VIRGOS

VIRGOS
Masih bisa di gugur kan!



"Dok apa yang terjadi?" tanya Renza, disaat dokter selesai memeriksa Mira.


Dokter itu tersenyum, membuat Renza kebingungan. Orang pingsan kok dokter nya malah tersenyum. Apakah dokter itu baik baik saja jiwa nya? Pikir Renza.


"Dokter?" tanya Renza sekali lagi.


"Istri anda sedang mengandung, jadi anda tidak perlu khawatir, kejadian seperti ini memang sering terjadi, kondisi kandungan istri anda, tidak ada perlu di khawatir kan," jelas sang dokter. Dokter kira Renza dan Mira sudah suami istri. "Selamat untuk anda," sambung dokter itu dan tersenyum.


"Baik saya permisi, kapan kapan kalau anda mau, anda bisa datang keruangan saya, kalau anda ingin tau tentang apa saja yang harus di lakukan atau di hindari saat hamil! Soal nya, saya pasti kan ini kehamilam pertama buat ibu Mira!" Dokter itu pun pergi dari sana.


Renza terdiam, begitu syok, ia mendengar perkataan sang dokter. Kalau di kata kan, Renza bahagia sangat bahagia, tapi disisi lain dia juga merasa bersalah dengan Mira. Umur mereka begitu terlalu muda untuk mempunyai anak.


Anak mereka di nyatakan anak di luar nikah. Disuatu saat nanti ia tidak bisa memakai nama ayah nya, apa lagi kalau anak itu adalah seorang perempuan.


Kembali ketopik. Renza beranjak ke arah brankar dimana Mira yang masih menutup mata nya.


"Maaf!" sahut Renza, hanya itu yang bisa keluar dari mulut nya.


Mira membuka mata nya disaat merasa pipi nya basa, ternyata air mata Renza, yang jatuh ke pipi putih nya.


"Gue dimana?" gumam Mira membuka mata nya. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi.Sampai dia menemukan hasil nya.


"Kak Renza kenapa?" tanya Mira mendegok ke atas, terlihat Renza, yang menghapus air mata nya.


"Maaf!" Hanya itu yang keluar dari mulut nya. "Maaf, gara gara aku, kamu harus mengandung anak ku! Kaka minta maaf," sambung Renza, menunduk.


bug


Mira terdiam. Tiba tiba pintu ruangan itu terbuka dengan sangat keras, membuat Renza dan Mira kaget. Itu Galvin. Ia dan ibu nya memang tidak mengatahui bahwa Mira pingsan, disaat Mira pingsan, ia sedang molor dan mama nya berusaha membangun kan nya. Renza tidak memberi tau terlebih dahalu pada mereka. Sebelum membawa Mira ke rumah sakit. Bik Inah yang memberi tau mereka.


Tanpa aba aba, Ia kembali menghajar Renza tanpa ampung.


"SIALAN LO, LO APA IN ADIK GUE BANGSAD?" Galvin terus saja memukul Renza.


"Kak sudah kak, dia ga ngapa ngapain Mira!" Mira berusaha menarik lengan kaka nya, namun.


"Arkkkkkhh." Mira terjatuh ke lantai, disaat Galvin mendorong tubuh nya.


Renza melihat itu. Membalas pukulan Galvin, sampai Galvin terjungkal kebelakang. Renza pun berlari ke arah Mira.


"Sayang kamu gapapa?" tanya Renza, yang memeluk Mira,sambil memegang perut rata Mira.


"Galvin gue minta maaf harus membalas lo, kalau lo cuman memukul gue, gue pastikan gue ga bakal menghindar. Namun lo mendorong Mira dan anak gue! Kalau anak gue kenapa napa gimana. SIALAN?" Renza meninggi kan nada bicara nya di bagian terakhir.


Galvin terdiam, mencerna ucapan sahabat nya itu. Anak? Maksud nya?


"Maksud lo?" tanya Galvin.


"Didalam sini..." Renza menunjuk perut Mira. "ada anak gue!" jawab Renza.


Mira menoleh ke atas. Ia menatap Renza, yang sedang memeluk nya.


Galvin langsung menarik tangan Mira di pelukan Renza. Lalu memanggil satpam untuk membawa Renza pergi dari sana.


Renza berusaha merontak, .namun kelamaan dia pasrah di bawa keluar dari rumah sakit itu.


"Kamu hamil?" tanya Galvin memastikan, disaat Renza sudah tidak ada di ruangan itu. Mira hanya mengangguk, sebelum nya dia juga sudah mengecek lewat testpack dan hasil nya garis dua.


"Masih bisa di gugur kan!" ucap Galvin tanpa dosa.


Mira langsung melepaskan genggaman nya dari Galvin. "kaka bodoh? Anak ini tidak bersalah! Kami yang bersalah. Kenapa kaka ingin menghilang kan anak ku?" Mira menjauh dari kaka nya.