Why Me?

Why Me?
[Part 2 : Burnt]



BRAKK! BRAKK! BRAKK!


"ARGHH!! LAMA BANGET SIH!!" Ujar ketua berandalan kesal seraya memukul-mukul meja dengan tongkat baseball-nya yang dipenuhi paku-paku.


"Bos..Mending kita langsung hancurin aja restoran ini!" Saran salah satu anak buahnya yang berperawakan sedikit gemuk dan besar.


"Hah? Memangnya kenapa?" Tanyanya dengan melirik tajam ke arah lelaki gendut tadi, yang membuatnya bergidik dan dari pelipisnya mengalir keringat dingin.


"Ah..i-i-itu bos..kalau lama-lama disini entar keburu polisi datang bos! Kan bahaya?!?!" Ujar lelaki gendut yang membuat lelaki berambut merah itu merenung lalu mendecih kesal.


"Kau ada benernya juga! Kalau begitu. Semuanya kita bakal langsung saja menjalankan tugas kita untuk menghancurkan tempat ini!!" Perintahnya.


"BAIK BOS!"  Sahut anak buahnya yang langsung melaksanakan perintah ketua mereka.


Mereka melempar vas-vas bunga yang ada diatas meja hingga pecah, menghancurkan meja dan kursi dengan senjata tumpul yang ada ditangan mereka masing masing, menyiramkan bensin ke seluruh sudut di ruang VIP, lalu mereka melangkah keluar dari sana. Setelah itu menyalakan korek api dan melemparkannya kayu yang basah karena air bensin yang mereka tumpahkan tadi yang dalam sekejap api pun muncul, membesar, menjalar dan menyebar ke seluruh penjuru ruangan VIP, membuat suhu ruangan meningkat drastis dan membakar habis seisi ruangan tersebut. Setelah itu mereka melanjutkan untuk menghancurkan ruangan lain di dalam restoran.


Karena kegaduhan dan keributan yang disebabkan oleh berandalan juga asap hitam pekat yang mengepul di udara, seluruh pekerja yang bekerja di restoran itu tersentak kaget dan kebingungan tak terkecuali Nana yang langsung berlari menuju sumber suara namun langkahnya terhenti ketika dia melihat segerombolan berandalan tadi sedang menghancurkan benda-benda, properti, dan seisi ruangan dengan brutal dihadapan matanya.


"A-a-apa..yang KALIAN LAKUKAN?!?!" Teriak Nana yang sontak membuat para berandalan menoleh kepada Nana.


"Yoo~Nana. Maaf ya kami harus buru-buru.. jadi tidak sempat untuk makan makanan yang kamu pesankan untuk kami~" Ujar ketua berandalan berambut merah menyala itu seraya merentangkan tangannya.


Nana merasa geram dan kesal melihat kelakuan para berandalan, yang menghancurkan tempat dia bekerja keras mencari nafkah untuk membantu keluarganya. Nana yang kesal itu pun memberanikan diri berjalan mendekati ketua berandalan itu dan menatap matanya, yang mana membuat lelaki berambut merah menyala itu heran.


PLAKK!!


Tiba-tiba saja Nana menampar wajah ketua berandalan itu dengan sangat keras hingga kepala ketua berandalan itu terhempas kesamping. Semua anak buahnya tercengang melihatnya, semuanya terdiam tidak ada yang bergerak sedikit pun saking kagetnya dengan peristiwa yang terjadi di depan mata mereka. Begitu juga ketua mereka yang terdiam beberapa saat lalu menyentuh pipi yang terkena tamparan keras Nana tadi.


"KENAPA?! KENAPA KALIAN MENGHANCURKAN TEMPAT DIMANA AKU MENCARI NAFKAH INI HAH?!?" Bentak Nana yang membuat ketua berandalan itu menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.


Rekan kerja Nana yang juga menyaksikan hal itu hanya terdiam. Mengucapkan sepatah katapun tidak bisa, apalagi menghentikan Nana yang sedang naik pitam itu.


BRAGH!! BUKK!! BAKK!! BUGH!!


Nana yang tidak mendapat respon apa-apa dari ketua berandalan itu makin naik pitam, diapun memukul, menendang lelaki berambut merah itu hingga terjungkal jatuh dan meringis kesakitan. Yang mana membuat salah satu dari 20 anak buahnya, yang berperawakan gendut tersadar dan langsung berteriak.


