VIRGOS

VIRGOS
Bab kusus Renmir.



"Mau rasa apa?" Tanya Renza pada Mira. Disaat Mira menyuru nya berhenti membeli es krim.


"Coklat dan vanilla!" ujar Mira berbinar.


"satu aja!nanti batuk batuk gimana?" Pinta Renza. Bertanya.


Mira mendengus kesal. " Orang mau nya dua! ga bakalan batuk batuk!!!! Mira kan bukan anak kecil," ujar nya.


"Kasih dua mas! rasa vanilla dan coklat," ujar Renza pada tukang es krim tersebut.


"Di tunggu iya dek!"


Renza hanya manggut manggut. Terus membalikan badan nya ke arah Mira. Yang sedang duduk diatas motor.


Renza tersenyum, lalu menghampiri gadis yang sudah resmi jadi kekasih nya itu.


Renza menyepit kan rambut Mira kebelakang telinga. Karena rambut nya menutupi wajah cantik nya.


"Kan gini cantik!" ujar Renza.


Mira tak merespon Renza. Dia membalikan wajah nya kearah lain, tak berani menatap Renza.


Renza terkekeh. Ia menangkup dagu Mira agar menatap nya.


"Tukan benar. Salting iya?" ujar Renza menggoda.


"Ga!!!"


"Ini dek es krim nya!" Teriak tukang es krim tersebut.


Renza pun berbalik badan mengambil es krim itu. Dia memberi kan nya ke Mira.


Mira berbinar, melihat kedua eskirm yang sudah dia pegang.


"Semua nya buat gue kan kak?" Tanya Mira.


Renza hanya mengangguk. Mira pun menyicipi eskrim yang dia pegang.


"Enak?"Tanya Renza basa basi. Tangan nya menghapus sedikit eskirm yang ada di sudut bibir Mira.


"Enak. Kakak mau?"


Renza hanya menggeleng. "Gue ga suka sayang," ucapan Renza. Lagi dan lagi membuat Mira hampir bullsing.


"ok!" Mira melanjut kan menyicipi eskrim milik nya.


"Pelan pelan!"


Beberapa saat. Mira sudah menghabiskan seluruh eskrim nya, tanpa tersisa sedikit pun.


"Hem. Ketaman aja boleh!" Jawab Mira.


"Ok. less go." Renza memperbaiki duduk Mira diatas motor nya. Barulah dia naik.


"Cla!" Panggil Renza disaat mereka sudah berada diatas motor, dan Renza sudah melajukan nya.


"Hem." Mira hanya berdehem. Menanggapi Renza.


"Panggilan nya aku, kamu iya? jangan gue,lo. Boleh?" Pinta nya. Bertanya.


Mira tidak menanggapi ucapan Renza. Dia hanya mengangguk.


keanggukan Mira bisa Renza rasa kan. Karena dia sedang mengsandar kan kepala nya di bahu Renza.


Mereka berdua telah sampai di sebuah taman. Banyak pasangan yang sering berdatangan kesana.


Renza mengenggam tangan lentik punya Mira. Dia pun memasukan nya kedalam kantong jaket nya. Agar tangan mungil itu tidak kedinginan.


Mira tak berkomentar sedikit pun tentang perlakuan Renza pada nya.


"Sini duduk." Renza mendudukan Mira di kursi panjang yang berada ditaman tersebut.


"Rambut nya di ikat iya?berantakan soal nya. Nanti ga keliatan wajah cantik nya," ujar Renza.


Mira hanya mengangguk. Dia mengeluar kan ikat rambut didalam saku hoodie yang dia gunakan.


"Sini biar aku yang ikat. Kamu balik belakang!" Pinta Renza.


Mira hanya patu seperti anak kucing pada majikan nya. Dia membelakangi Renza. Renza pun mengikat rambut Mira.


Hambusan nafas Renza bisa dirasa kan oleh Mira. Bahkan aroma maskulin yang di pake oleh Renza bisa dia cium.


Leher Mira begitu bersih. Sebagai laki laki normal tentu Renza meneguk salvin nya dalam dalam melihat pemandangan yang indah, yang ada didepan nya. Renza yang tak mau di goda Oleh setan. Dia pun mengikat rambut Mira dengan cepat.


"Sakit ga cara ngikat nya?" Tanya Renza.


Mira hanya menggeleng." Ga ko,"jawab nya.


Renza hanya tersenyum. Renza membalikan badan Mira, untuk menghadap ke arah nya..


"Kok diam mulu sih? kenapa? ga nyaman iya?" Tanya Renza berturut turut.


Mira lagi dan lagi menggeleng kan kepala nya. " Ga kok, kak. Mira senang!" Jawab nya jujur. Mira jujur. Dia sangat bahagia. Dia berharap Renza tidak bermain hati pada nya. Semoga sikap Renza terus seperti ini, tak akan berubah!


Tiba tiba Renza memeluk tubuh mungil itu. Mira membeku didalam pelukan Renza. Hati nya saat ini sedang jedag jedug.


Tanpa mereka sadari. Dari tadi mereka terus di perhatikan oleh seseorang.