
Renza mengangguk mengerti ke arah teman teman nya.
"Ngajak nya jadian!" ujar nya dengan mantap kearah Mira.
Mira kembali menoleh kearah Renza. Jujur saja dia ga tau harus menerima atau menolak nya. Dia juga tak tau perasaan nya terhadap Renza.
"Kak Renza bisa ngasih waktu buat gue jawab nya?" Pinta Mira. Bertanya
Renza hanya manggut manggut. " Gue tunggu sampai besok. Ga usah terburu buru." Renza tersenyum ke arah Mira. Dia mengacak acak rambut gadis didepan nya itu. Membuat Mira mendengus kesal.
"Berantakan tau ga!" ketus nya.
"Maaf." Renza merapikan rambut Mira.
Renza melirik kebawah. Melihat Mira yang memayun kan bibir nya. Membuat Renza gemess.
"Itu bibir bisa di kuncir," sahut Renza.
Mira melipat bibir nya kedalam. Dan, lagi dan lagi membuat Renza gemess.
"Mau pulang?" Tanya Renza.
Mira hanya mengangguk.
"Ok ayo. Sini gue bantu berdiri." Renza mengulur kan tangan nya ke arah Mira. Mira pun sanatiasa membalas uluran itu.
"Makasih kak." Mira hanya tersenyum canggung.
"Anjay." Alex, Daniel, dan Felix saling tepuk tangan melihat kelakuan bos nya. Romantis nya tiada tara.
Setelah mengantar Mira pulang. Mereka semua kemarkas untuk membahas penjagaan untuk Mira. Renza sudah memutus kan sebagian anggota nya harus ada yang mengawasi Mira dari kejauhan.
Kalau terang terangan. Udah dipastikan Mira tak mau di awasi seperti itu.
Renza sudah menjelas kan, kepada anggota geng motor nya tentang permasalahan ini. Mereka juga ikutan kaget mendengar nya. Namun mereka sudah sangat bersedia menjaga Mira
"Kalian jangan sampai kecolongan mengawasi nya!! sampai terjadi apa apa ke pada nya, kalian yang akan dapat imbas nya! Mengerti?" Tegas Renza.
"Mengerti bos. Kami akan menjaga ibu negara kita dengan baik," jawab mereka secara bersamaan.
Renza manggut manggut.
"Bagaimana dengan Galvin Ren?" Tanya Daniel.
"Gue bisa jaga diri sendiri taik. Yang penting adik gue aman," ujar Galvin.
Daniel hanya mengangguk paham. di ikuti yang lain.
"Kerumah Samuel yok!" ajak Felix.
"Jangan lah anjir, dia kan ada urusan keluarga. Yakali kerumah nya," sahut Alex.
"Iya juga sih. Tapi aneh aja dia kagak ada!" ujar Felix.
"Cepat banget pin"
"Gue ada urusan." Marvin berdiri dan mengambil kunci motor nya. Dia berlari keluar markas dengan terburu buru.
*************
"Gue terima apa ga iya?"
Mira mondar mandir di dalam kamar nya. Dia harus menjawab apa ke Renza?
"Gue ga tau perasaan gue ke dia gimana"
Mira mengguling guling kan badan nya diatas kasur milik nya.
"Terima,ga, terima, ga? ok gue udah dapat jawaban nya," Mira beranjak bangun. Dia membuka ponsel nya. Mengirim jawaban nya ke Renza. Dia malu kalau bilang langsung ke Renza.
Dia memandang terus layar rata itu. Menunggu Renza membalas pesan nya.
Udah beberapa menit. Renza belum juga membaca pesan nya. Dia menyimpan ponsel nya diatas nakas.
Dia beranjak dari sana niat kedapur. Karena merasa perut nya udah minta di isi.
"Non Mira mau makan? mau bibik masakin apa?" Tanya bik Inah.
"Biarin Mira aja bik!" ujar Mira.
"Tapi no-," Belum sempat melanjut kan. Mira sudah mendorong tubuh nya menjauh dari sana.
"Bibik pasti capek. Mending bibik istirahat! biar Mira yang masak yang ingin Mira makan!"
"Tapi gapapa non?" Tanya bik Inah.
"Gapapa." Mira tersenyum kearah bik Inah.
Bik Inah pun memutus kan pergi dari dapur. Jujur dia memang sudah sangat capek. Bayang kan saja dia bekerja dengan seorang diri.
"Enak nya masak apa iya?" Tanya Mira berfikir.
"Kalau nasgor ma udah bosan itu itu mulu," ujar nya memalas.
"sup ayam pasti enak. Ok kita akan masak sup ayam." Mira membuka kulkas dan mengambil daging ayam nya. beserta wartel, daun bawang serta sayur sayuran. Dan bahan bahan yang lain nya.
Mira pun mulai memasak sup ayam itu.
"Wah pasti enak." ujar seseorang dari belakang.
Mira membalikan badan nya ke arah suara. "Ck Kak Galvin." Ternyata orang nya Galvin.
"Noh yayang kamu ada di luar. " Galvin menujuk keluar rumah.