"WOY! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP BOS KAMI!!" Teriaknya seraya berlari mendekat hendak menyerang Nana, namun dengan mudahnya Nana menghindar lalu membanting lelaki gendut itu dan menginjak kepalanya.


"Adududuh..ampun-ampun!" Ujarnya kesakitan seraya memohon ampun dan memukul-mukul tangannya ke lantai. Melihat hal itu membuat nyali yang lainnya ciut. Mereka berpikir ketua dan rekan mereka yang berbadan besar saja bisa ditaklukkan Nana, apalagi mereka.


Tiba-tiba suara sirine mobil polisi dan pemadam terdengar di depan restoran, yang mana membuat mereka semua kaget, lalu polisi menerobos masuk dan menangkap para berandalan juga mengevakuasi semua karyawan yang bekerja di restoran tersebut, dan tepat mereka semua keluar dari restoran itu, api mulai membesar dan membakar seluruh isi restoran itu.


Para berandalan yang jumlahnya ada 20 orang tadi, diborgol oleh polisi dan hendak dibawa pergi, namun ada seseorang yang berambut merah yang memberontak dan berteriak-teriak kepada para polisi tidak terima dirinya ditangkap.


"BRENGSEK!?! KEPARAT?!?! LEPASKANN AKU!! LEPASKAN KALIAN POLISI SIALAN!! LEPASKAN!!" Makinya seraya meronta-ronta hendak melepaskan diri, namun usahanya itu sia-sia karena borgol yang terpasang ditangannya itu tidak semudah itu lepas, lalu ketua berandalan dan anak buahnya diamankan polisi dan dimasukkan kedalam mobil polisi dan dibawa pergi.


Setelah 3 jam lamanya akhirnya api dapat dipadamkan, namun restoran itu sudah hangus terbakar hanya tersisa puing-puing, dan tiang-tiang penyangga bangunan restoran, dan sisanya rata dengan tanah. Melihat hal itu Nana merasa sedih dan diapun menangis dengan wajah datarnya yang masih melekat di wajahnya, rekan kerjanya semua juga sedih melihat tempat dimana mereka bekerja, mencari nafkah, menghabiskan hari bersama bertahun-tahun hancur dan hangus terbakar. Namun, mereka tidak menangis seperti Nana.


Melihat Nana menangis dalam diam dengan raut wajah datar namun matanya yang dipenuhi kesedihan, seorang lelaki tinggi berkacamata berambut pirang bernama Daniel tadi, menepuk kepalanya yang otomatis membuat Nana tersentak dan menoleh.


"Hufft...Sudah tidak ada yang perlu ditangisi lagi Nana..ini semua takdir, dan kita semua harus menerimanya" Ujarnya seraya mengelus kepala Nana dengan lembut.


"Ta-tapi..tempat kita semua bekerja hangus..terus gi-"


"Ahhh...ngak usah dipikirin kubilang! Kan kita tinggal cari kerja di tempat lain gampangkan? Ngak usah nangis dengan wajah yang datar itu ngeri tau ngak!!" Potong Daniel seraya mengacak-acak rambut Nana. Nana yang mendengar hal itu tersentak lalu menghapus air matanya dengan kasar.


"Bener juga ya kata Kak Daniel!" Ujar Nana menyetujui dan itu membuar Daniel tersenyum tipis lalu melingkarkan lengannya dibahu Nana.


"Nah gitu dong! Ngomong-ngomong tadi kamu keren juga berantemnya belajar dimana?" Tanya Daniel penasaran.


"Itu..ayah yang mengajariku..hehe" Ujarnya seraya tertawa kecil meski mukanya masih datar.


"Ohh...lain kali ajarin aku ya?" Pinta Daniel.


"Eh? Bo-boleh aja.." Sahut Nana.


"Udah nangisnya Nana?" Tanya seorang wanita paruh baya tadi seraya tersenyum.


"Udah, Bi Laiel" Jawab Nana.


"Baguslah.." Ujar wanita paruh baya yang bernama Laiel tadi.


"Kalau begitu, aku mau pulang ya Kak Daniel, Bi Laiel..semuanya!!" Ucap Nana pamit lalu berlari pergi meninggalkan semua rekan kerjanya yang mulai sekarang bukan lagi rekan kerjanya dan itu masih membuat Nana merasa sedih.


[CONTINUE?]