Why Me?

Why Me?
Why Me? 56



Setelah makan makananan buatan Gadis tadi, Eles, Irvan, Genta dan Antar bermain PS di ruang keluarga, mereka sesekali tertawa, saling mengumpat bahkan saling baku hantam saat ada yang bermain curang.


Diam diam Irvan merasa puas karena Genta bisa melupakan masalahnya, bahwa terpuruk yang dialami Genta tadi pagi perlahan sirna.


"Ampar ampar pisang mau curang" saat kalimat Eles selesai dituturkan.


Semuanya meletakkan stik PS dan menghujani Antar dengan pukulan bertubi tubi.


"Ampun bang" teriak Antar meminta ampun saat Eles justru menggelitikinya


"Eh elo gak kena marah sama nyokap elo?" Tanya Irvan saat mereka mulai bermain lagi.


"Biarin ah bang, cape gue kalo kudu nurut nyokap terus" Antar kembali memencet stik psnya "lagian bolos sehari juga gak bikin nilai gue turun"


"Whooo" Eles bertepuk tangan mendengar kalimat Antar barusan.


"Gak papa kalo mau berontak ke bonyok elo yang penting Kera band gak jadi sasaran amukan nyokap elo nantinya" kata Genta masih fokus ke gamenya.


"Bener tuh ampar ampar pisang, nanti elo sibuk bolos kita Kita yang dimarahin" celetuk Irvan.


"Kita gak pernah ngajarin elo buat bolos ya" pertegas Eles.


"Iya bang, iya. Lagian ini murni keinginan gue kok"


"Tante kira tadi Genta sendirian di rumah ternyata ada kalian" suara itu mampu menghentikan pencetak di stik PS milik Genta.


Semua mata memandang kearah Rani, perempuan yang masih tetap casual meskipun ditinggal pergi suaminya. Perempuan yang tetap berdiri tegak tanpa masalah satu apapun.


Perlahan ekspresi senang Genta mulai memudar, ada rasa tidak senang melihat kehadiran Rani.


Rani berjalan ke meja makan, satu box pizza dia letakkan disana.


"Makan dulu yuk. Tante bawain pizza" ajaknya kepada teman teman Genta.


Irvan, Eles dan Antar masih diam ditempat, mereka terlalu sungkan apalagi melihat wajah masam dari Genta.


Gadis berdiri dan mendekati Rani, meski Gadis tahu kalau Genta merasa kecewa dengan Rani namun Gadis memilih tidak ingin menyakiti Rani, bagaimanpun dari sorot mata Rani, perempuan itu tidak kalah rapuhnya seperti Genta.


"Tadi kamu masak Dis?" Tanya Rani ke Gadis.


"Iya tante, Genta tadi maksa Gadis buat masak" katanya.


"Dis, aku anter pulang yuk"


Gadis dan Rani kompak menoleh kearah Genta yang sudah berdiri dengan jaket levisnya, disusul tiga temannya yang juga berpamitan pulang ke Rani. Mau tidak mau, Gadis juga berpamitan ke Rani meskipun dia merasa tidak enak dengan sikap kecewa yang di berikan Genta secara terang-terangan.


🏡🏡🏡


Genta kembali kerumah ketika sudah pukul lima sore, dia masuk kedalam rumah dan hanya mendapati Rani yang sedang memasak. Memangnya apalagi yang dia tunggu, kepulangan Akmal? Bahkan mulai hari ini rumah yang dia tempati bukan lagi rumah bagi Akmal. Semuanya sudah berakhir, tanpa kata maaf dari orangtuanya sama sekali.


"Genta makan dulu ya" ajak Rani dengan senyum darinya.


Senyum yang di mata Genta itu adalah senyum kebahagian karena sudah menghancurkan keluarganya. Genta terus menapaki anak tangga tanpa menyahuti kalimat Rani.


Didalam kamarnya Genta hanya bisa diam memaku, salahkah semua sikap yang dia lakukan hari ini pada Rani?, dia hanya ingin membenci kedua orangtuanya karena sudah menghancurkan keluarga miliknya, membenci mereka karena berpisah tanpa kata maaf, membenci mereka karena memilih menuruti keegosian mereka sendiri.


