
Ketiga teman Ataar mengejar lelaki itu. Mereka tak habis pikir dengan Ataar.
"Taar, kayanya kali ini lo ketarlaluan banget gak sih?" tanya Niel.
"Gue dah bilang, gue risih di gituin,"ketus Ataar.
"Tapi lo bisa menolaknya dengan baik-baik, dia juga punya hati."
"Gue juga punya hati, kalau gak mau tersakiti jangan suka gue. Simpelkan?"
Ataar mempercepat langkahnya, mereka bertiga pun hanya bisa menghela napas kasar. Ataar tipe yang keras kepala, susah di atur. Dia ingin mengambil keputusan sendiri.
"Bolos lagi?" tanya Gentara.
"Terus apa? Kalau lo mau belajar, masuk aja sana," usir Ataar duduk di kursi kantin dan menyuruh salah satu murid untuk memesankan makanan.
Murid itu hanya menurut takut di pukuli Ataar, walaupun duitnya dikit, tapi dia lebih menyayangi hidupnya dari pada duit.
Ataar tersedak di saat meminum air putih. Dia mengebrak meja dan menoleh ke belakang. Murid yang tak sengaja menyenggol Ataar tersentak.
Ataar menarik dengan kasar murid cewek itu, yang berpenampilan cupu.
"Siapa nama lo?" tanya Ataar.
Murid itu menunduk dan meremas jemarinya.
Ataar mendongak ke bawah lalu melambaikan tangannya.
"Gue cuma nanya nama lo siapa," ucap Ataar memegang dagu cewek itu. "Lo lucu."
"Maaf, kak."
Ataar berdehem. "Sebut nama lo siapa."
"Ruby."
Ataar tersenyum. "Nama yang unik, Ruby." Ataar mengacak rambut cewek cepu itu.
Ketiga temannya dan yang lain jadi heran, kenapa Ataar seperti ini? Apa Ataar tak kemasukn jin tomang? Tumben sekali, padahal mereka sudah menerka bahwa cewek cupu itu akan tinggal nama saja.
"Sana, gue bukan laki-laki bodoh yang tega melukai wanita, gue juga mempunyai dua wanita."
Cewek cupu itu menunduk dan berlari meninggalkan kantin.
Belum pernah Ataar membully seorang murid cewek di sana, dia hanya membully murid cowok yang gaya norak dan menganggunya.
"Tetapi kenapa kamu sering melukaiku, Taar?" tanya Ara yang kebetulan berada di kantin untuk membeli sarapan untuk dirinya. "Apa aku harus jadi cewek cepu itu dulu? Agar bisa melihat senyuman dan kelembutanmu?" tanya pada diri sendiri.
Ara berjalan melewati Ataar untuk menuju penjual kantin. Ataar memandangnya dengan tatapan aneh. Namun, dia seakan tak peduli dan kembali ke arah temannya.
Gentara melihat senyuman Ara begitu indah, begitupun yang lain. Padahal di balik senyuman itu ada luka yang dia sembunyikan.
Ara tersenyum ke arah Ibu kantin, dia pun membantu ibu kantin untuk memungut barang jualannya yang jatuh.
"Ara," teriak seseorang membuat Ara menoleh. Ternyata Cindy.
"Lo gak nunggu-nunggu gue, nyet. Gue nyari lo di kelas gak ada."
"Gue habis ngepel aula latihan basket, gue ketahuan kalau bekal yang terbuang di sana punya gue."
"Kasihan, kalau gitu gue gak akan ke wc tadi. Dan bisa membantu lo membersihkan aula yang luas itu."
Cindy melap keringat Ara, sehingga Ara tertawa dan menepis tangan Cindy karena merasa aneh.
"Ara tuh sempurna banget ya, gue jadi iri ke Ataar. Bisa mendapatkan seseorang yang mengejarnya seperti Ara. Dia bukan hanya cantik, tapi dia segalanya. Dia gadis sopan dan rendah hati, jarang-jarang ada anak orkay kaya dia," ucap Gibran yang di angguki kedua temannya.
