
Genta duduk di teras Irvan dengan pandangan nanar, hubungannya dengan Gadis sudah diambang kehancuran. Genta mengenal betul bagaimana Gadis, perempuan itu pencemburu hebat.
Irvan yang baru saja keluar, mendekati Genta dan duduk disebelahnya.
"Gue gak habis fikir sama Gara" kata Genta setelah dia mengusap wajahnya "Gue emang salah deket sama Windi, tapi dia gak perlu berlebihan kayak gini" imbuhnya.
Irvan mengangguk dan menarik nafas begitu panjang.
"Lo sabar ya" kata Irvan, hanya itulah kalimat yang bisa dia katakan untuk menguatkan Genta saat ini.
Eles keluar dari dalam rumah Irvan, dia sudah menenteng jaketnya. Lelaki itu ikut duduk disebelah Genta, Eles hanya menarik nafas dan membuangnya dengan berat.
"Nanti biar gue aja yang jelasin ke Gara, mungkin dia lebih bisa ngelunak sama gue" kata Eles.
"Udah, sekarang Lo fokus jelasin ke Gadis aja, Gara urusan gampang, tu anak palingan ngambeknya gak lama" kata Irvan menyemangati.
Tapi Genta merasa ,kali ini kemarahan Gara berbeda, dia tidak sedang marah hanya karena dia dekat dengan Windi, tapi ada hal lain yang membuatnya demikian.
🏡🏡🏡
Genta memberikan waktu untuk Gadis sendiri, dia tidak mengejar Gadis atau mendatangi rumahnya, Gadis mungkin butuh waktu untuk paham. Genta pulang kerumah saat sudah malam.
Motor nya dia belokan kepelataran rumah, Genta melangkah seperti biasanya, dengan rasa sakit hati yang membuatnya tertikam belati.
Saat membuka pintu dan masuk kedalam, Akmal sedang berdebat hebat dengan Rani. Lagi lagi Genta ingin menutup telinganya rapat rapat, Genta ingin mengamuk dan memarahi mereka.
Bahkan disaat Genta ingin istirahat dari lelah, rumah bukan tujuan yang tepat saat ini, rumah hanya tempat yang tidak jauh memberikannya lelah paling menumpuk.
Akmal menoleh kearah Genta, lelaki itu mendekati putranya, wajahnya seperti ingin mengadukan perbuatan Rani pada Genta.
"Kamu tahu mama mu, dia ngelarang papa ketemu sama kamu, padahal papa ini papa kamu" katanya.
Genta hanya bisa menarik nafas, dia menatap kedua orang tuanya yang berwajah pias. Mana wajah penuh cerah saat menyambut kedatangan Genta, bahkan untuk saat ini Genta ingin bercerita kalau dia sedang berkelahi dengan Gara, bahwa dia masih merasa bersalah karena meninggalkan Eles di saat dia terpuruk, bahwa hubungan asmara Genta dan Gadis sedang ada masalah.
"Papa ini masih punya hak atas kamu, sampai kapanpun papa ini tetap papamu, lalu kenapa papa gak boleh nemuin anak papa sendiri?" Tanya Akmal masih menatap arah Genta.
"Aku cuman gak mau Genta terus terus disiksa sama kedatangan kamu yang ngerayu buat tinggal sama dia!!" Rani maju selangkah dan menjawab semua pertanyaan yang di lontarkan Akmal.
"Itu yang buat aku gak mau ninggalin Genta sama kamu" kata Akmal kembali menatap Rani "Aku khawatir kalau kamu akan maksa Genta untuk jadi apa yang kamu mau, aku khawatir kalau nanti kamu ngelarang Genta ketemu sama aku"
"CUKUP AKMAL!!!, aku muak sama semua perkataan mu. Kamu pergi dari sini !!!" usir Rani.
"Perceraian kita tinggal dua hari lagi, dan Genta masih belum memutuskan, jadi biar aku yang memutuskan Genta ikut sama siapa" pungkas Akmal.
"Aku yang lebih berhak atas Genta!" Kata Rani tak mau kalah.
Genta hanya bisa menarik nafas dengan sesak, lelaki itu terus berjalan. Bahkan mereka tidak pernah bertanya pendapatnya, Genta takut jika dia tinggal dengan Rani, maka Rani akan memaksanya menjadi apa yang dia inginkan.
Genta takut jika dia memilih tinggal dengan Akmal, maka kepribadian dan karakter nya akan menuruni Akmal.
"DIAM KAMU AKMAL!!!" bentakan dari Rani membuat langkah Genta berhenti.
"Jangan kamu membalikan fakta, perceraian kita disebabkan sama kesalahan kamu, apa kamu cukup buta buat memahami semua?" Rani mendekati Akmal dengan keberaniannya.
"Kesalahan aku?, bukannya kamu yang emang pengen cepet cepet nikah sama lelaki itu?!" teriak Akmal tak kalah lantang
"Apa perlu aku jabarkan semua kesalahan kamu, apa perlu aku kasih tahu wanita wanita kamu diluar sana" gertak Rani.
"Diam kamu!!!!!" tunjuk Akmal tepat di wajah Rani "Sekali kamu bicara aku gak segan segan mukul kamu" ancamnya.
"Saatnya Genta tahu kelakuan papanya kalau kamu udah punya anak selain anak yang dikandung Sandra" Rani menantang Akmal, dia tampak tidak takut sama sekali.
Genta menatap kedua orangtuanya, langkahnya dengan lemah berjalan mendekati mereka.
"JAGA BICARAMU" bentak Akmal.