Meski begitu rasa tidak tega membuat Genta akhirnya turun kembali dan duduk di meja makan bersama dengan Rani, ada senyum bahagia saat tahu Genta duduk didepannya.


Semenjak keluar dari ruang sidang tadi, Rani bertekad akan memenuhi semua yang di butuhkan Genta, Rani akan berusaha menjadi sosok ayah dan ibu sekaligus untuk putranya, Rani akan mencurahkan semuanya untuk Genta.


Genta melahap sup dan beberapa ikan buatan Rani, kali ini hanya dentingan piring yang beradu dengan sendok menemani makan mereka.


"Besok, Mama anter kesekolah ya" kata Rani memecah keheningan.


Genta hanya mendongak sekilas dan memindahkan tatapannya ke piring.


"Genta bareng Gadis" jawabnya dengan cuek.


"Mama kan pengen sekali kali nganterin anak Mama kesekolah, lagian sama Gadis nya bisa lain kali"


"Genta udah SMA" kata Genta dengan sorot mata yang hampir sama seperti Akmal.


Sorot mata dari Genta itu berhasil membuat degup jantung Rani merasa teriris, padahal Rani berharap setelah perceraiannya, dia tidak melihat atau mengenang apapun dari lelaki itu. Meski begitu Rani berusaha mengontrol emosinya, Rani ingin memahami Genta.


"Kalau gitu wekkend kita liburan ya, mau kemana? Bali, Jogja, atau____"


Sendok Genta di letakkan diatas piring hingga menghasilkan dentingan. Lelaki itu menatap Rani.


"Sebentar lagi Genta ujian" katanya lantas beranjak untuk pergi ke ruang keluarga.


Rani menatap kepergian putranya dan lagi lagi Rani berusaha untuk memahami semuanya. Genta hanya terlalu kecewa, hari ini hari perceraian yang tidak diinginkan Genta, wajar jika anak itu bersikap seperti itu padanya.


Perlahan setelah Rani membereskan semua piring piring di dapur, perempuan itu membawa salad kesukaan Genta ke ruang keluarga. Genta sedang menonton tayangan musik di televisi.


"Oh ya. Kata Tante Ghina bulan depan ada konser musik di Senayan, kamu mau nonton sama Mama?" tawar Rani.


"Percuma, Mama gak suka musik dan gak suka tempat rame" Genta masih fokus ke televisi.


Meski begitu dengan telaten Rani menyuapi salad kearah Genta yang diterima putranya tanpa banyak protes.


"Bulan depan kamu mau nonton sama temen temenmu?" Tanya Rani setelah suapannya diterima Genta.


Lelaki itu mengangguk tanpa mengalihkan tatapan dari televisi.


"Kalo gitu mama bakalan kesepian" keluh Rani.


"Besok Genta minta Gadis buat nemenin Mama" katanya.


Mendengar itu Rani tersenyum senang, Genta sudah sedikit melunak hari ini. Nada bicaranya tidak sekasar tadi, sorot mata dan ekspresi wajahnya sudah mulai santai.


"Mau mama beliin alat band?" Tawar Rani, apapun akan Rani lakukan untuk membujuk putranya agar tetap disebelah Rani.


Kunyahan Genta berhenti, tatapannya tetap tertuju pada televisi. Alat band? Apakah Kera band masih hidup setelah permasalahannya dengan Gara? Apa kah Gara akan mengalahkan egonya sendiri agar Kera band tetap seperti biasanya?


"Genta___" Genta menatap kearah televisi dengan nanar, "Genta udah gak nge-band"


Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya, kalimat yang tidak pernah dia harapkan akan diucapkan pada orang lain. Akhirnya hari ini, Genta mengucapakan kalimat itu, Genta akan mengubur Kera band, mengubur mimpinya untuk menjadi bintang terkenal, mengubur mimpinya bersama dengan teman-temannya.


Malam itu, suara musik yang ditayangkan di televisi seperti suara kaset rusak yang terpotong potong untuk Genta, bahkan manisnya salad dalam kunyahannya  terasa benar benar hambar dan pahit, sama seperti perasaannya.


note : tamatnya masih lama ya, konflik antar rumah tangga Rani sama AKMAL emang udah selesai tapi untuk Genta masih belum