
Genta selalu menghindari Rani, dia merasa begitu kecewa dengan perempuan itu. Setelah menemui Akmal kemarin, rasanya setiap kali melihat Rani, Genta selalu merasa sakit sendiri.
Pagi ini, setelah tiga hari kematian ayah Eles, Genta menuruni anak tangga, begitu pagi. Langkahnya dia percepat berharap dia tidak bertemu dengan Rani di meja makan. Salah, perempuan itu sudah menyiapkan semua sarapan diatas meja.
"Sarapan dulu Gen"
Genta berhenti melangkah, sorot matanya memandang kearah Rani penuh kecewa, tidak ada seulas senyum seperti biasanya. Setiap melihat Rani, hati Genta berdesir.
"Genta buru buru" elaknya yang berjalan lebih cepat.
"Genta, Genta" Rani mengejarnya.
"Genta tunggu Mama" perempuan itu berhasil menarik tangan putranya.
Genta berhenti, dengan kekuatannya dia menoleh kearah Rani, tidak ada senyum pura pura yang bisa dia paksakan.
"Kamu kenapa? Udah tiga hari ini kamu gak sarapan dirumah, kamu marah karena gak ada papa?" Tanya Rani dengan nada lembut.
Genta tidak sanggup kalau harus membenci wanita yang melahirkannya, Genta tidak sanggup pula jika melihat Rani bersanding dengan lelaki lain selain Akmal.
Genta hanya melenggang begitu saja tanpa suara, lagi lagi sikap Genta begitu menampar hati Rani. Tidak anak tidak papanya sama sama menggores luka di hati Rani saja.
🏡🏡🏡
Genta dan Irvan berjalan beriringan di koridor sekolah, mereka akan pergi ke perpustakaan, mengambil buku seperti yang di minta Bu Endang.
Langkah mereka berdua terhenti saat melihat Gara berjalan dengan teman sekelasnya, hubungan Gara dan Genta masih sama.
Mata mereka saling beradu tapi lebih dulu Gara berjalan cepat tanpa menyapa mereka berdua, Genta hanya bisa menarik nafas dengan sesak.
"Sabar Ya, si Gara butuh waktu aja" Irvan menepuk bahu Genta.
Lelaki yang ditepuk hanya bisa mengangguk pasrah, entahlah Gara selalu menghindar saat ada dirinya, tetapi hubungan Gara dengan Irvan atau yang lainnya baik baik saja. Hanya dengan dirinya yang tidak.
"Bang" di depan ruang OSIS Antar mengangkat tangan dengan senyum lima jari.
"Ampar ampar pisang" sapa Irvan kembali.
"Bang Eles belum sekolah?" Tanya Antar begitu jarak mereka menipis.
"Belum, mungkin besok" jawab Irvan.
Antar menatap ke arah wajah Genta yang begitu berantakan, Antar pun tahu masalah Gara dan Genta. Masalah itu lah yang membuat Kera band jarang sekali berkumpul.
"Lo ngapa liatin gue kayak gitu?" Tanya Genta dengan sorot mata tajam.
"He he he" Antar justru nyengir tidak jelas "Ganteng bang" akunya.
Genta dengan sengaja menendang tulang kering Antar hingga lelaki itu mengaduh kesakitan, hampir saja Antar mengumpat andai dia tidak ingat dimana posisinya.
"Jangan bikin gue pengen ngumpat dong bang" Antar mengelus tulang keringnya.
"Ha ha ha" Irvan dan Genta kompak tertawa.
"Ngumpat Par ngumpat" kata Genta begitu puas melihat wajah kesakitan dari Antar.
"Dahlah kita mau ke perpustakaan, sebelum Bu Endang berubah jadi macam" kata Genta sudah lebih dulu berjalan pergi.
🏡🏡🏡
Sepulang sekolah, Genta dan Gadis pergi ke mall, mereka berjalan sambil bergandeng tangan, menghabiskan waktu berdua. Sudah lama waktu seperti ini tidak ada untuk mereka, Gadis sibuk dengan pergantian anggota OSIS dari tahun yang lama ke tahun yang baru sedangkan Genta sibuk dengan masalah yang bertubi tubi.
"Sayang" Gadis merapatkan jarak keduanya.
Genta hanya menatap ke arah Gadis tanpa menjawab panggilan tadi.
"Kita keatas yuk, ke granmedia" rengek Gadis begitu manja.
"Tapi habis itu kita makan dulu ya" kata Genta menuruti permintaan Gadis.
Mereka berjalan menuju lantai atas, sampai disana tentu saja wajah cerah Gadis yang membuat Genta terkekeh sendiri. Lihat perempuan itu. Saat diambang pintu masuk granmedia, genggaman tangan mereka berhasil terlepas.
Hanya novel novel lah yang bisa melepaskan genggaman Gadis secepat itu, Genta mengekori Gadis dari belakang. Saat Gadis tengah berhenti dan memegang sebuah buku romance, Gadis membaca sinopsis dibelakang buku terlebih dahulu.
