VIRGOS

VIRGOS
Marah nya seorang Galvin.



"Gue nyentuh Mira!" ujar Renza menunduk.


"Nyentuh maksud lu?" tanya Galvin kembali, dengan bingung.


"Gue nyentuh tubuh Mira, gue merusak masa depan nya. Maaf gue seharus menjaga nya bukan malah merusak nya." Renza tidak berani menatap Renza.


Setelah mendengar perkataan Renza. Seketika dia lupa kalau dia begitu menakuti Renza sebagai ketua nya. Galvin menarik kerah hoodie yang di gunakan Renza.


"MAKSUD LO APA SIALAN HA?" teriak Galvin dengan memukul rahang Renza.


Renza sama sekali tidak membalas pukulan Galvin, dia hanya berdiam diri. Disaat Galvin terus memukuli nya.


"Gue.... "


Bug.


Belum sempat melanjut kan ucapan nya. Galvin kembali melayang kan pukulan dengan bertubi tubi.


Bug


sekali.


sekali lagi.


dan lagi.


Dan.


Renza ambruk ke tanah, dengan darah segar yang keluar dari hidung dan mulut nya.


"Pantes adik gue, ga mau dekat sama lo!" ketus Galvin. "Gue memberi adik gue, yang gue lindungi layak nya putri, ke lo. Pake tangan gue sendiri, tapi ini balasan lo?" Mata Galvin seakan memerah.


"Gue minta maaf, gue bakal tanggung jawab!" ujar Renza dengan pelan.


"Itu harus! Tapi karena lo......" Galvin menunjuk Renza, dengan nanar. "masa depan adek gue rusak. Kalau dia hamil, bukan lo yang menderita tapi adek gue! Adek gue yang akan menanggung caci makian orang!"


Renza terdiam. Dia tidak bisa berkata kata lagi. Kalau keinginan dia, dia juga tidak ingin melakukan ini, tapi dengan pengaru minuman yang Mira minum semalam. Membuat Mira kepanasan di depan Renza, lelaki normal mana yang tidak menerima itu?Hanya lelaki bodoh. Walaupun lelaki itu sangat mencintai dan berusaha menjaga kesucian wanita yang belum berharak dia sentuh, tetap saja mereka ga bisa menahan hasrat nya.


Mira juga yang memberi kan semua nya pada Renza. Kata orang, 'Mana ada kucing yang ditawar kan ikan didepan mata, ia tolak?'


"Gal, ini semua salah kami !" sahut Gatha.


"Gue mau bilang, tapi minuman itu terlanjur Mira minum. Sebenar nya minuman itu, ingin kami berikan pada tetangga penginapan kita," tambah Arnav.


Mereka memang niat iseng, untuk menawar kan, seseorang yang menginap disebelah penginapan mereka. Namun perbuatan konyol mereka membawa permasalahn yang rumit.


"Kalian ini seperti bocah tau ga? Tidak tau dampak yang akan terjadi? Kalian sudah dewasa, jangan seperti orang gila!" skak Galvin, penuh emosi.


Mereka semua terdiam. Apa yang di kata kan Galvin ada benar nya, seharus nya mereka tidak perbuat seperti itu, kepada Mira maupun orang yang ingin mereka isengin


Mira yang baru saja datang. Langsung berlari kearah Renza, yang keadaan nya sangat kacau.


"Kak Galvin, apa yang kaka lakukan?" Mira menoleh ke arah kaka nya.


"Kakak memberi nya pelejaran, dia berani mengambil harta yang kakak jaga selama ini!" jawab Galvin. " Dan kalian, jangan lakukan seperti lagi! Karena kalian. Adek gue yang jadi korban nya!" Galvin menunjuk keempat teman nya, Arnav, dan Gatha.


Mereka hanya menunduk. Sungguh mereka sangat menyesal, telah apa yang mereka lakukan.


"Vin, gue minta maaf!" sahut Renza yang berusaha berdiri dan merai tangan Galvin. Namun cepat cepat Galvin menepis nya.


Galvin menarik tangan Mira, pergi dari sana.


"Ren." Mereka ber enam menghampiri Renza, dan membantu nya berdiri.


Felix mengobati luka yang ada di wajah tampan Renza. Sungguh mereka amat amat merasa bersalah.


"Ren, kami minta maaf. Kami sangat kekana kanakan!" sahut Arnav.


Renza hanya menggeleng. "it's okay, kalian tidak sepenuh nya bersalah! Kalau gue bisa nahan hasrat gue. Mungkin ini semua tidak bakal terjadi," balas Renza. "Tapi gue mohon, kalian jangan ulangi kesalahan seperti ini lagi!"


Mereka hanya mengangguk.


"Maaf seharus nya kita kesini, untuk bersenang senang. Tapi malah seperti ini!" Arnav masih saja merasa, masalah ini semua berasal dari nya.


"Gapapa!" Renza menepuk nepuk bahu Arnav berulang kali.


...----------------...


...Hanya Marvin yang tidak ikut terseret. Soal nya si es lagi era bucin bucin nya.🤧...