
"Kak?" Mira menepuk pundak Renza dari belakang.
Renza menoleh kan kepala nya sedikit kearah belakang. "Bentar tunggu disini!" Renza berlari sedikit jauh dari Mira.
"Gue ga punya pistol woi," ujar Renza pada teman teman nya. Iya! ternyata. Mereka mengikuti Renza dari belakang.
"Anjing. Lo mau bunuh adik gue sialan?" ujar Galvin.
"Kan disuruh nembak, maka nya gue nyari pistol!" jawab Renza dengan polos nya.
Selain Marvin. Mereka berempat menepuk jidat masing masing.
"Lo tolol apa bego si Ren?" greget Felix.
"Lo kalau mau masuk tiang besi berjulang tinggi, ga usah ngajak ngajak," ketus Marvin.
"Kan nyuruh nembak!"
"Benar tapi salah," timpal Daniel
"Ga. gitu bangsad!"
"Lo nyatain perasaan lo, ke Mira. Bukan nembak nya pake senjata njing"
"Gimana cara nya?" Tanya nya.
"Mana kami tau, orang kami jomblo!" sahut mereka.
Mereka mendorong Renza dari sana. Dari pada kepala mereka pecah karena emosi.
Dengan perasaan gugup. Renza duduk kembali di samping Mira.
Renza tersenyum kecut. "Cla!" Panggil Renza.
Mira menoleh kan kepala nya kearah Renza. " Iya?"
Renza menggaruk kening nya. Lalu nyengir kuda kearah Mira. " Itu anu, apa," ujar nya. Dia tak tau harus berkata apa.
"Renza harus les di Samuel sih!" ujar Felix.
Mereka hanya mengangguk menanggapi nya. Mereka menunggu Renza ungkapin perasaan nya ke Mira.
"Apa?" Tanya ulang Mira lagi.
"Itu. apa iya? tadi mereka ngasih tau nya?" gumam nya.
"Ekhem!" Renza berdehem, ia Menengakan badan nya. Ia merai tangan Mira. Terlihat begitu serius di raut wajah nya. Namun di perlihataan kelima teman teman nya, itu adalah ekspresi konyol.
"Anjir Muka nya." Mereka menahan tawa nya agar tak pecah.
"Ga ada romantis romantis nya nyet." Alex memukul lengan Marvin.
"Sialan!" ketus Marvin.
Renza menarik tangan Mira pergi dari taman itu. Membuat kelima teman nya bingung.
"Itu anak mau kemana anjir?" carca Galvin.
Ternyata Renza membawa Mira kebukit yang tak terlalu tinggi, yang ada dekat ditaman itu. Disana Renza sudah mengiasi begitu banyak bunga. Terdapat sunset membuat aura disana sangat terlihat indah
Mira membulat kan mata nya. "Cantik banget." puji Mira melapas kan genggaman Renza dari tangan nya.
"Lo suka?" Tanya Renza.
Mira hanya mengangguk.
"Bagus lah"
"Kok ada tempat secantik ini?"
"Ada lah! ini khusus cewek cantik!" Sahut Renza.
"Gue cantik!" Ujar nya percaya diri.
Renza hanya mengangguk. Lalu tersenyum.
Teman Renza tak kalah kagum melihat tempat itu. Ternyata Renza romantis.
"Ternyata dia cuman salah paham tentang Kata. (Tembak)." puji Daniel geleng geleng tak percaya.
"Cla!" Panggil Renza.
Mira yang asik memandang sunset itu, menoleh kearah Renza. "Kenapa?"
Renza dengan tangan bergetar. Ia merai tangan mungil Mira. Dia mengenggam tangan itu.
"Gue memang romantis. Maksud nya ga romantis! gue cuman mau jujur ke lo. Gue suka sama lo Almira Quentin Clarissa!" Entah sejak kapan Renza niat mengeluar kan Kata Kata itu dari mulut nya.
Mira mencernah sejenak apa yang di kata kan Renza. Dia mencoba memastikan pendengaran nya itu benar.
Renza berkeringat dingin. Karena Mira hanya diam tanpa menanggapi ucapan nya.
"Gue ga salah dengar?" Tanya Mira.
"Emang lo dengar nya apa?" Tanya Renza balik.
"Hem, kakak suka sama Mira?" Tanya Mira memastikan.
Renza hanya mengangguk.
Mira melepas kan genggaman tangan Renza dari tangan nya. Membuat Renza sudah menebak kalau dia akan di tolok.
"Kak Renza cuman ungkapin? atau mau ajak Mira jadian?" ujar Mira.
Renza terdiam. Dia harus menjawab apa? sungguh dia sangat bingung dan tak mengerti.
"Yang baik, yang mana?" Tanya Renza dengan polos nya.
Mira menepuk jidat. "Ga tau!" Mira membalikan badan nya ke arah lain. Membuat Renza panik.
Renza melirik kiri kanan. Dan tak sengaja melihat kelima teman nya. Renza meminta jawaban dari mereka.
Galvin memberi jawaban, namun tidak terdengar. Hanya mulut nya yang bergerak. " Ngajak jadian!" ujar nya.