Genta yang berada di belakangnya juga ikut membacanya. Genta merapatkan jarak mereka hingga dada bidang Genta menyentuh punggung Gadis, lalu Genta mendekatkan bibirnya ke telinga Gadis, meniup niup hingga Gadis menoleh.
"Genta, ditempat rame ini" kata Gadis mendorong tubuh Genta untuk segera menjauhinya.
"Jadi kalo ditempat sepi mau?" Genta menaikan alisnya membuat pipi Gadis merona.
Saat berhasil menggoda Gadis, Genta malah cekikikan, tangannya mengetuk sinopsis buku yang tadi dibacanya.
"Aku cuman mraktekin yang ditulis dibuku ini"
Mendengar itu Gadis kembali membaca sinopsis, dan sial nya lagi lagi pipi merona Gadis justru membuat Genta tergoda, kalau tidak ingat dimana dia sekarang mungkin Genta akan menciumi Gadis hingga perempuan itu lemas sendiri.
Gadis berjalan kearah lain, dimana novel novel bestseler berjejer rapi disana, Gadis mengambil beberapa yang bersampul menarik, lalu membaca sinopsis dibelakang buku.
Genta masih setia mengikuti dari belakang, sambil terus menggoda dengan menyentuh bagian sensitif Gadis seperti leher, punggung dan belakang lengan antara ketiak.
"Genta"
"Hmmm" Genta menaik turunkan alis sambil berdehem.
"Bagus yang ini atau yang ini?" Tanyanya.
Genta menaikan alis, lalu telunjuk tangannya terputar di udara dan mendarat di buku yang bersampul warna putih.
"Aku pilih ini aja deh" kata Gadis justru memilih novel bersampul hijau tua.
Genta geleng geleng sendiri saat melihat tingkah pacarnya yang justru memilih novel yang tidak dia pilih. Jadi kenapa tadi Gadis harus bertanya padanya.
Mereka berjalan kearah kasir untuk membayar novel yang dibeli Gadis. Saat sedang mengantri ponsel Genta bergetar, lelaki itu menatap nama sipemanggil "Fuckboy" itu Irvan.
"Kenapa Van?" Tanya Genta tanpa basa basi.
"Kita lagi kumpul dirumah gue, ada Eles sama Gara juga" katanya dengan suara lirih "Lo bisa kesini gak?"
Genta menatap arah Gadis yang juga menatapnya lalu mengelus puncak kepala perempuan itu sebelum beranjak pergi untuk mencari tempat yang lebih tenang.
"Gue lagi jalan sama Gadis. Tapi nanti gue kesana"
"Ini kesempatan buat kita tanya masalah Gara sama elo" saran Irvan.
"Bentar lagi gue otw" dan panggilan ditutup Genta.
Lelaki itu kembali ke dalam dan menemui Gadis sudah selesai membayar, Gadis tersenyum dan segera memeluk lengan Genta.
"Siapa?" Tanya Gadis ketika mereka melangkah menuju eskalator.
"Si Irvan, aku mau ketemu sama Gara"
"Aku ikut" Gadis menatap kearah Genta dengan mimik serius.
Gadis menggeleng, dia tahu kalau hubungan Gara dan Genta masih belum membaik.
"Aku gak mau kamu lepas emosi terus berantem sama Gara" pungkasnya.
Genta mengangguk mengiyakan, dari pada semakin panjang, lagipula tidak ada salahnya membawa Gadis. Perempuan itu jauh lebih pandai mengendalikan emosinya dibandingkan diri nya sendiri.
🏡🏡🏡
Mereka sampai dirumah Irvan ketika matahari sudah hampir tenggelam, Genta melepaskan helmnya, lalu disusul Gadis yang juga melepaskan helm sambil berdiri setelah turun dari motor.
"Bisa?" Tanya Genta kepada Gadis yang seperti kesusahan melepaskan helmnya.
Dibantu Genta akhirnya helm kecil itu berhasil terlepas dari kepala Gadis, rambut perempuan itu berantakan karenanya. Genta turun dan berjalan kedalam rumah Irvan, dengan mantap lelaki itu langsung mendorong pintu masuk.
Di ruang utama, tampak Eles, Gara dan Irvan sedang bermain game. Eles dan Irvan biasa saja saat melihat kedatangan Genta, tapi tidak untuk Gara yang lantas bangkit tanpa aba aba.
"Mau kemana Ra?" Tanya Eles mulai was was.
"Balik, gue males, ada orang ******* disini" katanya berniat pergi tapi lebih dulu dihadang Genta.
"Kita selesaiin masalah kita" ujar Genta meminta Gara tetap disini dan menyelesaikan semuanya.
"Secara jantan" kata Gara dengan sorot mata begitu tajam.
Arti penyelesaian secara jantan yang dimaksud Gara adalah dengan berkelahi, tapi Genta hanya mampu menarik nafas karena itu tidak mungkin dilakukannya, berkelahi dengan teman sendiri sama saja dia berkelahi dengan dirinya.
