Why Me?

Why Me?
29



.


.


Hai teman teman, terima kasih sudah mau menunggu lanjutan ceritanya!


.


.


.


Setelah kepergian Alex,Daniel tampak bernafas lega .Dia masih berada di ruangan disebuah hotel ,dan hanya dengan sang asisten.


" Kita berhasil Sam!Aku sangat lega ,akhirnya kita mendapatkan kerja sama ini !" Ucap Daniel bahagia.


" Saya ucapkan selamat tuan atas keberhasilan tuan !" Ucap Sam .


" Oh ya Sam,selama aku nanti sibuk dalam pernikahan , nanti kau yang mengecek beberapa proyek yang sedang berlangsung " Perintah Daniel kepada sang asisten.


" Baik tuan! Kalau boleh tahu kapan anda akan menikah tuan ?" Tanya Sam penasaran.


" Dalam waktu dekat,kakek yang menentukan semuanya Sam !" Jawab Daniel.


" Sepertinya tuan besar sangat bahagia,sampai sampai tuan yang akan menikah namun beliau yang menentukan semuanya !" Ucapan Sam membuat Daniel sedikit penasaran , kenapa kakeknya ngotot ingin melakukan ini semua tanpa Daniel ikut campur.


" Sudahlah Sam! Yang terpenting aku dan Anna menikah nanti !" Daniel menepis pikiran buruk yang saat ini terlintas .


" Saya berharap acara nanti berjalan dengan lancar tuan !" Ucap Sam tulus.


" Terima kasih Sam,sebaiknya kita pergi ke kantor sebentar! Ada berkas yang belum aku tanda tangani " Ajak Daniel .


" Baik tuan!" Ucap Sam mengangguk,kemudian mereka keluar .


Mereka membawa mobil masing masing ,karena Daniel sudah terbiasa sendiri tanpa disupiri siapapun termasuk asisten nya.


.


.


.


.


.


.


.


" Ayah,,,!" Teriak Jesica saat melihat sang ayah sudah ada diruang tamu .


" Anak ayahh,,,,!" Ucap Darren langsung memeluk putrinya itu.


" Jesi rindu ayah,kapan ayah tiba disini ?" Jesica mendongakkan wajahnya untuk melihat sang ayah .


" Ayah tiba semalam,tapi ayah menginap di hotel terdekat karena ada pekerjaan penting di daerah sana!" Jawab Darren .


" Seharusnya ayah langsung kesini ,pasti kak Jo senang kalau tahu ayah disini !" Ucap Jesica .


" Kakakmu sudah tahu ,dia yang menyuruh sopir untuk menjemput ayah !" Ucap Darren .


" Kenapa kakak tidak memberitahuku yah ?" Jesica terlihat sedih ,lalu mengajak ayahnya untuk duduk .


" Oh iya,kenapa ibu tidak ikut ayah kesini? Aku rindu dengan ibu !" Tanya Jesica lagi.


" Ibumu banyak pekerjaan disana,jadi tidak bisa ikut !" Jawab Darren jujur.


" Jika kau rindu,kenapa tidak pulang saja ?" Tanya Darren .


" Tidak yah,Jesica masih ingin disini.Lagi pula sebentar lagi Jesica masuk universitas,aku ingin menikmati waktu disini dulu bersama kakak!" Ucap Jesica .


" Baiklah,terserah putri ayah saja !" Ucap Darren.


" Ayah mau minum apa? Biar Jesi bilang bibi !" Tanya Jesica .


" Buatkan ayah teh saja !" Jawab Darren.


" Baiklah,kalau paman ,mau dibuatkan apa ?" Ucap Jesica lalu mengalihkan ke arah asisten ayahnya itu.


" Terima kasih nona,tapi saya akan membuat minuman saya nanti nona !" Jawab laki laki yang bernama Edwin itu.


" Tidak apa apa,kau buatkan saja dia kopi itu kesukaannya !" Ucap Darren tersenyum sedikit melirik.


" Terima kasih tuan,terima kasih nona !" Ucap Edwin menunduk hormat.


" Baiklah,tunggu sebentar ! " Ucap Jesica pergi.


Setelah kepergian Jesica Darren tampak ingin meledek sang asisten itu " Apa kau tidak marah dipanggil paman oleh wanita itu ?" Tanya Darren sedikit terkekeh.


" Tidak tuan,saya tidak ada hak untuk marah.Dan wanita yang anda maksud adalah putri anda tuan !" Jawaban Edwin sangat savage sekali.


" Kau itu,!! Usiamu masih muda tapi mau dipanggil paman !" Darren semakin meledek asistennya itu.


" Jika saya mau ,saya akan marah tuan,dan ingin sekali menghajar nona muda !" Jawab Edwin dengan wajah datarnya.


" Apa?? Kau berani menghajar putriku ?" Ucap Darren pura pura marah.


" Terserah kau saja ,kau memang tidak bisa diajak bercanda " Ucap Darren menyerah.


