Why Me?

Why Me?
Why Me? 48



"Bokap Eles Meninggal,"


Kalimat Irvan barusan membuat Genta menegakkan tubuh , lelaki itu segera mengambil jaket yang bertengger di gantungan yang berada dibelakang pintu.


"Di mana sekarang?" Tanya Genta.


"Ta Lo beneran gak tahu kabar ini?"


Genta berhenti melangkah saat Irvan menghela nafas berat, dari suaranya Genta bisa mendengar kekecewaan dari Irvan karena Genta telat mengetahui berita sepenting ini.


"Gue__" Genta berhenti berucap.


"Bokap Eles meninggal jam satu siang tadi" Genta menatap jam dinding yang ada di kamarnya.


Sudah jam empat sore, Genta terlambat mendengar kabar sepenting ini selama tiga jam.


"Sekarang jenazahnya di rumah Eles, lo dimana? Kita udah dirumah Eles sekarang" panggilan itu segera ditutup Irvan.


Genta menatap ponselnya, ada begitu banyak panggilan dari mereka. Genta dengan lemas berpegangan pada dinding, padahal jarak rumah dirinya dan Eles begitu dekat, kenapa Genta tidak tahu kabar ini. Bahkan kabar meninggalnya ayah Eles sendiri, Genta justru menjadi orang terakhir yang tahu.


Genta merosot kan tubuhnya, dia menangis sesegukan. Semua kacau, bahkan dirinya sendiri sudah diselimuti kekacauan.


🏡🏡🏡


Masih lekat dengan seragam SMA, Genta berjalan memasuki rumah duka yang sudah dipadati banyak orang. Lelaki itu berjalan diantara orang orang, Genta terus melangkah sampai mendapati jenazah yang dibaringkan di ruang tamu.


Eles yang bersandar di dinding menatap penuh kekosongan kearah jenazah, saat dirinya hendak melangkah, Gara lantas menarik kerah baju Genta untuk dibawanya ke luar, dimana banyak kursi kursi yang berjejer.


"Lo apa apa sih" Genta menepis cengkraman di kerah lehernya.


Tatapan Gara begitu menghunus, kecewa, marah beradu menjadi satu di binar matanya.


"Bisa bisa nya Lo Dateng telat, ini yang lo bilang temen" tekan Gara yang mendorong bahu Genta.


Genta diam saja, Genta merasa bersalah karena ini. Bisa bisanya dia tidur nyenyak sedangkan Eles berduka saat ini.


"Lo emang ******** Ta, Lo gak akan pernah berubah sampe kapanpun, Lo ******** yang pura pura baik didepan kita semua"


Genta menatap arah Gara, kenapa reaksi temannya justru berbeda, kenapa Gara harus memakinya, Genta tahu kesalahannya datang terlambat tapi mengapa harus memaki dengan kata sekasar itu.


"Maksud Lo apa? Gue cuman telat disini" Genta berusaha mengontrol emosinya.


"Seharusnya Lo mikir kesalahan elo, jangan jadi orang sok suci disini" Gara justru semakin memaki maki Genta.


Genta maju selangkah dan hendak melawan tapi dari belakang, tarikan seseorang membuat Genta mundur.


"Genta udah" Gadis mengelus lengan Genta.


Perempuan itu menatap arah Gara yang masih berwajah kesal, saat Irvan datang Gadis tersenyum kearah Gara.


"Ra kamu seharusnya bisa nempatin posisi, Eles lagi butuh dukungan dari kalian, kalian gak boleh saling nyalahin cuman karena Genta Dateng telat" kata Gadis.


Irvan yang berdiri disebelah Gara menatap wajah keduanya, kemudian Irvan menarik nafas panjang.


"Ra, gue udah bilang kan. Tadi Genta dijemput sama bokapnya, kita semua tahu kalau Genta juga punya masalah dirumah" Irvan berusaha memberi pengertian pada Gara meski tidak merubah ekspresi marah lelaki itu.


"Itu cuman akal akalan Genta doang" pungkasnya lantas berjalan pergi.


Genta menatap tidak percaya pada Gara, kenapa lelaki yang dulu menjadi moodboster di antara mereka justru menjadi orang yang tidak bisa mengontrol emosi.


"Genta" Gadis menatap wajah Genta yang tidak kalah emosinya "Kamu belum nemuin Eles kan, temuin dulu Eles, kasih dia dukungan" katanya.


Genta mengangguk, lalu menatap Irvan dan menepuk bahu Irvan yang tampak sama frustasinya, Genta berjalan masuk kedalam ruang tamu diikuti Gadis.


Lelaki itu mendekati Eles yang masih menatap arah jenazah dengan kosong, Eles tidak menangis memang, tapi tatapannya benar benar menunjukan kerapuhan.


