
"KAMU HARUS GUGUR KAN KANDUNGAN ITU MIRA!" bentak Galvin. Membuat Mira terkejut, baru kali ini dia mendapat kan bentakan, apa lagi dari kakak nya sendiri. Kakak nya tidak pernah membentak nya sedikit pun, walaupun dia membuat kesalahan.
Galvin yang sadar telah membentak sang adik. Refleks mengusap wajah nya kasar, dia mendekati adik nya. Namun Mira menghindar dan keluar dari ruangan itu.
"Apa yang gue lakukan?" tanya Galvin pada diri nya sendiri.
"Ck. Sialan!" umpat nya prustasi. Sebenar nya Galvin sangat tidak tega juga, membuat anak yang tak bersalah yang mendapat kan imbas nya, namun di pikiran nya hanya ada masa depan adik nya. Ia tidak ingin adik nya di hinaa, hamil di luar nikah, apalagi adik nya masih terlalu muda.
"Maaf kan kakak! Kakak egois demi kamu!!!" gumam Galvin, tidak keluar dari ruangan itu,namun dia duduk disofa. Untung menenang kan diri nya terlebih dulu.
**************
Disisi lain Renza masih ada di luar rumah sakit, mata nya memerah, dia hanya berdoa. Agar Mira dan Galvin tidak nekat menggugur kan anak nya.
Renza bagaikan pengimis di pinggir jalan. Ia duduk disana. Banyak orang yang berlalu lalang menatap nya aneh. Namun dia tidak peduli. Fokus nya saat ini hanya dua arah! Anak dan kekasih nya.
Renza mentautkan tangan nya ia genggam. Mata nya semakin memerah menahan air mata yang ingin iya keluar kan. Ia tahan karena malu di kira cengeng, dia kan cowok masa nangis. Padahal cowok juga bisa nangis.
Tiba tiba seseorang berhenti didepan nya. Membuat Renza menegok ke atas. Ternyata orang itu adalah Mira.
Mira tidak sengaja melihat Renza, dia pun menghampiri cowok itu.
Mira berjongkok. Dia ikut mentautkan genggam kedua tangan Renza, dengan tangan nya.
Mira langsung berhamburan memeluk Renza.Renza pun mengusap usap wajah nya di pelukan Mira, kini air mata nya, sedikit demi sedikit keluar.
"Kaka! Bawa aku dan anak kita pergi! Aku takut kak! Kak Galvin mau gugurin kandungan aku!" ujar Mira.
Renza hanya mengangguk kan kepala nya. "Terimah kasih Sayang! Kamu mau menerima anak kita! Makasih kamu tidak ikutan dengan Galvin buat gugurin dia!" jelas Renza. sambil mengusap perut rata Mira. Menggunakan tangan nya.
Mira menggeleng. "Ini anak aku! Aku yang mengandung nya, aku ibu nya. Ibu mana yang rela membunuh anak nya, yang tidak berdosa sedikit pun?"
Renza mengecup, kening Mira dengan lembut, lalu tersenyum.
"Kaka punya apertemen. Nanti kaka suru teman teman kamu datang, kalau kamu ga nyaman kalau kita hanya berdua. kamu Mau?" tanya Renza.
Mira hanya mengangguk. "Tapi kalau kak Galvin datang ke apertemen,kaka gimana?"
"Galvin ga tau, kalau kaka punya apertemen!Kamu ga usah khawatir. Nanti juga kaka sampain ke teman kamu agar tidak memberi tau keberadaan kamu pada Galvin," jelas Renza.
Mira manggut manggut mengerti. Mereka pun beranjak dari sana. Menuju apertemen milik Renza. Renza juga menghubungi kelima teman Mira, agar menemani nya.
Mereka berlimq udah tau tentang permasalahan ini. Mereka sudah berjanji akan merahasiakan ini semua.
Setelah di kabarin oleh Renza. Mereka berlima pun langsung meluncur.
Bug.
Renza dan Mira yang tadi nya sedang bersantai di ruang tv pun, menoleh kearah suara.
Suara jatuh itu. Berasal dari pintu. Terlihat Alex yang jatuh dengan keadaan agak lain.
Renza perasaan tidak mengajak teman teman nya, kenapa mereka juga ada?
"Maka nya, kalau orang, baru masukin password nya. Lo jangan langsung masuk, mampus kan lo sialan!Karma!" coloceh Meisya.
Meisya memang di beri tau password oleh Renza. Renza sangat malas berdiri untuk membuka pintu. Dia hanya semangat mengusap perut Mira.
"Maaf Ren, ra!" sahut Salsa.
Mereka pun pergi kearah mereka berdua. Tanpa ada yang menolong Alex.