
Renza membaring kan tubuh nya diatas kasur milik nya.
"Apa yang di Kata Marvin ada benar nya. Gue harus ngasih tau perasaan gue ke Cla. Tapi, " Gumam Renza menatap langit langit kamar nya yang bertema hitam itu. "Isss gimana iya? Gue cht apa ga iya?" Tanya nya sendiri.
Renza bangun dari tidur nya. Di mondar mandir didalam kamar nya, sambil bergelut dengan pikiran nya.
"Dia kaya setan, ngantuhin pikiran gue mulu!" Teriak Renza menendang pertahanan ranjang.
"Arrrkr. Sakit!" Renza memegang kaki yang sakit, karena ulah nya sendiri.
"Benar benar iya. Lo buat gue mabuk cinta sialan!"
Renza dengan ragu mengambil ponsel nya diatas nakas. "Arrkkk. ga bisa bisa." Renza melempar ponsel nya keatas kasur.
Renza meninju angin yang ada didalam kamar nya.
Tiba tiba pintu kamar nya ke buka. Membuat Renza menoleh kearah pintu.
"Eh mama." Renza menghentikan gerakan nya. Dia mengaruk belakang kepala nya yang tak gatal.
Mama Marisa menaikan satu alis nya. "Ini anak saya kan? jangan sampai dia setan penunggu di desaa sana." Gumam mama Marisa mengerik ngeri.
"Mama kenapa sih?" Tanya Renza. Melihat mama nya terus menatap nya seperti lagi ngejulid.
"Ga. Di bawah ada teman teman kamu, Mir-," Mama Marisa belum melanjut kan ucapan nya, Renza sudah lari dengan kekuatan kilat, keluar dari kamar.
"Ini anak makin aneh. " Ujar mama Marisa menatap keluar kamar.
Tiba tiba mama Marisa mengingat sesuatu. " Yeah. Kalau beneran mah!" Mama Marisa melompat lompat dididalam kamar anak nya.
Renza mencium badan nya. " Masih harum. Yeah," Renza menyisir rambut nya, menggunakan tangan nya sendiri.
Renza bersiul sambil menurungi anak tangga.
"Eh bos." Sahut Alex berteriak.
Felix dan Samuel menutup mata Alex.
"Taik. Jangan berteriak anj," Ketus Felix.
Alex menipis tangan mereka berdua.
Renza menghampiri teman teman nya yang berada diruang tamu. Dengan hati yang berbinar+ deg degan.
Renza menatap teman nya persatu. Namun objek utama nya, tidak ada diantara mereka.
Hati nya kembali murung, dan malas menatap teman teman nya.
"Itu muka ngapa kusut banget?" Tanya Alex.
"Bosan gue, lihat wajah lo pada. Belum sehari, kalian datang lagi!" Cibir Renza malas.
"Iya. Gue juga bosan lihat wajah lo pada. Tapi, kita datang kesini. Karena mau ngasih tau lo. Arkana ingin ngajak lo balapan!"
Renza berdiri. Tapi teman nya tidak ada yang bergerak dari sofa.
"Lo mau pergi dengan pakaian gitu?" Tanya Marvin.
Renza melirik kebawah. Ia cuman memakai celana lengan pendek, membuat lutut nya terekspor.
Renza menyingir, memperlihat gigi rapi nya kearah teman nya.
"Bentar iya," Renza berlari naik keatas kamar nya.
"Itu anak kok aneh banget?" Tanya Felix.
**********
Renza mengepal tangan nya disaat Arkana berbisik kepada nya.
"Mira punya gue! hanya milik Arkana Algarafa!" Ketus Arkana tersenyum miring kearah Renza. "gue tantang Lo, kalau gue menangin balapan nih. Lo jauhin Mira! tapi kalau lo yang menang. Mira akan jadi milik lo seutuh nya." Bisik nya lagi kemudia kembali menegakan badan nya diatas motor sport nya. Menunggu Balapan mereka berdua di mulai.
Kuping Renza seakan panas, menahan emosi yang dia tahan. Dia berusaha mengontrol diri nya, tak memukul Arkana.
Mereka berdua memain kan gass nya. Berarti sudah bersiap.
Alex maju di tengah tengah. Untuk memberi mereka berdua pergerakan.
1
2
Brum brum brum.
3
Hitungan terakhir membuat Mereka melaju dengan kecepatan tinggi.
Renza ketinggalan jauh oleh Arkana.
"Sial!!" Umpat Renza menaikan gass nya, dan berusaha melewati Arkana.
Renza memelan kan kecepatan nya dia melihat gerak gerik Arkana.
Di balik helm full face nya, dia tersenyum sinis. Renza menacap gass nya.
"Cla hanya milik Renza!" Ucap nya melaju kan motor nya.
Brum brum.
Mereka saling menyamping disaat, mereka sudah ingin mencapai finis.
Renza lebih dulu mencapai garis finis. Namun tiba tiba ban nya menginjak batu, membuat nya terjatuh dari motor.
"Renzaa." Teriak seseorang dengan nada sangat tinggi, disaat Renza terjatuh diatas motor.