VIRGOS

VIRGOS
Lebih sayang uncle Marvin.



Mereka Berlima sangat tertekan. Namun di perlihatan Mira, mereka berlima sangat gemess.


"Lucu," gemess Mira, sambil merekam mereka. Yang sedang melakukan dance K-pop.


"Kak Marvin sarangeo," teriak Mira. Membuat Renza melotot.


"Sayang kamu salah nama!" sahut Renza cemberut. Ia berhenti melakukan gerakan itu.


"Ga kok! Aku memang nyebut nama kak Marvin, soal nya kak Marvin. Ganteng, lucu sama keren!" balas Mira.


Renza melepas kan topi nya.Lalu pergi dari sana, masuk kedalam kamar. Ia sedang ngambek.


Mira hanya menaikan bahu nya, mematikan hasil rekamanan nya. Dia pun melihat kembali hasil rekaman itu.


Sedang kan, tiga manusia yang sedang menatap Marvin dengan lekat. Namun wajah Marvin hanya datar.


Cowok itu beranjak kedapur. Untuk ambil minum untuk diri nya sendiri, sangat merasa haus.


Mira menepuk jidat nya. Dia buru buru berlari memasuki kamar, untuk menemui Renza.


"Kakak marah?" tanya Mira. Masuk kedalam kamar. Ia melihat Renza, sedang duduk di sofa, dengan headset di telinga nya.


Dengan rasa takut. Mira menghampiri Renza, dan duduk di dekat nya.


Renza sama sekali tidak menatap ke arah nya. Cowok itu hanya fokus pada layar ponsel nya.


"Cuman gitu kaka marah sama aku? Tadi kan memang penampilan kak Marvin keren, maka nya aku bilang gitu. Penampilan kakak juga jauh lebih keren kok!" sahut Mira.


"Mira Minta maaf!" Mira menunduk, karena Renza sama sekali tidak menjawab nya, malah mengacu kan diri nya.


Renza menarik nafas dalam dalam. Dia melepas headset nya. Mulai lah terdengar di telinga nya suara tangisan.


"Udah nangis nya!" ujar nya dengan wajah datar. Sambil menarik tubuh Mira, kedalam dekapan nya. Kelemahan terbesar nya adalah, pertama tidak ingin Mira meminta maaf kepada nya, dan kedua tidak ingin mendengar gadis itu menangis.


Mira hanya mengusap wajah nya, di dalam dekapan Renza, bau maskulin yang Mira sangat suka di tubuh cowok itu.


"Mira sayang kaka, tapi ga tau aja dengan dedek nya, dia sayang sama Uncle Marvin! Bukan ayah nya," ucap Mira.


"Kok gitu?Kan Aku yang buat bukan Marvin! Kenapa dedek lebih sayang uncle Marvin coba?" tanya Renza.


Mira menggeleng. "Ga tau! Tanya aja sama dedek nya! Kenapa ke Mira," ketus Mira melepaskan pelukan Renza dari nya.


"Dedek, kamu sayang ayah kan dari pada uncle Marvin? Ayah kan, yang buat kamu masa sayang nya sama uncle?" Renza menunduk sambil mencium perut Mira, yang tertutup pakaian itu.


"Soal nya uncle Marvin, lucu dari pada ayah tau!" balas Mira, dengan suara di buat buat seperti bayi.


Renza hanya tersenyum lalu mencium kening Mira dengan sangat lembut.


"Kaka udah ga sabar, buat nikahin kamu sayang!" seru Renza.


"Semoga aja iya, kak Galvin cepat cepat restuin kita!" ujar Mira.


"Sabar iya, ayah!" sambung Mira, membuat Renza kekeh, lalu mengdudukan Mira di pangkuan nya, tangan nya mengkelitik perut Mira. Membuat gadis itu geli, sambil tertawa.


"Kaahha udahaaa ih! Gelihaaa tauuu! " ujar Mira tidak jelas, karena kebanyakan ketawa. "Kaka kasian tau dedek nya!" sambung Mira. Membuat Renza berhenti, lalu memeluk tubuh mungil gadis itu dari belakang.


"Lo lihat sendiri kan Vin? Mira aja bahagia begitu! Biarin mereka bersama! Masa depan Mira ga rusak. Masa depan nya itu Renza dan anak yang dia kandung!" sahut Felix. Yang tengah call dengan Galvin. Felix memperlihata kan Mira yang sedang tertawa bersama Renza.


Kelima manusia itu memang sedang mengintip dari luar kamar.


"Lo jangan egois Vin! Lo lihat sekarang, Mira aja takut sama lo! Karena lo mau gugurin kandungan nya! Kalau Mira nerima ini semua, kenapa lo ga?" ujar Daniel.


Di sembrang sana, Galvin terdiam dengan kata Kata teman nya. Kemarin dia juga mendapat kan nasehat dari Kayla. Membuat nya mulai perlahan merestui Renza dan Mira bersatu dan menikah di usia muda, demi anak yang di kandung Mira.