Why Me?

Why Me?
[Part 1 : Part time]



Setelah selesai melaksanakan hukumannya, bel tanda istirahat berbunyi. Nana kembali ke kelas lalu duduk di bangkunya yang penuh dengan coretan dan sampah, yang berada paling pojok disudut ruangan, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


Sementara anak-anak yang lain pergi ke kantin untuk makan, Nana hanya duduk di kelas seorang diri. Nana sebenarnya lapar dan juga haus, namun dia mencoba untuk menahannya karena dia tidak membawa uang saku dan bekal. Nana pun mencoba untuk tidur agar rasa lapar dan hausnya menghilang, tetapi dia tersadar akan sesuatu lalu terbangun. Dia sadar kalau dia tidur di kelas pasti anak-anak lain akan mengambil kesempatan itu untuk mengerjainya, dan Nana tidak mau itu terjadi, dia pun kembali menatap keluar jendela sekali lagi dengan tatapan kosong. Hingga jam istirahat berakhir dan digantikan dengan jam pelajaran sampai tak terasa bel tanda pulang pun berbunyi.


Seluruh siswa beranjak pergi untuk pulang ke rumah masing-masing begitu juga Nana. Namun, bukan pulang ke rumah melainkan dia akan pergi ke tempat dimana dia kerja paruh waktu.


Dengan berjalan kaki dia menuju tempat kerjanya itu, menatap langit yang masih mendung namun hujan masih saja belum turun. Gadis berambut hitam pekat inipun menghela napas lalu melangkah lagi, tibalah dia didepan sebuah restoran yang ramai, Nana masuk ke restoran tersebut melalui pintu belakang.


Kriiett!


"Selamat siang.." Ujarnya seraya melangkah masuk dan meletakkan tasnya digantungan yang tersedia.


"Siang Nana~" Ujar seorang perempuan paruh baya berambut cokelat terang, yang mengenakan apron yang sedikit kotor karena terkena bahan masakan, yang kini sedang memasak sesuatu seraya tersenyum.


"Oy Nana! Sudah datang? Cepat masuk ganti bajumu dan langsung bekerja! Hari ini banyak sekali pelanggan dan itu membuat kami kewalahan! Jadi cepatlah bantu kami!" Titah seorang lelaki tinggi berambut pirang berkacamata, yang mondar mandir membawa nampan berisi makanan pesanan pelanggan.


"Ba-baik Kak!" Sahut Nana seraya berlari kecil menuju ruang ganti dan mengganti seragam sekolahnya dengan seragam kerjanya, lalu bergegas pergi keluar dari dapur menuju restoran untuk mengerjakan pekerjaannya.


***


Menyambut pelanggan, mengantarkan mereka ke meja, mencatat pesanan mereka, mengambil pesanan, mengantar dan menyajikan pesanannya kepada mereka, membersihkan meja, mengantarkan piring kotor ke dapur, begitu seterusnya siklus itu berulang sampai shift kerja Nana berakhir. Namun masih ada beberapa jam lagi sampai shift kerja Nana berakhir.


Saat Nana lagi sibuk-sibuknya mondar-mandir mengambil dan mengantarkan pesanan makanan pelanggan, tiba-tiba ada segerombolan berandalan masuk membanting pintu dengan keras lalu berteriak-teriak dan membuat gaduh di dalam restoran itu.


"WOHH! INI YA RESTORAN YANG  TERKENAL ITU! LUMAYAN JUGA! PELAYAN!!" Teriak seseorang dari segerombol berandalan itu yang diduga Nana adalah ketuanya. Nana menelan ludahnya lalu berlari menghampiri laki-laki itu.


"A-ada yang bisa sa-saya bantu tuan?" Tanya Nana tergagap karena takut terhadap orang itu, yang berperawakan kekar dan tinggi dengan rambut berwarna merah menyala dan ditangannya ada tongkat baseball yang dipenuhi paku-paku yang sangat banyak.


"Hoo~ Akhirnya..Pelayan cantik yang melayaniku~" Ujarnya seraya menyentuh bahu Nana yang membuat Nana tersentak karena kaget.


"Pelayanku yang manis~ Tuanmu dan anak buahnya ini ingin makan makanan mewah..Jadi bisakah kamu menyediakannya untuk kami~?" Tanyanya seraya mendekatkan wajahnya dan menatap Nana dengan sorot mata aneh, yang membuat Nana bergidik namun masih dengan wajah datarnya.


"Ba-baiklah tuan..mari ikut saya ke me-" Ucapan Nana terpotong oleh lelaki itu karena dia menarik kerah baju Nana dan menatapnya dengan sorot mata tajam.


"KAMU TAU KAN PASTINYA BUKAN DI MEJA BUAT ORANG MISKIN KEK GINI!!!"


