
Mobil sport berwarna merah memasuki gerbang utama Sma pelita bangsa.
Banyak pasang mata menatap cewek yang turun dari mobil sport itu. Siapa lagi kalau bukan Mira? cewek yang dicap paling beruntung, bisa bersamaa cowok terpopuler disekolah itu. Bahkan di kawal oleh anak geng Virgos.
Sunggu banyak yang iri kepada nya. Banyak yang ingin berteman dengan Mira, selama diri nya terkenal bahwa dia adalah adik dari Galvin. Tapi tentu Mira tidak menerima teman yang cuman mau mencari muka!
"Kak Renza pelan pelan." Peringat Mira pada Renza.
Renza hanya tersenyum. Dan, lagi dan lagi siswa lain menatap iri kenapa Mira.
"Mira bantu anterin ke kelas nya?" Tanya Mira yang merangkul lengan Renza.
Renza hanya mengangguk menanggapi Mira.
Padahal kaki Renza sudah tak terlalu sakit. Tapi sekarang dia sedang berekting.
"Kapan lagi coba di perhatiin." Batin nya. hati nya tertawa nakal.
"Lihat coba ketua Kita, lagi berekting. Gue yakin kaki nya udah ga sakit itu," Ujar Daniel tepat sasaran.
"Nama nya juga cari muka," Sahut Alex.
Felix menoleh kiri kanan serasa ada yang kurang diantara mereka. "Samuel mana?" Tanya Felix tidak melihat Samuel.
Alex menoleh kan kepala nya kearah Felix. "Lihat pesan nya di grup, dia ga bisa masuk hari ini. Ada urusan keluarga." Jawab Alex.
"Tumben," Carca Felix.
Mereka pun berjalan di koridor kelas untuk menuju kelas mereka.
"kuy kuy cewek cantkk. Apa dedek Alana butuh bantuan aa?" Tanya Daniel berhenti, melihat Alana membawa buku bertumpuk tumpuk.
Alana memutar bola mata nya malas. Kenapa sepagi ini dia bertemu dengan kembaran demit?
"Boleh tolong bawa in iya!" Alana memberi kan semua buku pelajaran yang dia ambil di perpustakaan. Bahkan yang di bawa Kayla juga dia berikan kepada Daniel.
"Makasih iya!" Alana mengidip kan mata nya kearah Daniel. Dia menarik tangan Kayla pergi lebih dulu.
"Anjir ga semua juga taik" Ujar Daniel mengekor dibelakang kedua cewek itu.
"Nyesal gue." Gumam nya. Dia terpaksa tersenyum disaat Alana membalikan badan nya, kearah nya.
Renza dan Mira sudah sampai didepan kelas yang tertara dipapan, Kelas 12 ipa.
"Ngantar nya sampai sini aja iya kak? teman kaka juga udah mau sampai. Kalau kakak ga bisa masuk dalam kelas, bisa minta bantuan mereka. hari ini, hari piket Mira ngambil buku." Jelas Mira.
"awh" Renza tiba tiba meringis kesakitan membuat Mira cemas. Mau tak mau Mira mengantar Renza sampai dia duduk manis di bangku tempat dimana dia duduk.
"Ciee perhatian banget neng," Sindir Meisya, yang tadi sedang gosip dengan Salsa, dan tak sengaja beralih melihat mereka berdua masuk kedalam kelas.
"Apasih." Ketus Mira.
"Udah iya kak! Mira mau kekelas." Mira hendak membalikan badan untuk keluar kelas itu. Namun Renza memegang tangan nya.
"Sebentar pulang sama gue! gue mau ngomong sesuatu," Ucap Renza melepas kan tangan Mira.
Mira hanya mengangguk. Dia berlari kecil karena siswa yang ada dikoridor kelas terus saja menatap nya.
"Hati hati dek, jangan lari lari!" Pinta Galvin yang berpapasan dengan adik nya.
Mira memelangi jalan nya. Dia hanya mengangguk kearah Galvin lalu melanjut kan jalan nya.
Galvin hanya geleng geleng. Tiba tiba dia teringat sesuatu, dia membuka ponsel nya.
"Tan, sebentar lagi misi kita berdua bakal berhasil (emot jempol)"
Galvin tersenyum lalu kembali menyimpan ponsel nya, kedalam saku celana sekolah nya.
Tiba tiba notifikasih masuk kedalam ponsel nya. Galvin membuka kembali ponsel nya. Namun notifikasih yang masuk bukan dari mama Renza. Tapi nomar yang tak dikenal.
Galvin menaikan satu alis nya. Dia menekan notifikasih itu, agar ia tau isi chat nya.
[ "Jaga diri anda dan adik anda! ada seseorang yang niat mencelakai kalian!" ]
[ "Anda tak perlu tau, saya siapa!" ]
begitu isi pesan yang dikirim nomor tersebut.
Galvin sedikit terkejut membaca pesan itu. Galvin menggaruk kening nya yang tak gatal. Siapa seseorang yang ingin mencelakai nya dan Mira?