
Orang itu berlari menghampiri Renza.
"Renza." Orang itu adalah Kasya.
Kasya hendak merangkul pundak Renza. Namun seseorang mendorong nya. Sehinggah Kasya terjatuh keaspal.
"Kak Renza," Ia! dia Mira.
Renza tersenyum kearah Mira. " Cla."
"Kalian ini, di bantu dong jangan cuman lihatin doang! ku colok mata kalian satu satu baru tau rasa!" Mira kesal karena teman geng motor Renza, hanya melihat nya saja, tanpa rasa membantu.
Mereka pun mengambil ahli Renza dari Mira.
"Apa lihat lihat?" Tanya Mira pada satu anak geng motor dari pendirian Galileo, yang sedang memandang nya.
Mira sempat ke markas berniat mengambil motor nya. Sekalian bertemu dengan yang lain. Namun Markas itu sunyi cuman beberapa aja yang ada disana. Disaat anak anak yang masih di markas memberi tau Mira kalau Renza lagi balapan. Mira pun ketempat balap yang biasa Renza tempati untuk balapan, di antar oleh satu anak yang ada di markas.
Di perjalanan Mira tidak sengaja bertemu dengan Kasya, yang sedang di ganggu oleh preman. Mira mau tak mau menolong gadis itu. Maka nya Kasya juga berada disana bersama nya.
"Mira kamu kok ada disini dek?ini tempat bahaya! gimana kalau musuh geng kita, ngincar kamu!" Omel Galvin pada adik nya yang ceroboh itu.
"Mira nanya, Kakak kenapa ngadain balapann kaya gini? lihat hasil nya. Kak Renza jatuh!" Mira bisa melawan ucapan sang kakak.
Galvin diam. Benar apa yang dikata kan adik nya. Andai bukan dia yang membuat ajakan ini, mana mungkin Renza bakal terluka.
"Gue gapapa!" Ujar Renza memegang kaki nya yang sedikit sakit.
"Gapapa gimana? itu kaki kakak sakit gitu di bilang gapapa. Gimana kalau kakak lumpuh karena ketindih motor?" Omel Mira duduk disamping Renza.
Mira mengulur celana panjang Renza, agar luka nya bisa terlihat. " Tukan, itu yang kakak bilang gapapa?" Tanya Mira ngengas, disaat melihat luka Renza membiru.
Mira berlari kemotor nya untuk mengambil sesuatu. Ia mengambil kotak P3k didalam bagasi motor nya.
Setelah menemukan kotak itu. Dia kembali berlari menghampiri Renza dan yang lain.
Mira kembali duduk di samping Renza. "Tahan ini sedikit sakit!" peringat Mira, mengoles kan alkohol ke luka Renza menggunakan kapas.
Renza meringis disaat Mira sudah mengoles kan alkohol, dan saleb. Ke luka nya.
Mira melirik Renza yang terus memandang nya, menggunakan wajah sedikit pucat.
Renza tersenyum. " Makasih."
"Sama sama." Balas Mira.
Mira menatap mereka semua yang ada disana dengan tatapan tajam.
Membuat mereka mengerik ngeri ditatap seperti itu, mereka tau betul gimana Mira kalau marah, akan terjadi gerakan ngereog dari nya.
Diantara mereka sudah pernah jadi sasaran ngereog nya.
Kasya menerobos di keramaian. Untuk melihat kondisi Renza. Dia tanpa izin langsung duduk disamping Renza. " Renza kamu gapapa?" Tanya nya memegang kedua pipi Renza. Namun Renza cepat cepat menipis nya dengan kasar.
"Jangan sentuh gue, Sialan!" Bentak Renza. Dia memandang kearah Mira bukan Kasya.
Hidung Mira kembang kepis. Melihat kelakuan Kaysa. Gapapa sih Kasya memperlakukan Renza seperti itu, tapi melihat itu serasa ada yang aneh dalam diri Mira.
Mira mendengus kesal.
"Ini cewek ngapa ada disini?" Tunjuk Alex pada Kasya.
"Mungkin habis jadi kupu kupu malam, lihat aja pakaian nya kurang kain." Ujar Felix.
"Sialan!"Kasya ingin maju namun tiba tiba sepatu nya kesandung kayu, membuat nya terjatuh didepan sepatu Marvin.
Mereka yang ada disana tertawa. Tak ada yang mau membantu nya berdiri kembali. Bahkan Marvin yang ada didepan nya.
Mereka semua tau kelakuan cewek itu, yang sering membuat onar.
"Berdiri. Gue ga mau berkati lo." Ucap Marvin. lagi lagi membuat mereka tertawa.
Kasya berdiri, niat nya tetap gitu. Agar Renza menolong nya, namun hasil nya bohong.
Mira melirik Renza, begitu pun sebalik nya.
"Lain kali jangan balapan lagi kalau ga penting!" perintah Mira.
"Ini penting! gue balapan demi lo!" Ujar Renza, membuat yang ada disana membulat Kan mata nya.