"Bener kan, kamu gak cuman sekali ngehianati Genta, tapi udah dua kali, Genta perlu tahu kalau papanya itu kotor, ********, busuk"
Plak
Satu tamparan itu mendarat di pipi Rani, perempuan itu terhuyung kebelakang hingga terjatuh ke atas lantai. Genta dengan lemas menatap apa yang baru saja disuguhkan Akmal.
"Genta papa__"
Genta dengan cepat berjalan ke arah Rani, pipi perempuan itu memerah berkat tamparan keras yang dilayangkan Akmal. Genta menatap mamanya.
"Mama gak papa?" Tanya Genta penuh kekhawatiran.
Rani menyeka air mata yang membanjiri pipi, merasakan panas di area pipinya dan hanya bisa berpegangan pada tangan Genta.
"Mama gak papa sayang"
Genta melepaskan peganggan Rani dan berdiri, lelaki itu menatap Akmal.
"KELUAR DARI SINI" usir Genta pada Akmal.
"Papa emosi Genta, papa gak bisa ngendaliinnya, maafin papa Genta"
Tangan Akmal hendak meraih tangan putranya tapi lebih dulu Genta menjauhkan tangannya. Genta benar benar takut dengan lelaki didepannya yang sudah seperti monster dihadapan Genta. Akmal pernah bilang kepadanya sesalah apapun seorang perempuan, laki laki tidak berhak memukul perempuan, dan apa yang di perlihatkan Akmal barusan?.
"Genta, kecewa sama papa" air mata Genta turun membasahi pipi, air mata yang penuh kecewa.
"Genta bener bener kecewa sama papa, papa keluar pa, tolong, Genta gak mau semakin benci Sama papa" pinta Genta penuh permohonan.
Akmal menelan kekecewaan putranya, rasa menyesal dan bersalah bercampur menjadi satu. Saat melihat Rani yang masih memegangi pipinya dengan tangis, Akmal hanya bisa menunduk, perlahan lelaki itu bergerak menjauh.
🏡🏡🏡
Genta duduk di sisi sofa, lelaki itu mengompres pipi Rani dengan air dingin. Rani merintih sejenak merasakan rasa nyeri yang dia rasakan.
Genta memeras air es dan menempelkan kembali ke pipi Rani. Lelaki itu masih diam, tidak ingin membahas apapun yang terjadi barusan.
Tangan Rani bergerak menyentuh tangan putranya, ibu anak satu itu dengan mata sendu menatap ke arah Genta.
"Mama cuman gak mau kamu tinggal sama papa kamu, Mama akan kesepian Genta, Mama gak bisa hidup tanpa kamu" kata Rani.
Genta melepaskan pegangan itu, dia meletakkan handuk ke dalam mangkuk dan merubah posisi duduk untuk menghadap kedepan, Genta tidak mau menatap sorot mata Rani.
"Genta" panggil Rani dengan nada lembut "Mama tahu kamu kecewa sama Mama, tapi ini mama lakuin demi kamu"
Genta menarik nafas perlahan, rasa sesak itu lagi lagi menyerangnya, rasa gumpalan yang masih setia bersarang di kerongkongannya kembali menghambat nafas dirinya.
"Kemarin papa bilang ke Genta, kalau perceraian ini cuman alasan Mama buat nikah lagi" Genta masih menatap arah depan tanpa menatap arah Rani.
"Kamu jangan percaya, Mama bahkan gak kepikiran untuk menikah lagi, Mama ingin hidup sama kamu, berdua dan kita bahagia" Rani berusaha menyakinkan Genta.
Genta masih diam saja, dia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, menarik nafas menggunakan mulut yang menghasilkan suara sesak untuk didengar.
"Kamu akan ikut mama kan?" Tanya Rani "Kamu harus memutuskannya, perceraian Mama sebentar lagi"
Genta menoleh kearah Rani, menatap air mata perempuan itu.
"Kasih Genta alasan kenapa Genta gak boleh milih papa?"
Rani seperti terhantam gondam, dia tidak menyangka jika sampai saat ini Genta masih menginginkan Akmal. Padahal Genta sudah tahu semua kejahatan Akmal, tapi pertanyaan tadi semakin menegaskan kalau Genta berniat memilih Akmal.
"Kamu bener bener pengen tinggal sama papa kamu?" Tanya Rani.
"Genta gak pengen memilih, tapi Genta harus tahu, alasan apa yang ngebuat Mama takut aku tinggal sama papa"
"Apa perbuatan papa kamu ke mama masih belum cukup untuk menjadi alasan kamu tinggal sama Mama?"
Genta menatap arah depan, cukup? Genta merasa sudah kecewa pada Akmal, tapi kekecewaannya tidak menghapus rasa sayang Genta kepada lelaki itu. Genta menyukai Akmal, sebab lelaki itulah yang selalu memberitahu mengenai bagaimana menjadi lelaki. Akmal adalah tumbuh kembangnya.
"Kamu harus tahu ini, Mama rasa ini cukup buat bikin kamu tinggal sama mama" Rani menatap kearah Genta "Benua, adik Gara itu___"
Genta menoleh kearah Rani, kenapa dengan Benua? Apa yang salah dengan anak itu. Kenapa Rani harus menyebutkannya, oksigen yang diambil Genta rasanya sudah habis, Genta seperti tidak bernafas, seperti menahan nafas hanya untuk mendengarkan kalimat Rani selanjutnya.
note : jangan seudzon ges, ayo keluarkan konspirasi kalian tentang Akmal