VIRGOS

VIRGOS
Kalian ada masalah?



Mira menghapus air mata nya. Disaat hendak berdiri dia ambruk kembali. Ia merasa kan pangkal paha nya sangat sakit.


Mira meringis kesakitan.


Renza yang ada di balik pintu, langsung berlari menghampiri Mira.


"Sayang kamu gapapa?" tanya Renza memegang lengan Mira.


Mira menepis kasar tangan Renza. " Gue baik baik aja!" jawab nya. Ia kembali berusaha untuk berdiri, tetapi tetap saja, ia terjatuh.


"Biar ku bantu!" Renza melilit selimut dibadan Mira. Mira kini tidak protes, disaat Renza menggendong nya.


Renza menduduk kan Mira. " Kalau dah selesai kamu bisa memanggil ku, kaka ada di luar!" ujar Renza.


"Keluar lah!" ujar nya singkat, dengan wajah datar nya menatap Renza.


Disaat kepergian Renza. Mira kembali menangis terisak.


"Maaf!" lirih nya.


****************


Mereka semua berkumpul. Sedang makan bersama. Lawakan dari keempat teman Renza, membut mereka semua tertawa. Kecuali Renza dan Mira yang hanya diam.


Mereka sekarang sangat jauh berjarak. Mira memilih duduk didekat Galvin, tak ingin didekat Renza. Itu yang membuat Galvin dan yang lain bingung dengan mereka berdua.


Biasa nya, Mira tak ingin lepas dari samping Renza, terus saja menempel seperti tokek. Namun sekarang Memandang Renza saja dia tak ingin.


"Eh Ren, semalam pas lo antar Mira kekamar,kok ga balik balik? padahal gue mau ngomong!" sahut Arnav.


Renza yang sedari menunduk, melirik ke arah Arnav. Lalu beralih melirik ke arah Mira.


Mira menggeleng. Menandang kan jangan di beri tau, tentang apa yang mereka lakukan semalam.


"Gu......, gue, tertidur didalam kamar inap Mira. Karena Mira tidak membiar kan ku pergi! Iya kan sayang?" Renza melirik Mira.


Mira hanya mengangguk membenar kan ucapan Renza.


Galvin merasa ada yang aneh di antara mereka berdua. Dia sangat peka tentang keadaan.


"Dek, tumben ga nempel kaya tokek di tubuh Renza?Kok malah jauh jauh an? Kamu sama Renza sedang berantem?" tanya Galvin berturut turut.


Mira hanya menggeleng. "Kami tidak bertengkar! Hanya saja, Mira ingin didekat kak Galvin! Emang ga bisa?" jawab Mira.


Mira lagi dan lagi menggeleng. " Ga mau." Mira memeluk lengan Galvin dengan erat. Mata yang berkaca Kaca.


Galvin mengelah nafas dalam dalam. dari sudut mata Mira. Galvin tau, kalau mereka sedang bertengkar. Ia akan membicarakan tentang ini sebentar dengan Renza.


"Kak Galvin. Mira mau pulang!" ujar Mira tiba tiba.


Perkataan Mira, membuat Galvin semakin yakin bahwa kedua pasangan itu sedang tidak baik baik saja.


"Besok kita pulang!"balas Galvin tanpa menoleh ke arah Mira.


Mira terus saja menempel di Galvin. Dia lebih banyak diam, tidak seperti biasa, dia lah paling cerewet dan tukang memberintah.


Kehambaran menghampiri Renza, Penyesalan kembali lagi dan lagi.


"Gue mau kebelakang dulu!" pamit Renza. Beranjak dari sana,dan pergi.


Galvin yang melihat Renza pergi. Ini waktu yang tepat untuk berbicara empat mata, dengan kekasih adik nya itu.


"Lepasin dulu dek! Aku mau kekamar mandi!" ujar nya pada sang adik.


Mira pun melepaskan genggam nya di lengan Galvin. Membiarkan nya pergi.


"Za!" panggil Galvin duduk di samping sahabat nya. Yang sedang berada di belakang rumah penginapan yang lumayan besar, Memandangi tanaman tanaman yang indah.


Mendengar suara, Renza refleks menghapus air mata nya.Entah kenapa sekarang ini dia begitu cengeng.


"Apa?" balas Renza.


"Lo ada masalah dengan Mira? Pasti nya sih. Kalian saling berjauhan!" ucap Galvin.


"Itu urusan gue dengan Mira. Biar kami yang selesai kan," balas Renza.


"Menyelesaikan gimana? Kalian saja saling menghindar. Gimana permasahan kalian bisa selesai," ujar Galvin.


Renza terdiam. Yang di kata nya Galvin ada benar nya. Kalau mereka terus terusan saling mendiam. Hubungan mereka pun akan putus.


"Vin!" panggil Renza, membuat Galvin hanya berdehem.


"Gue Minta maaf!" ujar nya.


Galvin menaikan satu alis nya. "Minta maaf untuk apa?" tanya Galvin.