Ataar memakai handsetnya, mendengar musik, dari pada mendengar ocehan temannya, yang sudah pasti menyindirnya.
Dia memejamkan matanya, dia akan beristirahat sebentar untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
Ara memperhatikan Ataar yang wajahnya pucat, dia ingin mengampiri lelaki itu, tapi Cindy menariknya pergi sehingga dia tak jadi menghampiri Ataar.
"Cindy, kamu punya nomornya kak Gibran, atau teman Ataar yang lain?"
"Gue punya nomornya Niel, dia juga sepupu gue btw."
"Wah, ternyata kalian bersepupu? Pantas saja berani ternyata ada backingannya."
Cindy tertawa keras. "Lo bisa aja, dia gak bisa di jadiin backingannya."
"Eh yaudah, kirim dong nomornya."
Cindy tak banyak bertanya membuka ponselnya lalu mengirimkan sebuah nomor ke ponsel Ara.
"Makasih, ya."
"Gue mau ke rumah lo sebentar, gak papa? Kedua orang tua gue lagi keluar kota, dan gue bosan sendiri di rumah."
"Tentu dong, di rumah, gue bakal lihatin novel yang gue baca."
Cindy mengangguk-angguk, kebetulan dia suka baca novel.
"Kamu tahu gak? Gue ikut open po novel baru, loh."
"Judulnya apa?"
"Guruku suami idaman, ini tentang percintaan beda usia. Cinta antara guru dan murid."
"Wah seru tuh, selangkapnya di mana?"
"Cari di ig, teorikatapublishing,"jawab Ara."Lo jangan sampai ketinggalan sih, banyak kejutan dalam novel versi bukunya, yang tak ada dalam novel versi di ponsel."
"Lagian tuh ya, pasti bawaanya salting. Gak kebayang peran cowoknya gimana? Mana guru olahraga lagi."
"Gue bakal kepoin akun ig teorikatapublishing, nanti."
Ara memberi Cindy jempol. Buat readers juga yang suka cerita percintaan beda usia, harus beli nih novel versi cetaknya.
🐰🐰🐰🐰🐰
Iri, siapa yang tak iri dengan sodora sendiri? Yang terperlakukan begitu sempurna oleh kedua orang tua, seperti apa yang di rasakan Ataar. Dia melihat papahnya begitu menyayangi kakaknya sedangkan dia tidak. Bukan kasih sayang dia dapat melainkan penyiksaan dan luka.
Ataar tak sengaja melihat papahnya tertawa lepas di ruang tamu bersama dengan Fisha. Ingin rasanya Ataar bergabung di sana, dia ingin juga merasakan pelukan hanget papanya, dia ingin seperti Fisha yang beruntung mendapatkan kasih sayang papa Altar.
"Gue juga anak papa, tapi kenapa hanya kak Fisha yang Papa kasih kasih sayang? Di mana hak gue sebagai anaknya juga? Ini yang di namakan keadilan? Dari kecil gue gak pernah dapat perlakuan seperti kak Fisha dapatkan. Kak, lo beruntung," gumam Ataar berlari menaiki anak tangga, menuju kamarnya.
"Gue yang setiap hari yang harus siap, memasang tubuh yang kuat untuk papa pukul. Kapan itu semua terbalas dengan kasih sayang?"
"Gue punya salah apa, sehingga Papa tega membuatku seperti ini? Kenapa gue begitu kuat? Kenapa tubuh ini gak nyerah aja?"
"Gue menyayangi Papa, makanya gue tak melawan. Jadi kapan Papa menyayangiku? Gue seperti hewan di matanya, bukan seperti anak. Gue gak nyesal lahir di dunia, gue cuma jelas kenapa gue sekuat itu? Tak bisakah gue lemah? Bisakah gue menyerah?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kata kak Fisha, gue bakal mendapatkan kasih sayang Papa, tapi kapan waktu itu akan datang?" tanya Ataar.
...----------------...
Jangan lupa mampir ya!
Judul : Ataar'S Wound