BRAKK!!


Bentaknya seraya menendang meja disebelah kirinya yang membuat Nana terkejut lalu sekujur tubuhnya bergetar.


"BAWA KAMI KE RUANG VIP!!! NGERTI!?!?!" Bentaknya yang membuat Nana refleks menganggukan kepalanya.


"Le-lewat sini Tuan-tuan..." Ujar Nana seraya melangkah menuju ruangan VIP diikuti oleh para berandalan itu.


Semua pelanggan yang tadinya sedang asik berbincang-bincang, bersendagurau, dan memakan pesanan mereka dengan lahap, telah pergi melarikan diri ketika segerombolan berandalan tadi masuk dan membuat gaduh, sementara rekan-rekan kerjanya Nana tidak berani untuk mendekat apalagi menolong Nana, namun karena masih ada rasa kesetiakawanan dan rasa peduli terhadap rekan kerja mereka, yang telah bertahun-tahun bekerja di tempat yang sama maka mereka diam-diam menelpon polisi untuk segera datang tanpa sepengetahuan berandalan-berandalan pembuat onar tersebut.


"Pelayanku yang manis~ Siapa namamu kalau boleh aku tau?" Tanyanya seraya menyentuh beberapa helai rambut Nana.


"Na-nana..Naire.." Ujar Nana terbata-bata karena takut namun mukanya masih datar seperti biasa tidak menampakkan sedikitpun rasa takut.


"Nama yang cantik seperti orangnya~ Oy, Nana Pelayanku! Senyumlah~" Ujarnya seraya mencium beberapa helai rambut Nana yang mana membuat Nana bergidik.


"A-anu..Tuan? Tolong pu-putuskan anda akan memesan apa?" Tanya Nana yang sudah tidak tahan dengan situasi yang dihadapinya sekarang seraya melepaskan tangan lelaki  berambut merah itu dari menyentuh rambutnya.


"Hoo~Eum apa ya? Aku bingung nih..gimana kalau kamu yang pesankan makanan yang paling mahal dan paling enak disini untuk kami? Ya Nana~?" Tanyanya seraya tersenyum miring dengan tangan di dagu.


"Ba-baiklah. Makanan paling enak dan mahal untuk 20 orang. Saya akan pesankan untuk anda Tuan. Kalau begitu dimohon bersabar menunggu makanan anda, saya permisi.." Ujar Nana seraya mencatat pesanan dengan tangan gemetar, namun dia tidak terlihat panik dengan muka datarnya.


Nana pun keluar dari ruang VIP lalu berlari kencang menuju dapur, yang membuat semua rekan kerjanya terkejut. Dengan napas ngos-ngosan, Nana memberi catatan pesanan kepada rekan lelakinya, yang badannya tinggi dan berambut pirang, berparas tampan. Laki-laki itupun membacanya lalu menghela napas.


"Dengar semuanya! Kita punya pesanan 20 Beef curry! Dan semua itu harus kita siapkan dengan cepat jadi cepatlah kerjakan!!" Perintahnya yang membuat semuanya tersentak lalu memandang satu sama lain dengan bingung.


"Ta-tapi Daniel..Apakah kita harus melayani b-berandalan i-i-itu?" Tanya perempuan paruh baya tadi dengan raut wajah yang kelihatan bingung dan enggan untuk melayani para berandalan tadi.


"Harus!!" Jawabnya singkat yang membuat semuanya tersentak sekali lagi.


"Kenapa?" Tanya Nana.


"BODOH!! Kita harus melakukannya untuk mengulur waktu!! Apakah aku harus menjelaskannya sekali lagi untuk kalian HAH?!?!" Serunya dengan raut wajah menyeramkan, karena kesal rekan kerjanya tidak mengerti dengan maksud dirinya untuk melakukan hal tersebut.


Rekan-rekan kerjanya Nana yang mendengar hal itu menghela napas lega lalu tersenyum, kecuali Nana, memandang satu sama lain dan menganggukan kepala.


"MENGERTI!" Ujar mereka bersamaan seraya langsung mulai bergerak.


Sementara, lelaki yang sepertinya adalah ketua berandalan dan anak buahnya tadi, sudah habis kesabaran menunggu pesanan mereka yang nantinya tidak akan mereka bayar, ketika sudah selesai makan dan menghancurkan restoran itu. Sebenarnya para berandalan ini melakukan hal ini bukan karena vandalism atau kenakalan remaja belaka, melainkan ada seseorang dibaliknya yang membayar mereka untuk menghancurkan restoran tempat Nana bekerja. Tidak diketahui alasan dan tujuan orang tersebut, bahkan para berandalan ini tidak mengetahui wajah orang tersebut.


                                    [CONTINUE?]