Why Me?

Why Me?
Why Me? 46



Irvan mengambil kotak P3k dan meletakkannya disebelah Genta, lelaki itu hanya memandangi Genta yang sedang meringis akibat lukanya terkena keringat dari rambut.


"Lo tahu gak kenapa Gara bisa kayak gitu?" Tanya Irvan sambil menyelidiki tatapan Genta.


"Kalo gue tahu gue bakalan nyelesaiin masalah ini secara damai sama dia" tukas Genta.


"Lo deket sama cewek yang di sukai Gara?"


Tangan Genta yang sedang membuka alkohol terhenti. Ingatannya terputar saat dia sering bersama Windi, mungkinkah penyebabnya itu? Setahu Genta , Gara hanya suka dengan Windi. Apa itu alasan kenapa Gara bisa semarah tadi padanya?.


Genta menatap Irvan yang sedang menatapnya, alis Irvan naik sebagai tanda mempertanyakan tatapan Genta.


"Gue beberapa hari ini sering ketemu sama Windi" jujurnya dengan nada ragu.


"Maksud Lo?"


"Jadi gini, bokap gue selingkuh sama tantenya Windi, gue sering ketemu sama Windi cuman buat curhat aja ke dia, gak lebih" mata Genta berubah khawatir.


Irvan menarik nafas, lalu bersidekap, dia sedang bingung saat ini.


"Lo yakin gak ada yang lebih antara kalian berdua?"


Genta meletakkan alkohol yang hendak di gunakan untuk membersihkan luka pukulan di wajahnya. Kali ini tatapan Genta begitu serius menatap arah Irvan.


"Lo kira, gue berani ngehianati Gadis" tekannya.


Terdengar pintu UKS yang terbuka, Gadis dengan wajah khawatirnya berjalan kearah Irvan dan Genta sehingga percakapan mereka harus usai sampai disitu. Gadis tidak datang sendiri, dibelakangnya ada Windi yang menatap wajah babak belur Genta dengan wajah penuh khawatir, mata mereka bertatapan sekilas, namun Genta langsung mengalihkan dengan menatap wajah Gadis.


"Kamu gak papa?" Gadis buru buru menyeret kursi dan duduk di sebelah Genta.


Perempuan itu menatap wajah babak belur milik Genta, menelitinya kemudian berdecak.


"Kamu ada masalah apa sama Gara, kenapa dia bisa bisanya mukulin kamu kayak gini?" Tanya Gadis, perempuan itu sudah menuangkan alkohol ke kapas.


"Aw" ritih Genta ketika alkohol menyentuh ujung bibirnya yang koyak.


"Tahan dikit ya" Gadis berusaha untuk tidak membuat Genta meringis karena menahan sakit.


"Ta, gue keluar dulu ya, mau ngecek keadaan Gara " Irvan menggeser kursi.


Sekilas mata Irvan dan Windi saling beradu, tapi tidak lama karena Irvan lantas mengalihkannya, ah saat selangkah dari posisinya tadi, lelaki itu menyerah untuk menahan rasa penasaran nya kepada Windi.


"Win, gue boleh ngobrol bentar sama elo?" Tanya Irvan begitu ragu.


Awalnya Windi menoleh, wajahnya masih menyiratkan kebingungan. Apalagi kini melihat kepala Irvan sedikit mendongak keluar, memberi tanda bahwa dia ingin berbicara di luar, membuat Windi was was sendiri. Ada yang penting hingga seorang Irvan memintanya berbicara empat mata.


Akhirnya setelah Windi menatap arah Genta dan Gadis yang memandanginya, Windi memilih pergi dan mengikuti Irvan dari belakang, lelaki itu tetap melangkah sampai di ujung ruang UKS.


Irvan memasukan tangannya kedalam saku celana sebelum membalikan badan dan menatap wajah Windi.


"Ke_kenapa Van?" Tanya Windi entah kenapa gugup sendiri.


Irvan menarik sudut bibirnya untuk mengusir canggung, ini pertama kali bagi Irvan berbicara berdua dengan Windi, selama ini mereka hanya kenal sebagai Windi mantan kekasih Gara.


"Lo masih sering komunikasi sama Gara?" Tanya Irvan seperti kesusahan menahan untuk segera to the point pada intinya.


Windi mengernyitkan dahi, seingat dia terkahir kali dirinya berkomunikasi dengan Gara adalah tahun baru, tahun kemarin. Untuk berhubungan selain hal yang tidak penting, atau hanya sekadar berbasa basi mereka sudah tidak pernah lagi.


"Udah lama enggak" kata Windi.


"Emmm, tadi " Irvan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, entah kenapa mengaitkan masalah ini dengam Windi membuat Irvan merasa tidak yakin sendiri.


"Kenapa Van?" Tanya Windi tidak sabaran.


"Tadi Gara mukulin Genta tiba tiba, sebelumnya mereka baik baik aja, kalo dari Genta tadi, katanya elo sama dia__" Irvan menjedanya "De_Ket"


Windi menghembuskan nafas "Kita gak deket kayak yang elo bayangin kok, kita cuman deket sebagai sama sama anak broken home" pungkas Windi membuat Irvan bernafas lega sendiri.


"Lo gak ada perasaan apa apa sama Genta kan?" Meski nada Irvan terdengar ragu tapi berhasil memukul talak Windi.