"Les" Genta duduk disebelah Eles.


"Tadi pagi keadaan bokap sempet pulih, dokter bilang bokap bakalan cepet sadar" cerita Eles kembali menatap arah jenazah "Bang Aldo nyuruh gue sekolah, tapi pas disekolah bang Aldo nyuruh gue pulang tanpa ngasih tahu alasan nya"


Eles menunduk, dia menahan mati matian tangisnya, untuk pertama kali Eles menyesali keputusan dia pergi sekolah dan meninggalkan ayahnya.


"Sampe di rumah sakit, bokap udah gak ada, bokap udah meninggal Taa" bahu Eles hampir berguncang, namun di peluk oleh Genta lebih dulu.


Genta menepuk nepuk pundak sahabatnya, dari sana Genta bisa merasakan betapa sakitnya yang di rasakan Eles.


"Gue minta maaf, gue dateng telat" kata Genta menyesali kenapa dia harus meminum tiga pil tidur hanya untuk melupakan masalah yang menghantam dirinya.


Pelukan mereka terlepas, Eles masih setia memaksakan dirinya untuk tersenyum. Dalam kondisi seperti ini saja Eles masih bisa bersikap dewasa.


"Gak masalah Ta, gue juga tahu kalau elo juga ada masalah" kata Eles.


Demi Tuhan, Genta masih merasa bersalah sampai detik ini, merasa bersalah karena tidak mendampingi Eles.


"Eles, yang tabah ya" Gadis tersenyum kearah Eles dan mengusap bahu lelekai itu.


"Makasih ya Dis" ujarnya lirih.


Rivaldo Prabowo datang dari arah belakang dengan mata merah, lelaki itu mendekati adiknya lalu membisikan sesuatu kalimat ke telinga Eles.


"Kita makamin papa sekarang ya de, kasihan papa kalau kita tunda tunda, kita iklasin papa, kita bisa lewatin ini bareng bareng"


Bisikan itu berhasil membuat pertahanan Eles hancur, lelaki itu menangis meski langsung didekap oleh Rivaldo dengan kuat. Bahu lelaki yang setiap hari ditempa pendidikan polisi itu memang begitu tegap dan kuat, tapi saat ini begitu terlihat lemah.


Genta menatap itu, menatap kearah sana dengan nafas yang tercekat. Genta melihat betapa rapuhnya Eles. Betapa kehilangannya mereka.


🏡🏡🏡


Saat ini Genta dan Gadis duduk di depan rumah Eles. Mereka memadati kursi kursi yang sudah disediakan sambil menunggu jenazah diberangkatkan.


"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Genta ketika mereka berdua sama sama bungkam.


"Sama anak anak OSIS, aku kira tadi kamu udah disini, tapi pas aku cari cari kamu belum Dateng"


Genta menatap penuh penyesalan kearah depan, memang Genta terlalu bodoh. Kalau saja Genta punya sedikit waktu untuk memperhatikan teman temannya mungkin Genta bisa menguatkan mereka, Genta bisa memahami Gara dan bisa mendampingi Eles untuk melewati hal paling berat dalam hidupnya.


"Genta" Gadis menggoyangkan lengan Genta sehingga lelaki itu menoleh nya.


Mereka bertatapan sangat lama, ada sorot penyesalan yang terpancar di mata Genta.


"Eles gak papa kok, kamu gak boleh ngerasa nyesel kayak gitu" kata Gadis yang bisa membaca gurat penyesalan diwajah Genta.


Genta menghela nafas berat, dia menatap kearah Windi yang baru saja keluar dari ruang tamu bersama mamanya. Ini pertama kali Genta melihat Windi berjalan dengan mamanya, perempuan yang jauh lebih muda dibandingkan Rani.


Mama Windi mengenakan pakaian serba hitam, perempuan itu adalah atasan Lucia mamanya Eles.


Tidak jauh dari posisi mereka, perempuan dengan pakaian pajang dan kacamata mendekati arah mereka.


Plak


"Wanita ******, perebut laki orang!!" maki perempuan itu setelah menampar wajah Mama Windi.


"Tante, Tante apa apaan sih" Windi tampak tidak terima.


"Kasih tahu sama Mama mu, jangan suka ngerebut suami orang" makinya.


Semua pelayat menatap kearah mereka, keributan ini tiba tiba membuat pertunjukan baru. Tidak lama seseorang menengahi mereka lalu meminta mereka untuk segera pergi.


"Ayo kita pulang Win" perempuan itu segera menarik tangan Windi.


Genta sempat beradu tatapan dengan Windi sebelum Windi mengalihkannya dan menatap punggung mamanya.