
Setelah beberapa hari kepulangan mereka. Mereka semua kembali beraktivitas seperti biasa.
Seperti setelah perselisihan antara Renza, Gavin dan Mira. Mereka sangat jarang bertemu, Galvin tidak pernah berkunjung ke markas. Bahkan di sekolah dia tidak ikut gabung bersama dengan yang lain.
Hambar bagi Renza jauh dari Mira, yang masih berstatus kekasih nya itu. Akhir akhir ini Renza, seperti ketukar sifat dengan Marvin. Ia lebih banyak diam.
Kelima teman nya selalu menghibur nya segala cara.Namun hasil nya nihil.
Pada tiba saat nya. Renza bertemu dengan Mira di karidor kelas. Rasa rindu berdebar debaran di dada Renza, disaat melihat kekasih nya. Begitu pun dengan Mira.
Akhir akhir ini Mira, juga selalu memikir kan Renza. Pesan Renza kirim pada nya, tidak pernah ia balas. Galvin memblokir semua sosmed Renza di ponsel Mira. Galvin tidak membiar kan sang adik berkomunikasih dengan Renza, baik real atau pun lewat ponsel.
"Sayang!" panggil Renza. Ia langsung mengenggam tangan Mira.
Mira ingin berusaha melepaskan genggam nya dari Renza. Namun ia kalah.
Renza menarik lembut tangan Mira, kebelakang sekolah, dimana ada sebuah taman.
tanpa aba aba, setelah berada di belakang sekolah. Renza berhamburan memeluk Mira.
"Aku kangen,"ujar Renza memeluk erat tubuh Mira
"Jangan seperti ini, lepasin!" Mira berusaha melepaskan pelukan Renza. Ia mendorong pria itu kebelakang, membuat pelukan Renza terlepas. Bahkan Renza terjungkal ketanah,saking keras nya ia mendorong.
Mira sedikit bersalah melihat Renza terjatuh. Bahkan kaya nya tangan pria itu terluka terkena batu batuan.
"TOLONG JANGAN GANGGU, GUE LAGI! ANGGAP HUBUNGAN KITA CUKUP SAMPAI DISINI AJA! " Mira memaksa kan kata kata itu keluar dari mulut nya. Ia takut kalau Galvin melihat mereka bersama. Galvin akan mengirim nya kembali ke Australia.
Sungguh dada nya sangat sakit, mengatakan itu semua, bagaimanaa pun ini semua bukan sepenuh nya salah Renza, tapi juga kesalahan nya.
Renza cepat beranjak dari sana. Dan refeleks menarik tangan Mira.
"Apa yang kamu katakan?Itu tidak akan mungkin, kaka ga mau! Kaka bakal menikahi mu. Cla!" ucap Renza. dengan nada bergetar.
"Terus gimana, kalau di dalam perut kamu ada anak ku? Apakah kamu rela, dia tidak mempunyai seorang ayah?" ujar Renza. Membuat langka Mira berhenti.
Mira menghirup udarah dengan rakus. Berusaha menahan air mata nya yang hampir terjatuh. " Semoga aja dia tidak bakal ada di rahim ku!" balas Mira. Kembali melanjut kan jalan nya. Sekarang dia benar benar pergi, hilang dari pandangan Renza.
Renza terduduk di kursi kayu yang ada disana. Dia menghapus air mata yang mengalir di sudut mata nya.
"Gue bakal pertahani hubungan kita. Kaka ga mungkin. melepaskan mu begitu saja, kamu pasti terpaksa kan berkata begini?"
Tiba tiba kelima teman nya datang. Lima orang itu melihat semua yang mereka berdua lakukan.
"Gue yakin. Lo bisa mengambalikan seperti dulu lagi! Kita bakal sama sama berjuang. Semoga persahabat kita tetap utuh, bertujuh bukan ber enam! Kita bujuk Galvin bersama sama," jelas Samuel duduk di samping Renza.
"Kita juga bakal bantu lo, kembali bersama dengan Mira," sambung Felix.
"Mending lo cepat cepat datang ke rumah Galvin. Untuk bertanggung jawab!" saran Daniel.
"Iya apa yang Niel kata kan ada benar nya, sebelum ibu ketua di bawa kembali ke Australia!" Alex membenar kan ucapan Daniel.
"Kamu dari mana hem?" tanya Galvin pada adik nya.
"Mira tadi ke toilet. Soal nya udah di ujung, hehehe.Maaf membuat kaka khawatir," jawab Mira berbohong.
Galvin hanya mengangguk. Tanpa menyimpan rasa curiga.
"Iya udah ayo kita pulang," ujar Galvin, dan hanya di angguki oleh Mira.
Kakak dan adik itu pun pergi dari aera sekolah sma pelita bangsa, dengan menggunakan mobil, Galvin tak ingin naik motor. Alasan dia akan bertemu dengan teman teman nya, di parkiran motor nanti nya. Galvin saat ini ingin mengindar dari mereka.
...----------------...
..."Aku terlalu mempercayai sahabat ku sendiri. Sehingga aku memberi tanggung jawab ku ke dia. Namun kepercayaan ku dia rusak, dengan cara merusak harta yang begitu ku jaga dan berharga." ~Galvin Bimata~...