Jesica datang lagi dengan membawa minuman yang sudah dibuat para pelayan.


" Ini dia minuman kalian !" Ucap Jesica meletakan minumannya di meja.


" Ini untuk ayah,dan ini untuk,,,," Ucapan Jesi menggantung saat melihat asisten ayahnya itu diam berdiri.


" paman duduklah !!! Ayah ini jahat sekali tidak menyuruh paman duduk,kasian dia berdiri terus !" Jesica mengomel .


" Kau dengar perkataan Jesica win? Duduklah ! " Ucap Darren menahan tawa ,menurutnya terdengar lucu saat Jesica memanggil Edwin dengan paman.


" Terima kasih tuan!" Jawab Edwin masih dengan wajah datar.


" Ayah tidak boleh terlalu menyiksa asisten ayah,,apalagi paman itu sudah membantu ayah setiap hari !" Ucap Jesica membuat Darren tersedak sedikit.


ekhemm..


" Ayah tadi sudah menyuruhnya duduk sayang,tapi paman ini memang hobi sekali berdiri " Jawaban Darren lagi lagi meledek Edwin.


" benarkah? Berarti disini paman yang salah,paman sudah membuat aku memarahi ayah .Lain kali paman harus dengar perintah ayah apapun itu !" Jesica berganti memarahi Edwin.


" Maafkan saya nona ,saya akan lebih patuh !" Jawab Edwin.


" Ayah,,apa paman ini memang tidak pernah tersenyum ?" Tanya Jesica berbisik ditelinga ayahnya ,namun masih terdengar oleh Edwin .


" Kau tau sayang,,dia adalah pria dari kutub selatan jadi dia tidak bisa tersenyum ,karena wajahnya sudah kaku !" Jawab Darren kemudian tertawa .


" Benarkah ayah? Jangan sampai Jesica dapat suami seperti dia ayah ,membayangkan saja Jesica sudah merinding !" Ucap Jesica merinding.


" Kau masih kecil tapi otakmu sudah memikirkan suami ,belajar lah dulu yang rajin,baru boleh memikirkan tentang suami !" Ucap Darren tersenyum.


Edwin sangat gerah apalagi mendengar obrolan antara ayah dan anak itu yang sedang meledek dirinya.Ingin sekali dia keluar dari ruangan itu,namun apalah daya.


" Ayah dan anak sama saja! Tadi dia bilang apa? Tidak ingin mendapat suami sepertiku? hahaha Lihat saja nanti nona ,kau pasti akan mendapat suami jauh lebih dingin dariku ini !" Edwin. tertawa jahat didalam hati.


(Edwin itu orang baik ya,dia hanya kesal diledek terus menerus) .Edwin adalah asisten yang disiapkan Darren untuk putranya , karena Darren yakin suatu saat Jonathan akan mau menggantikan dirinya nanti.


Dari arah pintu tampak Jonathan tiba ,laki laki itu tahu ada ayahnya didalam karena melihat ada mobil yang terparkir diluar,dan itu mobil keluarga yang dia perintahkan untuk menjemput ayahnya di bandara.


" Dia sudah tiba lebih cepat dari dugaanku !" Gumam Jonathan .


" Kakak kau sudah pulang !" Teriak Jesica melihat sang kakak datang menghampiri mereka .


" Apa kabar ayah ?" Ucap Jonathan .


" Seperti yang kau lihat,ayah sangat baik !" Jawab laki laki yang hampir tua itu .


" Bagaimana kabar ibu ?" Tanya Jonathan lagi.


" Ibumu juga baik,dia sangat sibuk di toko jadi tidak bisa ikut ayah kesini !" Jawab Darren dan diangguki Jonathan.


" Kakak,,kenapa kakak tidak memberitahuku kalau ayah akan kesini ?" Jesica bertanya dengan cemberut.


" Kakak lupa,lagi pula sekarang kau sudah tahu kan? Jadi jangan memajukan bibirmu itu ,oke!" Jawaban Jonathan membuat Jesica melongo .


" Alasan saja !" Gumam Jesica namun masih terdengar.


" Kakak mendengar Jes !" Ucap Jonathan.


" Sudahlah,tidak usah bertengkar.Kapan kalian akan mengajak ayah makan ?" Ucap ayah membuat dua orang menoleh.


" Ayah lapar? Kenapa tidak bilang,,baiklah aku akan buat makan untuk kalian !" Ucap Jesica antusias.


" Memangnya kau bisa masak ?" Tanya Jonathan mengejek.


" Tentu saja,,,,,bibi yang masak,aku hanya membantu menonton saja !" Jawab Jesica enteng.


Mereka tertawa mendengar jawaban Jesica yang sangat frontal dan lucu itu,namun satu orang yang tidak ikut tertawa,tentu saja manusia kutub ,siapa lagi kalau bukan Edwin.Dia masih sama dengan ekspresi datar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih ,jangan lupa kasih like dan dukungan jika kalian suka.


Salam dari saya Author 🙏