"Ra, Lo ada masalah apa sama gue?"
Gara justru tertawa, seperti menertawakan wajah bodoh yang ditampilkan Genta.
"Banyak, Lo mau gue sebutin satu satu?" angkatan alis Gara tidak sesantai sebelumnya "Masalah Lo karena Lo ada disini dan masih mengambil nafas di sini"
Genta seperti tertikam belati mendengar penuturan teman karibnya, Gara bukan lagi orang lain untuk Genta, dirinya seperti adik Genta sendiri.
"Apa karena cewek, Lo kaya gini?" Tanya Genta melirih. Takut jika Gadis mendengarnya.
"Cewek?" Gara justru mengeraskan suaranya "Kenapa gak kita sebut aja dia Windi"
Irvan dan Eles kini langsung bangkit dari duduknya, mereka seperti tidak lagi mau diam saja.
"Ra, Lo kenapa sih, jangan kayak gini" ujar Eles mulai melerai mereka.
"Gue minta maaf kalo gue ada salah sama elo"
"Maaf aja gak cukup Ta, maaf aja gak bisa balikin semuanya" pekik Gara.
"Lo kayak gini cuman karena cewek men, kita sama sama sepakat buat gak suka sama cewek yang sama" kata Irvan mendekati Gara.
"Gadis tahu kelakuan elo dibelakang dia?" Gara mendekati Genta, lalu menatap kearah Gadis yang sedang berdiri di belakang Genta.
"Dis, Lo tahu pacar Lo pernah ke hotel bareng Windi"
Deg
Genta menoleh kearah Gara yang berucap kalimat sebruntal itu. Genta menoleh nya dan menarik kerah kemeja Gara. Lelaki itu mencengkram dengan kuat.
"Maksud Lo apa?" Tanya Genta.
Gara menepisnya dengan kasar lalu membetulkan kerah kemeja yang mulai kusut, ditatapanya dengan tajam wajah Genta saat ini.
"Bener kan, Gadis perlu tahu kalo elo sama Windi pernah ke hotel berdua, kalau pacarnya itu pernah diem diem ketemu Windi dan pelukan" Gara menatap wajah Gadis yang seperti kaget mendengarnya "Lo tahu dia, pacar Lo itu dia diem diem deket sama Windi di belakang elo?!!!"
"Brengsek"
Bugh
Satu bogeman mampu membuat Gara terhuyung kebelakang, Genta sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Pukul gue Ta, Bunuh gue bila perlu" teriak Gara.
Genta menarik kerah kemeja Gara sekali lagi, dicengkramnya dengan kuat hingga Gara tercekik oleh kerah bajunya sendiri.
"Gue sama Windi gak ada hubungan apa apa selain temen"
Gara menepis itu secepat kilat, lelaki itu berdiri dan menatap arah Genta.
"Temen gak ada yang ke hotel berdua Genta!!!" teriaknya.
"Lo cemburu karena gue deket sama Windi, gue bakal jauhi dia" teriak Genta.
Gara tersenyum "Gue gak pernah suka sama Windi. Gue gak suka sama anak dari orang tua yang selingkuh"
Gara mendekati Genta dengan seulas senyum lalu menatap wajah Gadis yang kini sudah berkaca kaca menatap kearahnya.
"Dis, Lo seharusnya gak mencintai anak dari orang tua yang pernah selingkuh karena anak seperti itu akan mewarisi sifat tukang selingkuh dari bapaknya"
Bugh
Bugh
Bugh
Bugh
Genta menghujani Gara dengan pukulan bertubi tubi, dia tidak mau jika disebut seperti Akmal. Dia tidak mau jika di katakan akan mewarisi sifat Akmal.
"Genta" Irvan manarik Genta kebelakang sedangkan Eles membantu Gara yang sudah babak belur.
"Lo bisa bunuh Gara , Ta" Irvan mendorong tubuh Genta kebelakang "Sadar, Gara itu temen elo" ujar Irvan.
Genta mengambil nafas lalu mengusap wajahnya dengan frustasi "ARRGGGHHH" pekiknya.
Gara bangkit lalu mengambil jaketnya yang terjatuh.
"Mulai sekarang, kita bukan lagi temen Ta" katanya berjalan pergi.
Genta berusaha mengambil nafas yang mulai terasa sesak untuknya, dia menoleh kebelakang menemui wajah Gadis yang sudah basah oleh air mata.
"Aku bisa jelasin"
Tidak, hati Gadis sudah teriris mendengar itu semua, Gadis mundur selangkah dengan isakan nya.
"Aku sama Windi gak ada hubungan apa apa" katanya berusaha menjelaskan.
Gadis sudah terisak dan berhamburan keluar rumah Irvan.
"Dissss" Genta mengejarnya, meraih tangan mungil Gadis.
"Lepasin aku" Gadis menepis tangan Genta "Aku butuh waktu sendiri" katanya berjalan pergi yang hanya di tatap Genta dari kejauhan.