
Irana refleks menarik tangan Salsa, agar pergi dari sana. Tidak menjadi penggangu.
Mira menepuk bahu Renza. Dia seakan kesulitan bernafas gara gara nya.
Renza pun memag*n sedikit lalu melepas kan nya. Terlihat bibir Mira agak bengkak, karena gigitan Renza.
Setelah Renza melepas kan nya. Mira menghirup udara dengan rakus.
"Sakit iya? Maaf sayang, kamu sih tiba tiba. Aku kan tidak kekontrol." Renza memegang bibir Mira, yang merah, bengkak, dan sedikit retak.
Mira menggigit bibir nya. Membuat Renza langsung menjitak sedikit kening Mira. Mira meringis kesakitan padahal tidak sakit.
"Maaf sayang. Tapi bibir nya jangan di gigit!" ujar Renza.
Mira hanya mengangguk, seperti anak kucing yang menurut. "Kaka udah percaya kan sama aku?Kalau aku benar benar sayang sama kaka! Baru kaka lo yang rebut bibir suci aku. Awas aja belum percaya!" ketus Mira memayunkan bibir nya. Membuat Renza ingin memgulangi moment yang baru dia lakukan.
Renza terkekeh. "Kakak udah percaya. Soal nya kamu ngeulti bukan maen, sayang." Renza tersenyum.
Mira yang tadi nya duduk di atas paha Renza, pun turun. "Kak kita keluar! Mira udah agak mendingan," ujar Mira.
Renza mengangguk, dia mengenggam tangan Mira, keluar dari kamar inap tersebut.
Setelah sampai di luar. Mereka seakan menjadi pusat perhatian. Renza menaikan alis nya dan menggaruk belakang kepala nya yang tak sakit. Disaat para teman nya memandang nya dengan tatapan aneh.
"Kalian kenapa sih?" tanya Renza.
"Ga. Btw Mira kok bibir mu bengkak?" tanya Salsa basa basi, padahal mah udah tau.
"Lah iya, kenapa itu?" Samuel ikut ikutan bertanya.
Renza dan Mira saling berpandangan. Tidak tau harus berjawab apa pada mereka.
"In.....,ini, digigit tawon!" ujar Mira nyengir.
"Yakin di gigit tawon?" Galvin menaikan satu alis nya.
"ih beneran loh!" balas Mira.
"Tawon nya sebesar Renza, maka nya bibir Mira bengkak gitu!" sahut Irana.
Mira dan Renza seakan terpojok, karena ulah teman teman nya, yang tak masuk akal.
"Ini minuman apa kaya nya segar." Renza mengalih kan topik, dia mengambil sebua minuman di atas meja. Dia meneguk nya. Mira ikut ikutan meminum, karena memang sedikit haus
"Kok rasa nya enak enak aneh? minuman apa ini?" tanya Mira. Mira melirik Renza, tapi Renza menggeleng. Dia pun tak tau itu minuman apa.
mereka seakan menganggak, tau harus menjauh bagaimana.
"Ah! Itu hanya sirup!" ujar Gatha, sahabat Arnav.
"Ooh." Mereka berdua hanya beroh saja.
******************
"Kak. Kepala Mira pusing, kaka boleh antar Mira ke kamar?"Mira melirik Renza, yang ada di sebelah nya.
Renza yang tadi nya asik mengobrol,seketika melirik ke arah Mira.
"Di antar Kayla aja ya, sayang? Kaka, lagi bicara dengan Arnav,"balas Renza.
Mira menggeleng. "Mira mau nya kaka," rengek Mira, sambil menggoyang goyang kan lengan Renza.
Renza mengelah nafas kasar. Dia tak suka ada yang menggangu kefokusan nya. Namun bagaimana lagi? Orang yang menggangu nya adalah kekasih nya.
"Bentar, gue bakak balik. Baru lo lanjutin," ujar Renza pada Arnav.
Arnav hanya mengangguk.
Renza menoleh ke arah Mira. ayo!"
Mira tidak bergerak di tempat nya. Dia merentangkan tangan nya ke arah Renza. "Mau gendong!" ujar nya dengan manja.
Renza menggaruk belakang nya. Kenapa sikap Mira menjadi manja?Tapi itu membuat nya bahagia.
Renza pun dengan senang hati mengendong Mira, seperti bayi koala.
"Kok manja?" tanya Renza, disaat Mira menaro kepala nya di leher Renza.
Mereka telah sampai di kamar. Renza menidur kan tubuh Mira dengan hati hati di atas ranjang. Renza sekilas mengucup kening nya dengan lembut.
"Kamu tidur ya sayang! Kaka mau keluar!" sahut Renza.
Mira menggeleng, dia menarik tangan Renza, membuat Renza terjatuh ke atas nya.
Renza meneguk salvin nya dalam dalam, disaat merasa pay* darah Mira mendarat didada nya.