
"Pake baju lo berdua sekarang! atau gue colok satu satu mata kalian," pinta Renza yang masih menutup mata Mira.
"Baju kita berdua basa bos! pinjamin iya?"ujar Alex.
Renza memutar bola mata nya keatas. " Ya udah sana."ujar Renza.
Mereka pun berlari keluar dari sana. Niat menuju kamar Renza, untuk ganti pakaian.
"Aduh ada dedek Alana. Muah." Daniel memayun kan bibir nya ke arah Alana. Membuat Alana berteriak hesteris, memindah kan badan nya kebelakang Meisya.
"Pergi! atau lo, gue sunat ulang!" pinta Meisya.
Daniel menggerik ngeri. Dia pun berlari mengikuti Alex. Disaat sampai di ruang tengah dia kepeleset.
"Aduh," ujar nya berdiri dan melanjut kan jalan nya, kembali.
"Ca aelah bucin," cibir Samuel.
"Apa? iri saingin dong kak muel." Mira memberi Samuel jari tengah nya.
"Ga cowok nya, ga cewek nya. Sama sama prik, " ketus Felix.
"Gapapa. Dari pada kak Felix jomblo permanen." Mira sanggup membalas semua perkataan mereka.
"Kata siapa? gue ga jomblo," ujar Felix.
"Masa?"
"Iya! cuman pacar gue lagi kerja di korea!" ujar nya bangga.
"Halu," Teriak mereka bersama.
"Iyakali cewek nya kerja. Cowok nya jadi beban," sahut Salsa.
"Itu nama nya sayang pacar, tau!"jawab Felix.
"Alah. Memang si jisoo mau cowok kaya lo? yang mirip demit?" Tanya Meisya.
"Apasih Mei Mei. Mei Mei ga di ajak!" ketus Felix.
"Gue yang ajak!" sahut Mira dan Alana.
Felix memilih diam. Kalau berurusan dengan mereka ber enam. Apa lagi dengan pawang ketua nya. Mending dia memilih mundur sebelum berperang.
Kayla dan Irana hanya menyimak mereka. Mereka juga memilih diam, dan duduk santai di dekat kolam.
"Ga usah di ladengin. Demit kaya dia tuh ga pantas di respon. Sayang!" Renza menarik tangan Mira untuk duduk. Sebelum gadis itu mengeluar kan jurus ngereog nya.
"Apa lihat lihat? minta dicolok ha?" Tanya Mira pada Samuel.
Samuel menggeleng cepat. Dia kembali melanjut kan kegiatan nya. Membakar daging ayam.
"Sabar ra sabar," sahut Kayla.
"Iran. Lo kok dua hari ga masuk sekolah?" Tanya Salsa.
"Ada urusan keluarga!" jawab nya.
"Kok sama kaya Samuel? lo ada ikatan keluarga iya?" ujar Meisya. Yang duduk disamping Salsa. Sambil memakan kue.
"Ga. Mungkin hanya kebetulan samaan!" Spontan mereka berdua.
"Yakin?" Tanya Galvin buka suara.
"Yakin!" jawab mereka bersamaan lagi.
"ooh." Mereka hanya beroh ria saja.
Alex dan Daniel baru saja datang. Sekarang mereka berdua sudah berganti baju, Meminjam baju Renza. Itu sudah tak jarang lagi bagi Renza untuk meminjam kan baju nya pada teman teman nya.
"Halo babang yang dermawan datang," ujar Alex. Namun tidak ada yang merespon nya.
"Anjir gue kaya martabak istimewa tapi di kacangin"
"Dih emang lo istimewa?" Tanya Alana.
"istimewa dihati mu, nyuak," jawab Alex.
Alana berhuek. Mendengar ucapan Alex barusan. "Iw. Jijik. " Alana menggeli.
Alex duduk didekat Galvin. Di ikuti oleh Daniel. Daniel terus menatap siku nya yang tergores.
"Napa lo kuda niel?" Tanya Felix. Yang sedang membantu Samuel.
"Gue kepeleset di ruang tengah nyet. Sakit siku gue, Aduh Daniel.
"Asab itu mah!" sahut Salsa.
Daniel hanya mendengus kesal.
"Mau di obatin ga kak?" Tanya Kayla.
Daniel hanya mengangguk. Kayla berdiri dari duduk nya. Ingin mengambil kotak P3K yang tak sengaja dia lihat disana. Namun cepat cepat Galvin mencegah nya.
"Dia bisa sendiri. Dia bukan anak kecil lagi., " ketus Galvin menahan lengan Kayla. Dia menyuruh Kayla duduk kembali.
"Tapi kasian tau!"seru Kayla.
"Dia tuh demit. Ga baik di kasihani,"ujar nya
"Cemburu mah bilang aja kali," sindir Daniel. " Dedek Alana, ga mau obatin luka aa?" Tanya Daniel pada Alana.
"Ga minat, " ujar Alana cepat.
Selain Marvin, mereka semua ketawa mendengar perkataan Alana. Sungguh teman yang tidak ber ahlak. Daniel hanya bisa pasrah menjadi bahan tertawaan mereka.