Why Me?

Why Me?
[Part 6 : Hilang]



Nana yang baru saja keluar dari ruangan kantor kepala sekolah, berjalan dengan langkah yang lebar karena dia ingin segera keluar dari sekolah busuk ini secepatnya. Setelah dia keluar dari gerbang sekolahnya, dia berhenti sejenak menoleh sekilas lalu berjalan lagi.


Nana merasa hampa, dia berjalan dengan sangat lesu dan lamban, Nana menatap langit yang sudah mulai gelap karena hari sudah sore menjelang malam.


''Ah..Aku jadi tidak bisa mencari pekerjaan karena sudah gelap..'' Batin Nana dengan air mata yang mengalir turun dari kedua sudut matanya. Nana mengabaikan air matanya dan terus berjalan dalam kegelapan.


Setelah sekitar 15 menit Nana berjalan, akhirnya Nana tiba di depan rumahnya namun Nana merasa heran dan bingung ketika melihat rumahnya. Karena rumahnya gelap gulita tidak ada satu pun lampu yang menyala hanya lampu dari tetangga yang memberi penerangan ke rumahnya walau temaram. Biasanya kalau Nana pulang telat karena bekerja, kedua adiknya lah yang menyalakan lampu di rumahnya.


Namun sekarang rumahnya gelap gulita, kalau memang mati lampu kenapa rumah-rumah tetangganya semua menyala. Nana yang masih keheranan itu pun mulai merasa ada yang tidak beres, dia pun dengan segera membuka pintu rumahnya, tetapi dilubang kunci terlihat ada bekas gesekan yang mana membuat Nana makin merasa heran dan firasatnya semakin tidak enak.


Setelah Nana masuk ke dalam rumahnya, dia langsung meraba-raba dinding untuk menemukan saklar lampu seraya memanggil-manggil nama kedua adiknya namun tak ada jawaban. Nana makin panik dan ketika dia sudah menemukan saklar lampu dengan cepat Nana menekan saklar lampu. Saat lampu sudah menyala dia terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya sekarang.


Ruang tamunya yang biasanya bersih, rapi, dan semua benda yang ada didalamnya tersusun pada tempatnya dengan rapi, sekarang di depan mata Nana ruang tamu rumahnya itu berubah 180 derajat. Ruang tamunya menjadi kotor, berantakan, semua barang yang ada disana hancur berkeping-keping, berserakan dimana-mana, seperti ada segerombol binatang buas yang masuk, mengotori, mengacak-ngacak, menghancurkan, ruang tamunya dengan brutal dan liar. Nana yang masih terkejut dengan apa yang dilihatnya, setelah beberapa detik akhirnya sadar dengan cepat dia segera berlari menuju dapur, untuk melihat keadaan dapurnya dan ternyata dapur Nana juga keadaannya tidak jauh beda dengan keadaan ruang tamunya.


Nana pun lanjut berlari, menaiki tangga menuju lantai atas. Dia berusaha berpikir positif dan menduga-duga kalau tidak terjadi apa-apa dengan kedua adiknya, mereka berdua baik-baik saja, dan kedua ruangan yang hancur berantakan tadi adalah ulah kedua adik mereka, Ya pasti begitu, kedua adiknya berbuat ulah untuk mengerjai dan mencari perhatian Kakak mereka yang selalu pulang telat. Nana berusaha keras untuk tetap berpikir positif. Ketika dia sudah tiba di depan kamar kedua adiknya dengan napas ngos-ngosan, Nana berusaha meraih kenop pintu untuk membukanya dengan tangan gemetar, memejamkan matanya refleks karena merasa takut dengan apa yang akan dilihatnya nantinya.


Cklek! Kriieet.....


Pintu kamar kedua adiknya terbuka dan menghasilkan suara decitan pintu yang membuat atmosfir di sekeliling Nana terasa menjadi tegang. Nana perlahan-lahan membuka kedua matanya, dan seketika itu juga mata Nana terbelalak dengan apa yang ada didepan matanya. Kamar kedua adiknya juga bernasib sama dengan kedua ruangan di bawah tadi bahkan lebih parah. Semua benda di kamar kedua adiknya berserakan dimana-mana, hancur berkeping-keping, bahkan kasur kedua adiknya hancur tak berbentuk lagi, kapuk-kapuk kasur bertebaran dimana-mana, dan saat Nana melihat lebih teliti di lantai terlihat ada berceceran darah.


Yang membuat bola mata Nana terbelalak seperti akan keluar dan dengan refleks dia mundur seraya menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak ingin mempercayai yang dilihatnya, tiba-tiba kakinya terasa lemas dan diapun terduduk dengan air mata yang mengalir deras dari sudut matanya turun ke pipinya, lehernya terasa seperti dicekik dan dia merasa sesak dan kesulitan bernapas, namun karena kesadaran Nana masih ada, diapun terpikir kalau dia harus melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib dengan susah payah, Nana mencoba berdiri dan berjalan untuk keluar.


