
Mereka berempat seketika menoleh kearah suara. Ternyata yang berkata itu adalah Marvin.
"Lah iya!" Ujar Felix.
Marvin beranjak duduk didekat Alex. "Renza, suka sama adik nya Galvin. " Sahut Marvin.
Mereka berempat menatap kerah Marvin.
"Kok lo tau?" Tanya mereka.
Marvin menaikan satu bahu nya.
"Cimol kita nih kepo, lo kalau ngomong suka kepotong kampret." Carca Daniel.
"Tau nih." Tambah Alex.
Marvin menatap teman nya dengan tatapan datar nya. "Kan dah gue bilang, Renza suka sama Mira!" Ketus Marvin.
"Dimana lo tau?"Tanya Felix.
Marvin memutar bola mata nya keatas. Pengen banget dia ninju teman teman nya dengan cara persatu satu. Nanya mulu.
Marvin mendengus kesal. " Ga perlu kalian tau!!" Jawab Marvin.
*********
"Arkkkkkkk!" Renza bangun, lalu merai ponsel nya yang ada diatas nakas.
Renza membuka room chat yang terdapat nama Cla. Dengan tangan bergetar Renza mengetik sesuatu.
Setelah selesai mengetik. Renza diam sejenak. Apakah dia kirim pesan itu atau dia hapus aja?
Renza takut Mira sudah tertidur.
"Anjir, kok kekirim? siapa yang nekan?" Ujar Renza disaat pesan itu tiba tiba kekirim.
Disaat ingin menghapus pesan itu. Malah kehapus untuk saya.
Renza melempar ponsel nya ke arah lain diatas kasur. Gimana kalau Mira membaca pesan nya? dipasti kan gadis itu bisa geer, dan bisa aja ia di ledek sama nya.
Renza menutup pipi nya menggunkan selimut. " Ini tangan sialan banget." Renza memandang tangan nya.
Tiba tiba ponsel nya bergetar. Menanda kan ada notifikasih masuk.
Renza menoleh kearah ponsel nya.
"Ga dibuka, penasaraan. Kalau dibuka, bikin malu." Gumam nya. Masih menatap layar ponsel nya yang keempat Kali nya bergetar.
Dengan rasa ragu dia merai ponsel nya. Renza menekan notifikasih yang tertara disana.
"Ciee kangen iya?"
"Gimana keadaan kaki kakak? udah mendingan belum?"
"mira tunggu iya!"
Itu balasan Mira kepada Renza.
Entah mengapa. Pipi Renza memerah bak kepiting rebus, setelah membaca pesan dari gadis itu.
Renza tiba tiba tersenyum. Sampai sampai mata pun ikut tersenyum.
Renza menjungkir balikan badan nya, diatas kasur millik nya.
"Aduh," Ringis nya disaat kepala nya kepetok ujung ranjang.
Tapi entah mengapa dia masih tersenyum. Membayang kan wajah gadis yang sudah membuat nya gila.
"Uhuy." Hore nya, sambil menarik selimut nya hingga menutupi seluruh tubuh milik nya.
Disisi lain dimana ada Mira. Yang sama hal nya dengan Renza.
"Kebayang muka nya gimana. " Ujar Mira membayangkan wajah salting Renza. Dia pastikan cowok itu sedang salting.
"Jadi pengen lihat, pasti gemess banget tuh muka," Mira jadi gemess sendiri.
"Tapi bentar deh. Tumben Kak Renza ngajak kesekolah nya bareng?"
"Apa jangan jangan, Kak Renza suka beneran iya sama gue? mana mungkin sih," Carca Mira.
"Tapi kalau beneran gimana?" Tanya Mira pada diri sendiri. "Nanti kalau beneran, terus kak Renza nyatain perasaan nya ke gue. Gue terimah apa ga iya?
tapi mana mungkin, kak Renza mau sama cewek kaya gue, kak Renza kan sebelas dua belas sama kak Marvin.
Tapi di dunia ini ga ada yang ga mungkin. Siapa tau beneran kak Renza naksir sama gue. Gue juga cantik ko. Lebih cantik dari pada Kasya itu! ga suka sama cewek itu!"
Mira jadi kesal kalau mengingat Kasya. Serasa ia pengen cincang.
"Aku ga mau nyakitin dia lagi ma!!"
"Ga. Kamu harus buat mereka sensara! kalau bisa hilang kan mereka berdua dari dunia ini." Pinta wanita paru baya tersebut.
"Aku ga mau"
"Kalau kamu ga mau ngelakuin perintah mama, biar mama yang turun tangan"
"Mama ga boleh nyakitin anak itu! anak itu ga punya salah. Yang salah kalian para orang dewasa"
"Dia menjadi penghalang bagi hidup kita!" Keras wanita paru baya itu.
"Ck. Bukan kah mama yang menghancur kan keluarga mereka?"
"Terus kenapa mama yang ingin menghancur kan mereka lagi?"
"mereka bukan penghalang bagi kita. Justru mama yang gila harta!"