli beberapa hari yang lalu. Lelaki itu meneguk tiga pil sekaligus, Genta menatap langit kamar nya yang masih sama. Bedanya tatapan Genta kali ini penuh dengan rasa sakit. Tanpa sadar Genta menangis, air matanya turun membasahi bantal berwarna hitam itu.


🏡🏡🏡


Ponsel miliknya sedari tadi berdering, Genta membuka mata dan mendapati kepalanya pusing, ah efek obat tidur masih membuat matanya berat. Genta mengambil ponsel itu, diangkatnya tanpa melihat siapa si pemanggil.


"Ta Lo kemana aja sih?!" itu suara Irvan.


"Sory gue, gue__" Genta menegakkan tubuhnya dan berusaha menajamkan pandangan yang kabur.


"Bokap Eles meninggal"


Mata Genta terbuka lebar, rasa kantuk tadi seperti tertendang hebat oleh kata kata Irvan. Genta memaku, nafasnya sesak.