VIRGOS

VIRGOS
Digendong.....



Sekarang Galvin datang ke apartemen Renza, ia dapat alamat nya dari teman nya yang lain.


Sesampai nya disitu membuat Mira panik dia terus saja bersembunyi di badan Renza, tidak ingin melihat Galvin. Seakan Galvin itu hantu atau virus saja.


Namun setelah mengjelaskan kedatangan nya, membuat ketakutan Mira, mulai berkurang dan sudah mau menampakan diri nya didepan sang kakak.


"Kakak benaran kan?Atau jangan jangan....Kakak katakan ini supaya aku ikut sama kakak, terus dedek nya di bunuh!" tuduh Mira.


Ucapan Mira, membuat mereka yang ada disana, melotot, sungguh pikiran nya sangat jauh. Sampai ke planet Juny.


"Benar benar iya! Kamu nuduh kakak kaya gitu! Kakak aja ga kepikiran sampai kesitu!" ketus Galvin.


"Siapa tau aja!! Kakak jadi orang jahatt?" balas Mira ga kalah ketus.


"Ga iya!"


"Ga Percaya!!!! Mira ga mau pulang sama kakak!" ujar Mira.


"Mama nyari kamu! Kakak udah kehabisan alasan! Mama dan tante Marisa harus tau masalah ini, apa lagi sekarang kamu sudah berbadan dua!" Galvin mengubah topik ke topik serius, tidak ingin mendalami keributan dengan sang adik.


Mereka berenam yang tengah asik menyimak perdebatan antara adik dan kakak itu pun, seketika menegak kan badan nya, sesuani seakan menjadi melunak saat itu.


"Benar!" ujar Felix dan keempat teman nya yang lain.


"takut!" sahut Mira dan Renza bersamaan.


"mereka memang bakal kecewa dan marah, tapi gue yakin itu hanya sementara!" seru Galvin, dan diangguki kelima teman nya, tanda membenar kan.


"Gue bakal usaha in besok akan memberi tau mereka," balas Renza.


Mereka mengangguk, kecuali Mira.


"Pernikahan kalian bisa di laksanakan minggu depan aja! Dan untuk sekolah Mira, Mira masih bisa sekolah selama perut nya belum membesar," saran Samuel.


Mira yang tadi nya ingin merucap, namun tidak jadi karena keduluangan oleh Felix.


"Dan ga perlu khawatir, kalau memang ibu ketua ingin mengikuti pelajaran, ia bisa melakukan secara BDR ( BELAJAR DI RUMAH SAJA)." sahut Felix.


Mira pun nampak diam, hati yang tadi terjanggal seketika tenang, dan menerima.


"Nanti, kakak bakal nyari guru kusus buat kamu di rumah, kamu tenang aja! Kakak bakal nyari yang sudah agak tua, kalau kamu ga mau guru yang muda." Renza memasuk kan kata.


Mira hanya mengangguk. Menurut nya itu sudah lebih cukup.


"Kamu ga mau pulang sama kakak? Mama nyariin kamu! Kakak beralasan setelah pulang dari rumah sakit, kamu ngidap di rumah Kayla!" ucap Galvin.


Mama Anita waktu itu tidak ikut ke rumah sakit, alasan trauma dengan bangunan itu, bukan gimana, kalau saat menginjak yang nama nya rumah sakit. Memori yang dulu seakan berputar kembali. Memori yang sudah dia berusaha ia tanam dalam dalam.


Mira mengangguk. " Mira bakal pulang, tapi di antar sama kak Renza! Mira belum percaya sepenuh nya sama kakak!" ujar nya.


Galvin memutar bola mata nya keatas sekilas. "Iya iya, nyonya!" ketus Galvin, membuat Mira menohok.


"Tadi seblak ku mana?" tanya Mira.


Pfttt.


Felix yang sedang minum, langsung mengeluar kan air itu dari mulut nya, dan menyemprot nya ke arah Samuel yang sedang berada didepan nya.


Air liur, bau jigong, sudah tercampur diair itu. Tepat sasaran mengenai wajah tampan mempesona nya babang Samuel.


"Kont*l," skak Samuel memukul meja yang ada didepan nya. Ia melap air yang bau alah mulut Felix itu, Samuel maju dan menarik kerah baju yang di pake Felix.


Felix menelan salvin nya dalam dalam, seakan nyali nya menciut.


Tanpa aba aba, Samuel menyemprot air yang ada didalam mulut nya ke arah Felix. Setelah itu Samuel tersenyum jahat.


"Impas, bahahaha," tawa jahanam Samuel.


"Udah udah ayo Ra, kita pulang!" sahut Galvin.


"Tapi seblak Mira?" tanya Mira memayun kan bibir nya.


"Nanti di jalan kita beli lagi!" ucap Renza mengendong depan Mira seperti bayi koala.


Mira memukul lengan Renza, dan menyuruh nya menurun kan diri nya dari gendongan cowok itu. Renza pun hanya menurut.


"Mira mau digendong nya sama kak Marvin! Sampai di lobby apartemen!" seru Mira. Membuat mereka bertujuh menganggak secara bersamaan.