
"Kalian kok dibawah sih? Ayo naik di ranjang!" sahut Mira, disaat yang lain memasang selimut dibawah lantai,untuk penghalas tidur mereka.
"Lo diatas aja! Dia bertiga kalau tidur nari jaipong, takut keponakan gue, yang kena sasaran mereka!"balas Meisya.
Mereka mengangguk. Membenarkan ucapan Meisya.
"Ranjang nya juga ga muat, lima orang, lo nanti ke panasan! Ini demi keponakan kami, jadi lo ga usah protes!" sambung Alana.
Mira diam. Dia pun mengangguk kembali. "Tapi gapapa? Kalian pasti kedinginan!"
"Kan ada selimut ini!" Irana memperlihat kan selimut yang dia pegang.
Mira hanya berdehem. "Kalau kalian mau ke ranjang sebentar,langsung aja!" ujar nya. Dan hanya dibalas anggukan dari keempat teman nya.
*************
Tengah malam. Mira terbangun, dia mencari Renza. Salah satu teman nya pun, memanggil Renza, yang tidur di kamar sebelah. Apertemen itu memang mempunyai dua kamar.
Tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar di luar kamar dimana, ada enam manusia,yang sedang asik main game.
"Ck. Siapa sih?" tanya Marvin, merasa tergangguk.
"Setan kali!"
"Mungkin suara dari apertemen sebelah!"
"Buka anjing, kalau kalian masih hidup!" teriak Meisya, di luar kamar.
Mendengar itu. Salah satu dari Mereka refleks beranjak dan membuka pintu kamar.
"Apa?" tanya Alex, yang keluar.
"Itu, Mira tiba tiba nangis, dan nyuruh Renza buat temenin dia tidur! Dia ga bisa tidur, kalau bukan ketoprat cungkir yang tidurin! Cepatan anjing, keponakan gue sampai ingusan gue tandai muka lo!" denkgus Meisya. Pergi dari sana.
Renza pun buru buru kekamar sebelah. Untuk menemui sang kekasih.
"Kenapa hem?" tanya Renza, duduk di tempi kasur.
"Mira, ga bisa tidur! Mira mau, kakak elus elus perut Mira!" jawab nya.
"Ini kemauan baby iya?"tanya Renza tersenyum, dia ikut naik keranjang, tangan nya mulai mengusap perut rata Mira.
Mira hanya mengangguk.Mata nya ia pejam kan, merasakan sentuhan lembut Renza, yang membuat nya terasa nyaman.
"Hem?" Renza berdehem menoleh kearah Mira.
"Gapapa,"balas nya, Mira.
"Bobo gih, udah jam 2 sayang!" ujar Renza.Namun Mira menggeleng.
"Gamau," balas nya, memayukan bibir nya. Membuat Renza mengusap wajah nya kasar, padahal ia belum selesai bermain game.
"Sweet banget cih!"ujar Salsa yang belum tidur, dan melihat mereka berdua.
Pagi hari, kini Mira masih bermanja dengan Renza, tanpa mempudulikan bahwa di sana, bukan hanya mereka berdua saja.
"Kakak cuman mau gosok gigi!" ujar Renza pada Mira.
"Mira ikut!"balas nya, masih menempel di depan dada Renza, seperti tokek. Mata nya berkaca kaca menoleh kearah Renza.
Renza Menghelah nafas dalam dalam, berusaha menaham emosi nya, mungkin ini semua faktor dari kehamilan. Dokter sudah memberi tau kebiasan orang yang sedang hamil.
"Seaneh ini kah? Orang hamil?" batin nya.
Ia pun mengendong Mira dari depan dada. Mira melingkar kan kaki nya, di pinggang Renza.
Renza menuju kamar mandi, berniat menggosok gigi nya. Dan mencuci muka, dengan terus mengendong Mira. Mira pun enteng saja di pelukan Renza.
Sekali kali dia mengusap pipi Renza, menggunakan air.
Setelah selesai mencuci muka berserta gosok gigi, ia dan Mira keluar dari kamar.
Renza mendudukan Mira di sofa. "Bentar iya kaka mau bangunin yang lain," ujar nya.
Mira hanya mengangguk. Beberap saat, kelima teman Renza pada keluar, terlihat lah wajah bantal mereka. Masih belum bisa membuka mata.
"Kak Renza, bangunin mereka cara memaksa iya?"tanya Mira, melihat keadaan mereka berlima.
Renza hanya mengangguk. "Kaka suruh mereka kepasar. Beli seblak, batagor, bakso, telur gulung. Yang kamu minta tadi,"jelas Renza, membuat kelima teman nya langsung membulat kan mata nya.
Hari ini memang hari sabtu, hari sabtu di sma pelita bangsa memang libur sampai minggu,senin baru masuk lagi.
"Sekalian kami juga nitip sayur kangkung!!! " teriak Salsa dari dapur.
Kelima cowok itu pun hanya memalas, dan berurutan mencuci muka. Baru mereka menjalan kan suruan, sebagai babu.