
Galileo beranjak dari sana. Dan duduk disofa. "Kapan mama bisa tercukupi? perasaan dulu papa ga pernah tuh buat mama kesusahan. Kenapa sekarang malah semakin matre?"
"Leo jaga bicara kamu!" Bentak Karina.
"Emang benar kan mah?" Galileo bisa membalas mama nya.
"Ck. Keluar kamu!" usir Karina.
Galileo hanya menaikan bahu nya acuh. Dia pergi dari sana.Jaket yang berlambang nama geng motor nya iya selempang ke belakang.
Kalau bukan dia ibu dan bukan yang Melahir kan Galileo. Bukan Galileo sudah membenci benci nya, bahkan sudah Galileo musnah kan.
'Gue ga bisa benci sama ibu gue sendiri, se buruk buruk nya dia, dia tetap wanita yang melahir kan ku kedunia. Darah lebih kental dari pada air. Tapi hukuman tetap hukuman, gue berjanji Galvin,mama nya serta adik nya bakal dapat keadilan. Gue memang musuh bubuyutan Galvin dan Renza. Tapi jangan lupa, gue juga ber utang budi pada mereka. Mereka telah menemani adik gue, dimana gue ga bisa berada di samping nya dan melindungi nya dengan terang terangan.'
'Gue mau di peluk sama lo Mar. Gue kangen. Dulu, lo ngeluh karena nilai lo dibawa rata rata, disaat lo dipukul sama mama. Lo pandai menyembunyikan luka lo dengan cara tersenyum ke arah gue. Dan bisa bisa nya disaat Marvin di pukul. Gue juga merasa kan sakit nya.'
'Gue bakal ngumpulin bukti bukti. Dan membuat mama masuk ke sel. Dan kita berdua hidup bahagia bersama. Gue lebih berharap mama bisa berubah, dan nerima kembaran gue, Marvin.'
'gue udah janji sama papa, untuk menjadi peran orang tua bagi lo. Gue minta maaf sekarang gue belum bisa menepati nya.Tapi gue bakal nepatin, kalau hidup lo udah ga bisa di kendalikan oleh mama.'
Galileo menutup kembali buku harian nya. Dia membaring kan tubuh di atas ranjang.
Kamar yang bernuasa warna hitam semua. Tidak ada warna terang di kamar itu. Galileo lebih suka warna hitam dari pada warna lain. Persis dengan selera Marvin.
************
Mama Anita sudah di pindah kan keruang PIP. Dan sudah sadar. Mira dan Galvin tidak bisa mengukit kan, rasa bahagia nya.
"Jangan nangis sayang, sini peluk mama. mama kangen sama kalian berdua." Mama Anita merentak kan kedua tangan nya.
Galvin dan Mira pun langsung berhamburan memeluk mama nya.
"Anak anak mama sudah tumbuh dewasa iya. Galvin terimah kasih nak, sudah menjaga adik mu."
Galvin mengangguk.
"Akhir nya, nanti Mira bisa makan nasgor buatan mama yang enak.Terus ngikatin rambut Mira." ujar Mira. "Mama tau? Kak Galvin kalau bangunin Mira pake ngomel dulu tau!" Aduh Mira seperti anak kecil.
Mira hanya mendengus kasar, ke arah Galvin. "Tapi ga pake omel juga!"
"Kemarin kemarin tuh ga protes. Sekarang malah protes ga jelas."
"Biarin, aku kan mau ngaduh ke mama."
Mama Anita hanya tersenyum, dan geleng geleng kepala. "Udah udah!"
"Mama makan dulu iya?" Galvin mengambil nampang berisi bubur, yang di bawa kan oleh suster.
Mama Anita hanya mengangguk. Dia membuka mulut nya, disaat Galvin menyodor kan sendong berisi bubur ke mulut nya.
Renza dan yang lain sudah pulang tadi. Karena mereka akan kesekolah.
"Mah. Bocil mama udah punya pacar tau." Aduh Galvin sedikit melirik ke arah adik nya.
"Iya?"
Galvin hanya mengangguk.
"Siapa orang nya sayang? Arkana? " Tanya mama Anita pada putri.
"Bukan. Ma!" jawab Mira.
"Renza ma!" jawab Galvin.
"Beneran? Nak Renza?" Tanya mama Anita memastikan.
Mereka berdua hanya mengangguk.
"Adik kamu pacaran dengan Nak Renza?" Tanya mama Anita sekali lagi.
"Ck. Mama, udah di bilang juga!" jawab Galvin.
"Mama pasti beruntung banget. Kalau nak Renza jadi menantu mama," ujar mama Anita. "Jaga hubungan kalian iya!" pinta mama Anita.