Ketika akhirnya kakinya tidak terasa lemas lagi, Nana berlari sekencang-kencangnya untuk menuju kantor polisi, dia tidak memperdulikan lagi kakinya yang tidak beralaskan alas kaki, dengan rambutnya yang acak-acakan diterpa angin malam, dengan orang-orang  yang berada di pinggir jalan. Nana berlari dengan air mata berlinangan dengan raut wajah yang masih datar.


Brugh!!


Ketika Nana berlari sekencang-kencangnya, tiba-tiba saja dia menabrak seorang lelaki dan mereka berdua pun sama-sama terjatuh. Lelaki itu berkacamata, berperawakan tinggi, berambut pirang, ia mengenakan jaket hoodie hitam dan memegang sekantong plastik berisi banyak makanan. 


"WOYY!! KALAU LARI TUH JANGAN MALEM-MALEM GINI!! BAHAYA TAU KAU BISA NABRAK ORANG ATAU BAHKAN KETABRAK KENDARAAN!! KAU NGAK SAYANG NYA-Eh? Na-Nana?!?!" Ujar lelaki pirang itu kaget saat melihat orang yang menabraknya.


Nana yang sedari tadi menunduk, mendongakkan kepala karena suara seseorang yang tak asing di telinganya memanggil namanya.


"Kamu ngapain lari-lari malam-malam begini?? Dan lagi ka-kamu kenapa nangis?!?!" Tanya Daniel khawatir melihat Nana yang terus mengeluarkan air mata dengan derasnya.


"A-a-ku..itu..Nay-ya..da-dan..Naiel...me-mereka..me-mereka..hi-hil-ang..aku...ng-ngak tau ha-ha-harus gi...hiks hiks.." Jelas Nana terbata-bata tak sanggup menjelaskan karena sangat panik dengan airmata yang terus mengucur deras.


"NANA TENANG! TENANGLAH OKE?? GIMANA KALAU KITA LAPOR DULU KE KANTOR POLISI YA???" Ujar Daniel menenangkan Nana walau dia sendiri juga panik.


Nana pun mencoba untuk tenang, dia menghapus air matanya berulangkali karena terus mengalir dan menatap mata Daniel seraya mengangguk pelan. Daniel pun menggenggam tangan Nana lalu dia menariknya menuju kantor polisi.


***


BRAKK!!


Daniel membuka pintu kantor polisi dengan kakinya, yang mana membuat polisi yang sedang berjaga di dalam sana sedikit tersentak kaget.


"PERMISI PAK! SAYA INGIN MELAPOR!!" Serunya dengan suara yang nyaring.


"Ada yang bisa kami bantu, Nak?" Ujar salah satu petugas polisi yang memakai nametag dengan tulisan Richard.


"Kami ingin melaporkan tentang dua anak yang hilang! Yang satu perempuan berusia 10 tahun bernama Nayya Naire dan yang satunya laki-laki berusia 13 tahun bernama Naiel Naire" Seru Daniel dengan menatap wajah Petugas Richard.


"Sebelumnya saya akan bertanya. Apakah dua anak itu sudah 2 hari menghilang? Karena kebijakan kami mengatakan kalau anda ingin melapor orang hilang maka waktu mereka hilang adalah minimal 2X24 jam" Jelas Petugas Richard dengan nada bicara yang stabil.


"MEREKA ITU MASIH ANAK-ANAK!! MANA MUNGKIN KAN MEREKA MENGHILANG BEGITU SAJA SEPERTI INI !! DAN KATA ANDA TADI 2X24 JAM?!? KALAU AKU MENUNGGU MEREKA SELAMA ITU LALU MENCARI MEREKA, BISA-BISA MEREKA SUDAH MATI TERBUNUH!?!? APA ANDA MAU BERTANGGUNG JAWAB?!?" Bentak Nana dengan raut wajah datarnya namun tatapan matanya penuh amarah, dia membentak Petugas Richard dengan nada yang sangat tinggi membuat semua yang ada di ruangan tersentak kaget mendengarnya.


"Tenang nak..tenang dulu ya? Bisakah kamu ikut dengan saya ke ruangan itu untuk menceritakan kronologis ceritanya kepada saya?" Tanya Petugas Richard dengan lemah lembut seraya tersenyum ramah.


Nana merasakan amarahnya mulai tak terkendali saat dia memikirkan fakta bahwa adiknya hilang namun karena suara lemah lembut dari Petugas Richard, Nana pun mencoba mengontrol emosinya dengan mengatur napasnya lalu dia mengangguk menyetujui untuk ikut dengan Petugas Richard sementara Daniel duduk di kursi menunggu dengan tidak sabarnya.


[CONTINUE?]