
"Ayok nyanyi gaes, biar bus nih ga hening cipta." Teriak Alex diatas bus.
"Ayok," Sahut Samuel Dan Felix semangat.
"Rak. Pinjam gitar lo!" Pinta Renza.
Raka pun memberi gitar nya ke Renza. Mana bisa dia menolak mengasih gitar nya ke Renza, bisa bisa hidup nya melayang.
"Hore bos kita!" Teriak Daniel semangat
Renza memetik gitar.
"Lima hari sudah kurindu"
"Tak bisa ku menghubungimu"
"Kau sedang dengan dirinya"
"Sedang kita rahasia
"Kapankah kau ada waktu"
"Sembunyi untuk bertemu"
Renza mulai bernyanyi, dengan nada yang hesteris menghayati.
"Baru kau sapa kutersipu"
"Kau puji lupa amarahku"
"Karena kau paling tahu"
"Cara lemahkan hatiku"
"Walau tak ada yang pasti"
"Yang kau beri hanya mimpi"
Renza melirik Mira sekilas, yang duduk disamping Galvin.
"Lantas mengapa ku masih menaruh hati"
"Padahal kutahu kau t'lah terikat janji"
"Keliru ataukah bukan tak tahu"
"Lupakanmu tapi aku tak mau"
"Bos kita, lagi depresi akan cinta gaes!" Teriak Felix.
how
Teriak mereka yang ada di dalam bus. Membuat bus itu rame dan menyenangkan.
"Oh wo"
"Baru kau sapa kutersipu (tersipu)"
"Kau puji lupa amarahku"
"Karena kau paling tahu (paling tahu)"
"Cara lemahkan hatiku (hatiku)"
"Walau tak ada yang pasti"
"Yang kau beri hanya mimpi!"
"Lantas mengapa ku masih menaruh hati"
"Padahal kutahu kau t'lah terikat janji"
"Keliru ataukah bukan tak tahu"
"Lupakanmu tapi aku tak mau"
"Pantaskah aku menyimpan rasa cemburu"
"Padahal bukan aku yang memilikimu"
"Sanggup sampai kapankah ku tak tahu"
"Akankah akal sehat menyadarkanku"
"Oh wo.Uh."
Teriak mereka bersamaa dengan tangan yang didalambai kan keatas
Renza mengudahi nya. Dia mengambalikan gitar itu kembali ke pemilik nya.
Ia memasang earphone nya ditelelinga. Sungguh dia sangat malu, apa lagi dengan gadis yang terus saja menatap nya.
"Iss. Re lo kayak gini sih?!" Gumam nya memukul pelan kepala nya.
Renza hanya ingin mengeluarkan apa yang dia pandam. Lewat sebuah lagu..
Ia bersandar sambil mendengar lagu yang terputar dari ponsel nya. Lirik lagu itu bisa membuat nya ingat dengan gadis yang akhir akhir ini terus saja menghantui pikiran nya.
"Kalau suka bilang!" Ujar Marvin yang ada disamping nya.
"Maksud lo?" Renza membuka mata nya, lalu menoleh kearah Marvin.
"Gue tau lo suka dengan adik nya Galvin. Saran gue, lo nyataain perasaan lo itu kedia!" Saran Marvin tanpa beralih menatap layar rata ponsel nya.
"Gue takut di tolak Mar!" Jawab Renza menatap langit langit bus..
"Itu cuman perisat lo. Coba aja dulu, lo nyatain perasaan lo kedia, di terima dan ditolak nya itu urusan belakang!
Kalau lo misal nya benar benar cinta sama dia bukan karena kagum doang, lo bakal berusaha agar mendapat kan hati nya. Seseorang tak akan pernah menyerah untuk mendapat kan cinta nya! tapi berusaha lah dengan hal yang positif.
Jangan lo mau depetin dia tapi dengan cara yang salah!" Masukan Marvin. Dia hanya tak mau sahabat nya ini, disuatu saat nanti kehilangan seseorang.Sama seperti diri nya.
"Lo kok pinter banget ngasih saran nya mol?" Renza tersenyum. Baru kali ini dia melihat Marvin berbicara dengan panjang.
"Gue bukan Cimol!" Marvin menghadap keluar jendela. "Dan gue memang pintar dari lahir!"
"Makasih saran nya Mar, gue bakal pikir pikir, apa yang lo kasih tau ke gue nanti." Ujar Renza.
Marvin hanya mengangguk. " Iya. Gue berharap disaat lo sudah berhasil dapatin adik nya Galvin, lo jaga dia jangan pernah lo sakitin!"
Renza menatap Marvin dengan tatapan aneh. Serasa ada yang yang terjanggal dengan ucapan Marvin.
"Pasti, pasti gue bakal jaga dia!"
"Gue pegang omongan lo Re!"
Makin kesini, Renza makin merasa aneh dengan Marvin. Ada apa dengan nya?
Renza hanya mengangguk. " Kenapa lo ngomong Kayak gitu?" Tanya Renza.
Marvin menoleh sekilas kearah Renza, dengan menggunakan wajah datar nya.