
Renza buru buru mencabut ujung pisau yang tercantul ke tangan Mira ,dia merobek ujung kaos yang di gunakan lalu membalut nya kearah tangan Mira agar darah nya berhenti mengalir.
Mira meringis Sakit.
Renza menekan tombol darurat agar suster datang ke ruangan nya.
beberapa saat suster beserta satu dokter masuk kedalam ruangan.
"sus tolong obatin luka tusukan nya"suru Renza dan di Angguki oleh suster tersebut.
Mira di dudukan disofa yang berada di ruangan tersebut.
Mira meringis kesakitan saat dokter tersebut membersih kan darah yang terus mengalir di telapak tangan nya.
"tahan iya" ujar suster itu.
Mira mengengam jemari Renza dengan kuat menahan Rasa Sakit di saat suster itu menekan luka tusukan nya.
Renza menghapus Air mata yang mengalir di pipi cuby milik Mira " tahan iya sebentar lagi tinggal di perban"
Sedang kan di posisi Mama Rina di saat itu terdiam menatap gadis yang di obatin didepan nya yang rela membahaya kan diri nya demi menolong nya dari musiba yang dia buat sendiri.
beberap saat Mira telah selesai di perban luka yang berada di tangan nya.
"Mama kenapa ingin membahaya kan diri Mama sendiri? kalau Mama ingin bunuh diri apa Mama mau menanggu dosa begitu banyak nanti di akhiran?karena Mama Mira terluka"skak Renza pada sang Mama.
Mama Rina hanya diam tak berkutik tak sedikit pun menjawab ucapan sang Anak, mungkin dia syok?.
Renza tiba tiba memeluk sang Mama disaat itu lah Mama Rina menangis di pelukan sang anak.
Mama Rina melirik ke arah Mira lalu menyuruh nya mengampiri nya.
Mira pun Reflek berdiri dari sofa lalu beranjak kearah brankar " iya kenapa tan? apa ada yang Mira bisa bantu?"
Mama Rina melepas kan pelukan nya dari Renza lalu memindah memeluk Mira "maafin iya gara gara kecerobohan Mama kamu jadi terluka.
Mira membalas pelukan dari Mama Renza jujur dia Sangat Rindu di peluk seperti ini oleh sang ibu yang sedang koma saat ini.
"Tante kagak perlu minta Maaf.tapi tante harus janji tidak akan seperti tadi lagi"
Mama Rina hanya mengangguk "jangan panggil tante panggil aku Mama sekarang kamu Putri ku"
Mira tiba tiba saja menurun kan Air mata kembali saat ini memang Ia kangen dengan Sosok ibu "iya tante eh ma"
"jangan menangis sayang" ujar Mama Rina menghapus air mata Mira. "jasat Papa kamu udah di temukan Re?"tanya Mama Rina kepada Putra nya walaupun Sesak di dada nya masih terasa begitu Sakit tapi dia berusaha ikhlas kalau dia Terus terusan menangis tak mampu juga buat suami nya kembali lagi.
"udah MA Galvin udah urus jasat Papa untuk di bawa ke rumah untuk di sholat kan maka dari itu kalau Mama udah membaik kita pulang ke rumah untuk melihat Papa terakhir Kali nya " Renza menatap keatas agar Air mata nya tak jatuh.
deg
saat itu tubuh Mama Rina hampir tumbang namun cepat cepat Mira menahan nya.
kini di rumah Renza begitu banyak orang berpakaian hitam, bendera putih terpapang didepan Rumah Renza.
saat ini Mama Rina pingsan lagi disaat melihat jasat itu benar benar suami nya walaupun wajah nya kebakar sedikit namun udah jelas jelas jasat Pak wijaya.
Mira sanatiasa tetap berada disisi Mama Rina yang berada didalam kamar sedang terbaring belum sadar saat ini.
Renza masuk kedalam kamar sang Mama Ia melihat Mama nya belum sadar.
dia duduk di tepi ranjang lalu mengelus puncuk rambut kepala Mama Rina. "udah setengah Jam Mama pingsan mau takk mau kita harus makamin Papa tanpa Mama"
Tiba tiba Mama Rina sadar.
"Mama udah sadar?"
"ya udah Mama mau ikut ke pemakaman Papa?"
Mama Rina mengangguk kembali mata Mama Rina saat ini udah bengkak karena Terus terusan menangis.
Renza melirik Mira untuk mendampingi Mama nya karena dia akan mengangkat mayat Papa nya.
Mira pun cepat cepat mengambil ahli tangan Mama Rina lalu mengelus bahu nya.
Mama Rina hanya tersenyum tipis kearah Mira.
********************
kini Pak wijaya sudah dibawah tumpukan tanah yang dimana tempat terkhir Kali nya mereka bertemu dengan pak wijaya.
semua satu persatu orang yang ikut kepamakaman sudah pergi dari sana.
kini cuman ada Renza, Mama nya serta Mira dan kelima sahabat Renza yang masih berada di pemakaman Papa Renza.
"Pah Renza janji Renza akan membahagia kan Mama Renza bakal gantiin posisi Papa, papa tenang disana iya "Renza menangis memeluk batu nisan Sang papa.
Mira masih mengelus bahu Mama Rina yang sesengukan di peluka nya.
Galvin dan ke empat teman nya mengampiri Renza.
"Za udah kita balik kalau lo terus terusan nangis kaya gini om wijaya akan tersiksa disana mending Kita balik. langit mendung hujan segera turun" Galvin memegang kedua bahu Renza untuk berdiri.
Renza menghapus Air mata nya lalu mengampiri Mama nya lalu mengambil ahli Mama nya dipelukan Mira. " Kita pulang iya Papa mau istirahat papa pasti sedih kalau lihat kita sedih juga kan"
Mama Rina hanya mengangguk wajah Mama Rina saat ini sangat lah pucat.
sesampai nya mereka di rumah Renza, mereka pamit karena sudah lumayan Lama berada disana.
"kami pulang ya tante kita mau ke rumah sakit Kata nya Marvin udah sadar" ujar Felix yang menyalim tangan Mama Rina diikuti dengan ke tiga eman nya.
"Makasih iya bro udah bantu gue urus ini semua. besok datang iya ke sini iya hibur gue ,gue butuh kalian" ujar Renza.
"siap bos kita sahabat sebagai sahabat kita harus saling membantu kan " balas Alex.
mereka tiga pun pergi dari sana menuju rumah Sakit dimana Marvin dirawat.
"kami juga pamit pulang iya Mama" ujar Mira.
"sering Main kesini iya Temenin Mama" Mama Rina mengengam tangan Mira
Mira mengangguk" Mira akan sering sering kesini kok kalau Kak Renza izinin" Mira melirik Renza.
Mama Rina ikut melirik sang putra " emang perlu izin Renza?"
"iya MA Kak Renza gak suka sama Mira tau" adu nya.
Renza membulat Mata nya mendengar aduan Mira.
Mama Rina menatap Putra nya" benar yang di kata kan Mira Re? "tanya Mama nya.
Renza menggeleng" ngk kok ma"
"bohong tante" Mira semakin mengempori Mama Rina.
Mama Rina menjewer telinga Renza membuat Renza meringis kesakitan"berani iya tidak suka sama calon menantu Mama"
Mira yang sedang tertawa kecil pun seketika berhenti mendengar ucapan Mama Rina "eh?".