VIRGOS

VIRGOS
Lika liku kelakuan kelima inti Virgos saat di pasar.



"Mau beli apa dek?"tanya mas mas penjual bakso.


"Baju lebaran ada ga?" tanya Felix balik.


"Gak ada lah, ini kan penjual bakso, bukan penjual pakaian,"balas mas mas nya.


"Terus napa nanya bang, kalau cuman jual bakso? Kan saya kirain, bang nya, juga jual baju lebaran!" jokes Felix.


"Cuman basa basi itu mah!"balas tukang bakso tersebut. "Mau beli bakso nya?" tanya mas penjual nya lagi.


Felix menggeleng. "Ga! Orang saya cuman lihat lihat doang!," balas Felix.


mas Tukang bakso nya, pun hanya memutar bola mata nya dengan malas.


"Eh mau kemana bang?" sahut Felix, menarik lengan baju mas mas penjual bakso nya. Yang hendak pergi.


"Mau kesana, nyuci mangkok nya!" seru nya.


"Dih, mau beli aink teh bang, macam mana lah abang ini!" ujar Felix.


Mas mas nya di buat kebingungan, dengan anak muda yang ada didepan nya saat ini. "Yang bilang tadi cuman lihat lihat doang siapa?"


Felix ketawa sambil memukul dengan slay lengan tukang bakso tersebut. "Mana saya tau!" Felix kembali memperlihat kan wajah datar nya.


"Ck, gue tendang pentol mu iya!" geram mas mas nya.


"Jangan donk!" Spontan Felix mundur. "Saya pesan bakso nya satu porsi bang!" ujar nya.


"Ok di tunggu!" ujar Mas mas nya.


"Bang!" Panggil Felix.


Tukang bakso itu hanya berdehem. Membalas panggilan Felix.


"Punya kol ga?" tanya Felix. Dan diangguki tukang bakso nya.


"Kalau kuah nya ada?" tanya nya lagi.


"Ada!"


"Togeh nya?"


"Ada!"


"Kecap?"


"Ada!" Tukang bakso itu mulai terbawa emosi oleh, Felix.


"Sa-" Belum sempat melanjut kan ucapan nya. Tukang bakso tersebut, menempel kan satu biji bakso kedalam mulut Felix.


"Udah, mulut mu bau bangkai!" sahut mas mas nya.


"Nah ambil ini, pergi kau!" usir nya.


Saat hendak pergi dari sana. Jaket milik Felix di tarik kembali oleh penjual bakso tersebut.


"Duit nya dek!" sahut mas mas nya.


Felix menepuk jidat nya. Ia meregok saku celana nya, dan memberikan uang ke tukang bakso tersebut. Sebelum dia benar benar pergi dari sana.


**********


Disisi lain ada Alex dan Daniel yang sedang memburu tawar menawar pada tukang sahur.


"Bu ini ma lima ratus receh lah! Mahal banget, yakali Lima ribu!" ujar Alex.


"Emang lima ribu harga nya!" ketus penjual nya.


"Udah ah, di sebelah aja murah, bay!" Alex menarik tangan Daniel.


Berharap ibu ibu, itu mencegah nya pergi, namun sangat di sayangkan, ibu ibu penjual sayur itu. Tidak peduli sama sekali.


"Bu, saya pergi loh!" ujar Alex menoleh.


Ibu ibu itu hanya mengangguk, dengan wajah datarnya.


"Cimol kedua ga sih?" bisik Daniel, dan di angguki oleh Alex.


"Ibu saya beneran loh bu, pindah!" ujar Alex, namun hasil nya sama aja.


Akhir nya Alex menyerah dan kembali pada ibu ibu tukang sayur tersebut.


"Kuda Neil, sayur apa?" bisik Alex.


"Kingkong!" jawab Daniel.


"Ha, yang benar lo?" tanya Alex. Dan hanya di angguki oleh Daniel.


"Ada sayur kingkong?" tanya Alex dengan polos pada, Ibu ibu tukang sayur tersebut.


"Kingkong?"


"Iya!"


"Gada!" ujar nya.


"Lah ga ada," bisik nya kembali pada Daniel.


Mereka berdua pun mencari ke tukang sayur yang lain, namun hasil nya tetap sama. Tidak ada sayur yang nama nya kingkong. Pada akhir nya mereka menyerah untuk mencari, Dan membeli es cendol saja.


"Mol, sini deh Mol, lucu ga sih?" tanya Samuel berhenti disaat melihat kereta anak bayi.


Marvin hanya mengangguk. Mereka kembali berjalan mencari penjual seblak. Walaupun sering berhenti melihat barang barang yang ada disana. Bahkan delaman untuk wanita aja mereka singgahi.


"Anjir besar banget kolor nya cok!" heboh Samuel tanpa filter. Sehinggah Marvin membungkam mulut teman nya. Disaat semua orang menatap mereka.


Marvin dan Samuel hanya nyengir pada mereka. Dan melanjutkan perjalanan nya mencari seblak, buat ibu negara mereka.