
Mereka singgah sebentar disebuah fila untuk beristirahat. Sebelum melanjut kan perjalanan ke kota bandung.
Setelah berada difila itu. Mereka mengadakan bakar bakar jagung.
"Anjir, jagung lo gosong mek," ujar Felix pada Arnav.
"Lah kok bisa?" tanya Arnav heran.
Felix menaikan satu bahu nya. Dia melanjut kan membakar jagung milik nya.
"Lex.Gue patahin jenis kelamin lo sialan," pekik Renza. Disaat Alex menjatuh kan jagung nya kedalam api.
"Sorry mwhehehe. Ga sengaja bos. Dua rius." Alex menyengir kuda ke arah Renza.
"Sabar. Bisa di bakar ulang lagi kok kak!" ujar Mira menenang kan Renza. Agar tak memukuli Alex.
"Dia bikin darah tinggi, Sayang!" Aduh Renza.
"Memang si Lelex. Demit kematian."cibir Mira.
Renza mengambil jagung yang belum di bakar. Dia menusuk nya menggunakan kayu yang sudah di iris iris berbentuk seperti tusuk bakso.
"Gue beneran patahin. Kalau lo ulangi lagi." Ancam Renza pada Alex.
"Nanti biar Mira sunat aja, atau jambak rambut nya sampe botak. Kalau ngulangi lagi!" ujar Mira. Membuat siapa pun yang ada disana menggerik ngeri mendengar nya.
"Anjay. Kalau Sampai disunat lagi. Hilang masa depan calon istri babang," balas Alex merasa ngilu.
"terutut jodoh Alex di harap kan menjauh. Soal nya lo ga bakal puas kalau sama nih orang!" teriak Daniel dan Samuel.
"Dih sialan. Bakal puas kok! kan belum disunat!"balas Alex.
"Pembahasan lo pada, parno!" sahut Arnav.
Disisi lain ada seseorang yang sedang bucin. Tapi hubungan aja belum tau apa. Siapa kah dia?
"Nah. Ini jagung buat lo!" Galvin memberi kan jagung yang sudah terbakar ke arah Kayla.
Iya yapsss. Galvin dan Kayla.
Galvin hanya mengangguk. Dia tersenyum membuat lesung pipi nya terlihat.
Kayla pun menerima jagung bakar itu yang sudah sedikit dingin. Jadi dia bisa langsung memakan nya. Tanpa menunggu dingin dulu.
senyum Galvin mengembang di saat melihat Kayla. Menggigit jagung itu dengan lahap. Tanpa dia sadari.Ia mengelus surai Kayla dengan lembut.
Kayla mendogok ke atas di mana tangan Galvin dia letakan di atas kepala nya. Kayla hanya tersenyum dan salah tingkah.
Galvin buru buru menurun kan tangan nya di atas kepala Kayla. Disaat dia sadar apa yang di lakukan.
Galvin hanya membalas senyuman Kayla, dengan cara membalas dengan senyuman juga. Dia sedikit membuang wajah nya ke arah lain.
Sama seperti mereka dua. Ada dua sojoly yang juga sedang berada di fase frendzone. Siapa lagi kalau bukan si batu es dan Salsa?
"Vin. Kamu ga niatan memberi tau Galvin?" Tanya Salsa yang mengsandar kan kepala nya didada bidak Marvin.
Marvin menggeleng. " Gue belum siap. Gue takut Galvin benci gue!" ujar nya.
Salsa beranjak dari sana dan menatap wajah Marvin. "Aku yakin, setelah menjelas kan semua nya pada Galvin dan Mira.Mereka tak akan marah sama kamu, kan bukan kamu yang perbuat? Tapi nyokap kamu!!" Salsa memegang kedua pipi Marvin, yang terasa dingin karena angin malam. "Mereka akan lebih marah. Kalau kamu terus menyembunyi kan ini semua Arvin!" ucap Salsa. Apa yang Salsa kata kan ada benar nya juga.
"Gue belum siap. Menjauh dari mereka! gue takut setelah gue kata kan ini semua! Galvin dan yang lain menjauhi gue," balas Marvin.
"it's okey. Kamu boleh pikir kan dengan baik baik apa keputusan mu." Salsa memeluk tubuh Marvin.
"Kenapa kehidupan gue sangat rumit Bil?" tanya Marvin yang sedikit mengeluar kan air mata.
"Sttr. Nanti ada waktu nya kamu bahagia. Kalau kamu udah bahagia jangan pernah lupain aku iya?" ujar Salsa.
"Gue ga bakal lupain lo! Lo salah satu kehabagian gue. Mana mungkin gue buang salah satu kebahagian itu?" Tanya Marvin di terakhir perkataan nya.
"Gue terimah kasih. Lo hadir kembali di kehidupan gue. Andai lo ga kembali mungkin. Gue udah bunuh diri."
Perkataan Marvin membuat Salsa membulat. Ia pun refleks memukul bibir milik Marvin.
"Ngomong nya jangan ngadi ngadi!"ketus Salsa.