Why Me?

Why Me?
Prolog



Di pagi Senin yang mendung, cahaya matahari yang tertutupi awan-awan kelabu, angin yang berhembus kencang menerbangkan dedaunan-dedaunan kering, suara kicauan burung yang terdengar sayup-sayup tertutupi suara kendaraan motor yang memekakkan telinga, asap-asap kendaraan mengepul yang membuat siapa saja yang menghirupnya akan terbatuk-batuk, lalu lalang manusia yang mementingkan urusan masing-masing berjalan tanpa memperdulikan sekelilingnya.


Didalam kerumunan manusia itu, nampak seorang gadis berambut hitam panjang, berbaju seragam berjalan dengan menundukkan kepala yang membuatnya menabrak orang lain. Berjalan dengan lesu, pelan, lamban, enggan untuk sampai ke tempat tujuan. Wajah tanpa ekspresi, tatapan kosongnya, dan pikiran yang kacau, perasaan yang berkecamuk tak karuan. Gadis ini tetap terus, dan terus berjalan hingga dia melihat didepan matanya, sebuah gerbang sekolah tempat dimana dia belajar "Franciesse High School".


Gadis ini pun melangkah masuk. Sepanjang lorong dia berjalan, gadis ini menundukkan kepalanya dan menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya, dia enggan melihat lirikan mata yang tajam, sinis dan bahkan seperti melihat hal menjijikkan dan juga dia enggan mendengar cemoohan, ejekan, hinaan dari siswa-siswi yang ada dilorong kepadanya.


Byuur!!


Ketika sampai didepan kelasnya, dia membuka pintu kelasnya itu tiba-tiba dari atas jatuh sebuah ember berisikan air kotor yang mana membuat gadis ini basah kuyup, teman sekelasnya yang melihat hal ini langsung menertawakannya. Gadis ini sebenarnya sudah tau pasti ini adalah ulah mereka namun dia hanya diam, menatap kosong kepada mereka. Merasa terusik dengan tatapan mata gadis ini, salah seorang dari mereka angkat bicara.


"Apa? Mau protes hah?! Silahkan aja!! Kalau kamu berani!!" Ujar seorang gadis pirang berkuncir dua, dengan angkuhnya seraya meludahi wajah gadis itu.


Menggelengkan kepala, gadis itu pun berlalu melangkah keluar kelas menuju toilet untuk membersihkan diri.


Byurr..


Sesampainya di toilet dia langsung mengguyurkan air keseluruh tubuhnya lalu menatap refleksi dirinya didepan cermin yang ada di toilet. Ekspresi wajahnya masih datar yang membedakannya adalah air mata yang mengalir dari sudut matanya. Dia menangis dalam diam, tanpa suara, meski hatinya ingin menjerit namun keinginan itu dia pendam.


Gadis itu membuka tasnya dan mengambil baju ganti, lalu  mengganti bajunya. Gadis ini pun kembali ke kelas, karena terlalu lama di toilet untuk membersihkan diri dia jadi terlambat dan guru yang mengajar di kelasnya tidak memperbolehkannya masuk.


"Kamu lagi..kamu lagi, Nana Naire!! Ngak ada jeranya ya kamu saya hukum~ Apa ngak bisa sekali aja kamu ngak terlambat!!" Ujar seorang wanita berkacamata dan berperawakan sedikit gemuk yang adalah seorang guru bernama Bu Ani seraya melototi gadis yang bernama Nana Naire tadi.


Nana yang ditatap oleh Ibu Ani dengan penuh amarah tetap memasang wajah datar dan tatapan kosongnya itu seraya berkata.


"Maaf bu..tadi ba-"


"Dasar anak ngak tau sopan santun! Mentang-mentang jadi anak dengan peringkat tertinggi dan berprestasi yang disayangi Pak Kepsek!! Seenaknya!! Sepertinya bener apa kata orang anak-anak orang miskin itu ngak diajarin sopan santun! Dasar rendahan!! Tidak pantas sekolah disini!" Ujar Bu Ani yang membuat hampir semua anak sekelas tertawa dengan kerasnya.


***


Sebenarnya ada anak yang tidak tega melihat Nana dibuli, namun mereka terlalu pengecut dan egois untuk membelanya, karena mereka berpikir kalau membela dia maka mereka akan bernasib sama.


Disekolah bernama Francessie High School yang elit ini, yang katanya berisi anak-anak orang berpengaruh, anak-anak pejabat, anak-anak orang kaya, yang katanya sangat bermoral, berilmu tinggi dan diajarkan dari kecil tentang sopan santun juga tata krama. Yang nyatanya, malah sebaliknya. Mereka hanyalah kumpulan anak-anak orang kaya yang manja, yang menyalahgunakan kekayaan dan kekuasaan orang tua mereka, dengan menindas anak-anak yang masuk sekolah elit ini, melalui jalur beasiswa yang merupakan anak-anak dari kalangan menengah kebawah.


Dan Nana termasuk dalam kalangan tertindas itu. Seperti layaknya sampah, dia diremehkan, dipermainkan, dihina, dilecehkan sekehendak hati mereka. Namun Nana yang diperlakukan seperti itu hanya dapat pasrah dan diam menerimanya, tak terbesit dibenaknya untuk melawan bahkan untuk membela diripun tidak. Tak seperti anak lainnya yang tidak tahan dengan segala macam penindasan serta pembulian yang terus menerus menimpa mereka, yang membuat mereka tidak tahan lagi sampai sampai ada yang pindah sekolah, dan ada juga yang pindah kota karena walau mereka sudah pindah sekolah tetap saja pembulian itu terus berlanjut, bahkan ada yang sampai bunuh diri karena saking tidak tahannya dengan kebrutalan siswa-siswa yang katanya elit yang ada di Franciesse High School. Hingga akhirnya hanya tertinggal Nana, seorang siswa dari jalur beasiswa yang masih bertahan sampai sekarang, dan dia seorang yang menerima segala macam penindasan, pembulian, perudungan dari seluruh siswa bahkan guru yang berada disekolah elit itu.


Tetapi Nana tetap memasang muka datarnya dan tak lupa tatapan kosongnya, yang membuat siapapun melihatnya bakal menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan gadis ini. Walaupun begitu sebenarnya didalam, Nana hancur. Hatinya penuh luka yang sangat dalam, secara batin dia tersiksa, secara emosi dia kacau, secara mental dia depresi, namun secara fisik dia baik-baik saja, seperti tidak ada yang terjadi pada dirinya.


Gadis ini tidak dapat tertawa dan menangis seperti kebanyakan orang, dia sangat buruk dalam mengekspresikan perasaannya sendiri dibanding orang lain. Tidak dapat tersenyum dengan benar, tidak dapat tertawa dengan benar, dan tidak dapat menangis dengan benar, bagi Nana itu sakit sekali, saking sakitnya sampai dia ingin berteriak. Nana ingin sekali seseorang mengerti tentang itu, walau sedikit saja.


Terkadang Nana berpikir untuk mengakhiri hidupnya namun, dia tidak bisa begitu saja meninggalkan orang-orang yang dia sayang karena keegoisannya. Karena hal itu dia masih bertahan sampai sekarang melewati segala macam penderitaan, siksaan, lika-liku hidup yang sangat berat dan suram, namun ini masih belum seberapa karena masih ada lagi hal yang akan menanti Nana didepan sana. Hal yang lebih parah dari semua ini.


[THIS IS JUST A STORY ABOUT A KILLER PAST..


NANA NAIRE.]


                                    [CONTINUE?]