
"Kenapa lagi sih ma?" Tanya Galileo disaat dia tiba tiba di panggil oleh sang mama.
"Duduk dulu kamu!" pinta mama nya.
Galileo dengan malas, duduk di sofa yang berada diruang tengah mansion tersebut.
"Apa? langsung ke inti nya. Leo mau pergi!" pinta Galileo dengan nada yang tak bersahabat.
"Kamu bisa sabar sebentar?" ujar Karina. Yang merupakan mama Galileo.
"Ck. Leo kasih waktu 10 menit. Kalau mama masih diam. Leo bakal pergi!" ujar Galileo.
Karina tidak menjawab sang anak. Dia mengisap rokok yang dia pegang.
"Ma?berhenti lah merokok! mama harus jaga Kesehatan. Ngerokok ga baik ma!" sela Galileo.
Karina menaikan satu alis nya. " Apa peduli mu?"
"Ck. Tersrh."
"Adik kamu sekarang dimana?" Tanya Karina disela sela mengisap rokok nya.
"Apa urusan mama? kenapa tiba tiba nanya dia dimana?" Tanya Galileo.
"Kamu cuman perlu jawab!"
"Kasih alasan dulu buat Leo. Baru lah Leo ngasih tau mama, dia dimana!" ujar nya.
Karina menyimpan sisa rokok nya. "Dia anak mama. Apa perlu ngasih alasan. Ibu ingin bertemu dengan anak nya?"
"Leo. Ga akan ngasih tau!"
Wanita paru baya itu. Menendang meja yang ada didepan nya. Galileo tidak terkejut sama sekali tentang itu. Dia sudah biasa dengan sikap mama nya.
"BERI TAU MAMA. LEO!"
"Ga! Leo pasti kan mama mau nyiksa adik Leo lagi kan??Leo ga bakal ngizinin itu ma.." ujar Galileo. " Lebih baik mama nyiksa Leo saja."
Wanita paru baya. Yang memiliki rambut pirang berwarna merah tua, bercampur warna hitam. Dan memakai dres pendek sepaha itu. Pindah tempat, dan duduk disamping sang anak.
"Beri tau mama sayang! mama janji ga ngapa ngapain dia!" pinta nya dengan lembut.
Apakah Galileo bakal luluh dan mengasih tau dimana adik nya saat ini tinggal? tidak mungkin terjadi.
Galileo berdiri dari sana, menipis kasar tangan mama nya. Yang sedang memegang tangan nya.
"Berani berani nya kam-" ucapan Karina terpotong disaat pria yang merupakan kekasih nya datang. Siapa lagi kalau bukan Arga Bimata?
"Sayang, kok ga bilang kalau mau kesini?" ujar Karina dengan nada lembut.
"Emang kalau kesini harus ngasih kabar dulu?" Tanya Arga.
"Ga gitu sayang! kan bisa nyambut kamu dengan baik!" Karina mengandeng tangan Arga. dan bermanja.
"Galileo? apa kabar? " Tanya Arga.
"Seperti om lihat saat ini!" ketus Galileo.
"Leo bicara mu!" ujar Karina.
"Kenapa?" Galileo pergi dari sana. Tanpa mendengar jawaban dari mama nya. Dia sangat muak kalau melihat mama nya apa lagi bersamaa dengan laki laki itu!
************
"Papa ambil Arvin ikut sama papa. Arvin capek!" Marvin melempar batu kearah air lautan. Ombang membasahi kaki nya sampai celana nya jeans yang dia pakai. Ikut basa.
"Kalau bunuh diri tidak lah dosa. Mungkin gue udah lama bunuh diri gue sendiri."
Banyak orang berlalu lalang. Ada juga yang menatap nya dengan kasian. Dan pengawas disana, sudah tidak heran lagi dengan anak muda itu. Setiap sore dia selalu datang kepantai itu. Hanya untuk menenang kan diri.
"Gue kangen juga sama lo bil. Gue cuman minta, gue di pertemukan sama lo lagi. Cuman lo yang bisa mendengar cerita gue."
Marvin menunduk. Tangan nya dia silang kan diatas lutut nya.
Tiba tiba seseorang datang, dan duduk disamping nya. "Es lo kok ada disini?"
Marvin menoleh kan kepala nya kearah suara. Dengan wajah datar nya, dia memandang gadis yang duduk didekat nya.
"Bukan urusan lo!" ketus Marvin menaikan pandangan nya, ia melihat sunset yang membuat nya tenang.
"Lo ada masalah iya?" Tanya Salsa yang ikut menikmati sunset yang terlihat indah di pandang.
"Bukan urusan lo!" jawab Marvin sekali lagi.
"Wajah lo luka. Nah pake ini." Salsa meregok saku celana nya dan mengeluar kan plester luka yang berwarna biru, dan mempunyai gambar boneka di plester tersebut. Dia memberikan nya kearah Marvin.
Marvin menaikan alis nya melihat plester yang di berikan Salsa. Seketika dia mengingat teman masa kecil nya.