VIRGOS

VIRGOS
Keadaan tante Anita, alias mama Galvin dan Mira.



"Kak, boleh singgah di rumah sakit xxxxxx?" Tanya Mira yang duduk di jok belakang motor Renza.


"Kenapa sayang? Ada apa?" Tanya Renza panik.


"Mira cuman mau jengukin mama, perasaan aku ga enak,"balas Mira.


Renza hanya mengangguk kan kepala nya. Renza pun belok arah. Yang tadi nya mau antar pulang Mira, menjadi akan pergi ke rumah sakit, dimana mama Anita dirawat.


"Kak, kok perasaan Mira ga enak iya? Kaya ada terjanggal," aduh Mira.


"Mungkin karena efek kamu khawatir sama mama kamu, dan udah lama ga jengukin kan?" Renza berusaha menenang kan kekasih nya itu.


Mira memeluk pinggang Renza dengan erat. Renza memegang tangan Mira menggunakan tangan kiri. Dan yang kanan buat menyetir.


"Tenang ok?"


Mira tidak menanggapi ucapan Renza. Dia lebih milih diam, dan berusaha berfikir positif.


Keheningan di antara mereka tercipta. Hanya ada suara pengendara lain, dan sejuk nya angin malam.


Tiba tiba ponsel Mira berdiring.


"Kak, berhenti dulu!"pinta Mira.


Clek.


Renza memberi kan motor nya kesamping jalan. Dia membalikan badan nya kearah Mira.


"Kenapa?" Tanya Renza.


"Kak Galvin nelfon kak!" jawab Mira. Renza hanya mengangguk. Mira pun mengangkat sambungan telfon tersebut.


"Halo kak?"


' .......'


Dengan tangan bergetar. Ponsel yang tadi nya dia pegang terjatuh, bahkan tubuh nya hampir tumbang. Namun cepat cepat Renza menangkap nya.


"Eh sayang Kenapa?" Tanya Renza panik. Disaat Mira tiba tiba menangis.


"Mama kak..." Mira tidak bisa melanjut kan ucapan nya. Dia malah makin nangis.


Renza refleks memeluk tubuh gadis itu. "Tante kenapa sayang?" Tanya Renza.


"Kaka antar Mira cepat ke rumah sakit, kak!" ujar nya. Tanpa membalas pertanyaan Renza.


Mira ikut naik keatas motor sport itu. " Kak cepat kak!" pinta Mira.


Renza melajut kan dengan kecepatan aga sedang. Walaupun Mira meminta nya untuk cepat. Namun angin malam menerpang bisa membuat Mira sakit.


Beberapa saat Mereka sudah sampai dirumah sakit dimana Anita di rawat alias mama Galvin dan Mira. Mira tanpa aba aba. Langsung berlari masuk kedalam bangunan rumah sakit itu.


Dengan perasaan gusar dia menuju ruang dimana mama nya sekarang dirawat. Galvin sudah memberi tau bahwa mama nya dipindah kan keruang darurat.


Galvin memang setiap hari akan datang kerumah sakit itu.Hanya untuk melihat kondisi mama nya.


Disaat ia hendak masuk kedalam ruang rawat mama nya . Tiba tiba mama nya bergerak, dan sedikit terkejang kejang. Galvin pun dengan cepat memanggil dokter.


"Kak, keadaan mama gimana?" Tanya Mira. Yang langsung memeluk tubuh Galvin.


"Mama keadaan nya kritis dek!" jawab Mira. "Kita berdoa semoga, setelah melewati ini. Mama akan baik baik aja!"


Mira hanya mengangguk.Dan terus terisak di dalam pelukan Galvin.


"Kenapa vin? Tante Anita?" Tanya Renza, tiba tiba datang.


"Mama gue kritis za!" jawab Galvin.


Galvin mengusap kebelakang rambut nya, dengan kasar.


Renza mengambil ahli Mira. Dia tau Galvin pasti butuh juga ketenangan.


Ia mengbelai rambut milik Mira. "Udah nangis nya. Kamu memang khawatir tapi jangan sampai kamu juga ikutan sakit sayang!" Renza dengan ragu berucap.


"Kalau mama makin parah gimana kak?" ujar Mira.


"sttt. Jangan ngomong gitu, kita berdoa saja semoga mama kamu baik baik aja, buang pikiran negatif kamu itu!" balas Renza.


Mira hanya mengangguk. Diam pun mulai diam di dalam dekapan Renza, yang membuat nya nyaman. Bahkan saat ini kaya nya Mira tertidur.


Tiba tiba kelima teman Renza, dan kelima juga teman Mira datang. Karena mendengar kabar itu dari gc ngibah yang di buat Mira. Entah siapa yang memberi tau, padahal Renza dan Galvin mau pun Mira belum memberi kabar kepada mereka.


"Gimana keadaan tante Anita?" Tanya Samuel tiba tiba.


Renza mengode supaya tak terlalu ribut, agar Mira tak terganggu. Mereka semua pun diam disana.


Kayla mendekat ke arah Galvin. Kayla langsung saja memeluk tubuh kekar itu.