Perempuan itu memaku, bibirnya bungkam. Bahkan untuk menolak pertanyaan Irvan tadi, dia tidak bisa. Tenaganya tiba tiba habis, Windi merasa nyaman meski hanya memandangi Genta saja. 


Windi menarik sudut bibir untuk menyakinkan Irvan bahwa bukan dirinyalah penyebab Gara dan Genta berkelahi. Yah hanya itu yang bisa di yakinkan Windi, masalah perasaan nya, Windi masih belum tahu.


"Nanti biar gue coba tanya ke Gara, siapa tahu kalo sama gue dia bisa terbuka" katanya.


Irvan manaikan alis, pertama kalinya saat melihat tatapan Windi berubah kesembarang arah, Irvan bisa menebak kalau Windi mulai menyukai Genta.


"Lo tahukan Gadis itu temen elo, gue harap gak ada penghianatan yang elo atau Genta lakuin dari belakang" Irvan lantas pergi tanpa berucap lagi.


🏡🏡🏡


Diruang UKS Genta mengamati Gadis yang memasukan semua obat luka kedalam kotak. Setelah selesai mata penuh selidik kini menatap Genta begitu tajam.


"Gini yang" sebelum Gadis bertanya Genta sudah lebih dulu merapatkan duduknya.


"Sebenarnya aku gak tahu masalah Gara bisa mukulin aku kenapa, jadi jangan tanya alasan Gara mukul aku" jelas Genta terlebih dahulu.


Gadis menarik nafas "Aku gak nanya soal Gara"


"Terus?" Genta menaikan alis.


"Keadaannya papa Eles gimana? Kamu belum cerita Lo?" Gadis menopang dagunya dengan tangan kanan sambil menatap wajah Genta.


"Udah dioperasi, cuman belum sadar, masih koma"


"Kalo Mama papa kamu gimana?"


Genta meletakkan wajahnya diatas meja, lalu menatap kearah Gadis dari sana.


"Ya gitu, berantem, ngerebutin aku" Genta tersenyum "Bingung deh sekarang harus milih siapa?"


"Hmm" deheman dari arah samping membuat Genta dan Gadis mengangkat wajahnya, mereka sama sama menatap ke arah pintu.


Eles datang bersama Irvan dan Windi, mereka sudah bergabung didepan Genta.


"Gimana keadaan elo?" Tanya Eles.


"Gue sih baik baik aja. Gimana Gara?" Tanya Genta sambil memainkan obat merah didepannya.


"Dia udah cabut" Eles mengusap wajah "Gue gak tahu dia kenapa, menurut gue ada yang gak beres sama Gara, dia gak biasanya kayak gini"


"Sehari kemarin dia gak bisa kita hubungin, atau ini ada hubungannya sama kemarin" terka Irvan.


"Kemarin kan si Benua masuk rumah sakit" jawab Genta membuat terkaan Irvan salah.


"Lo beneran gak ada masalah sama Gara selain___" Eles menggantungkan kalimatnya saat menyadari kehadiran Gadis.


Hampir semua personil Kera band mengenal watak Gadis, perempuan itu begitu pencemburu hebat, Eles tidak ingin ucapannya nanti bisa memancing masalah lain.


"Selain apa Les?" Tanya Gadis yang justru penasaran dengan kalimat Eles yang digantungkan.


"Selain matahin stik drum nya Gara" sergah Irvan cepat.


Genta menarik nafas dengan begitu sesak, Genta hanya tidak habis fikir dengan sikap bruntal Gara tadi. Kalau semua yang Gara lakukan hanya karena Windi, apakah benar Gara bisa semarah itu hanya perkara mantan nya. Gara tidak akan seperti itu, biasanya jika dia tidak menyukai temannya dekat dengan orang yang dia suka, Gara hanya akan marah beberapa hari, mogok bicara atau mogok bertemu. Tidak main tangan seperti ini.


Ceklek


Suara pintu dibuka membuat lamunan mereka buyar, semuanya menatap arah pintu dimana Roy tengah berdiri menatap arah mereka.


"Ta, di panggil Bu Neli di ruang Bk" ujarnya yang langsung pergi.


Kepergian Roy, hanya ditatap Genta dengan kosong. Ruang BK, kenapa?


"Ta, ada yang ngelaporin Lo berantem tadi?" Tanya Irvan menatap arah Genta, lelaki itu masih saja bersidekap sambil menatap arah pintu dengan kosong.


"Gak ada, kelas gue udah gue minta buat diem semua" pungkas Eles.


"Bisa jadi dari kelas lain" ujar Irvan lagi.


Genta menggeser kursi tanpa mau menerka nerka lagi, lebih baik dia mencari tahu kebenarannya dari pada duduk diam dengan rasa penasaran begini.


"Mau aku temenin?" Tawar Gadis.


Genta menggeleng lalu mengusap puncak kepalanya.


"Kamu masuk kelas aja, udah bolos dua jam" katanya.


"Bener gak mau ditemenin?" Tanya Gadis sekali lagi.


Genta mengangguk dengan mantap, sebelum meninggalkan Gadis, lelaki itu mengecup sekilas bibir ranum perempuan itu, lalu pergi tanpa diikuti Irvan atau Eles. Untuk masalah keruang BK, seorang laki laki harus punya nyali pergi sendiri. Dan itu yang selalu di yakini Kera Band.