
Taakkk taaakkk taakkk...
Suara hentakan kaki terdengar, kaki yang menghentak itu tidak memakai satupun alas, baik itu sepatu ataupun sandal.
Tangisan terus menyesakkan hatinya yang teramat perih hingga membuat para karyawan yang bekerja di perusahaan itu, segera pergi menghindari karena mereka memang sangat mengenal Aria.
“Hikss..hikss.” Dia terus berjalan sembari menangis sesenggukkan. Dia juga tidak peduli dengan darah yang mengalir di lutut kakinya.
Tidak ada tas yang ia bawa, karena tasnya ia tinggal di dalam mobil dan bahkan ketika menaiki bus kota, ada seseorang yang membantu membayarkannya.
Tangisannya bercampur dengan emosi yang membabi buta, ia terus menangis hingga sampai ke depan sebuah pintu ruangan yang berdindingkan kaca.
Pandangannya menatap sesosok laki-laki dari dalam dinding kaca, laki-laki itu bahkan begitu bahagia melihat tangisan Aria yang telah mengetahui masa depan dari dirinya sendiri.
Baaaaaakkkk..
Tidak ada seorangpun karyawan yang berani menghentikan Aria membuka pintu pemimpin perusahaan mereka.
Pintu yang berada di bagian sudut ruangan terbuka hingga menabrak sebuah gorden mewah yang berfungsi untuk menutupi jendela kaca dan melindungi ruangan tersebut dari panas sinar matahari.
Aria masuk tanpa mempedulikan rasa sakit yang dia derita.
“Wah hebat sekali.“ Puji laki-laki yang tak lain adalah Suan. Laki-laki tersebut terlihat bersandar di meja kerja lalu melipat tangan ke dada. “Bahkan aku baru ingin memulainya tapi dengan begitu cepat kau telah tiba. Berapa banyak jumlah mata-mata yang kau miliki untuk mencari tahu semua hal tentangku?” dengan santainya Suan berbicara dan dengan matanya pun ia bahkan memberikan isyarat kepada Aria untuk melihat dua orang lain yang sedang duduk, memohon sesuatu kepada Suan di ruangan tersebut.
“Kau membelinya?”Aria geram, tangisannya semakin pecah, “ Kenapa kau membelinya?, kau kira kau bisa bahagia seperti cerita-cerita romansa?, Kau kira dengan membeli gadis dari hutang orang tuanya, kau bisa lepas dariku?” wanita itu berteriak mengeraskan suara saking menyakitkannya keadaan yang ia rasakan saat itu.
“Aku membelinya tentu saja karena aku menyukainya, aku menyukai wanita seperti ini, dan bukan wanita sepertimu.” Dengan segera Suan meraih tangan gadis yang mungkin baru saja tamat sekolah menengah atas tersebut, hingga gadis itu berdiri dan jatuh kepelukan laki-laki itu.
“Akhh,” gadis itu mengerang kesakitan karena genggaman erat tangan Suan di pergelangan tangannya. Saat itu, dia terlihat sangat ketakutan,“ ayah, tolong jangan jual aku!” lalu memohon kepada laki-laki tua yang terduduk menundukan kepala.
“Maaf,”
“Pergi!” Suan mengusir laki-laki tua itu. Dengan cepat laki-laki tua tersebut berlalu dari sana.
“Kenapa kau menjual anakmu?” bentak Aria menahan tetapi karena ia telah lemah, laki-laki tua dengan cepat menghempaskan tangannya lalu tanpa menjawab pertanyaan, ia berlari keluar dari ruangan tersebut.
“Lepas kubilang!” perlahan-lahan langkah gontai Aria mendekati Suan.
“Hikss .. ” Gadis yang terjual itu juga ikut menambah suasana menyedihkan di ruangan tersebut.
“Kenapa aku harus melepaskannya?” bukan melepaskan, Suan malah semakin mempererat pelukannya.
“Lepaskan kubilang!” kali ini Aria berhasil mendekati dan mencoba melepaskan gadis itu dari tangan Suan.
“Mana mungkin aku melepaskan gadis yang telah susah payah kubeli ini begitu saja. Harganya juga cukup mahal, dia juga masih perawan, aku juga sangat menyukai bentuk wajahnya, jadi berhentilah berpikir bahwa aku akan melepaskannya begitu saja.” Suan melepaskan tangan Aria yang lemah karena tubuhnya dipaksa menahan rasa sakit fisik dan juga batin.
“Hm,” Hingga ia lelah lalu terduduk jatuh di atas lantai. “Hm hahahahaha,” dan tertawa lebar begitu menggema, “kau berani kepadaku, Suan?, hahaha, Ah benar, sepertinya kau melupakan siapa aku?” Aria mengembangkan senyuman kecut diantara kepahitan hatinya, ia bahkan sempat melayangkan ancaman.
“Hm, lakukan saja apapun yang ingin kau lakukan, wanita ini juga sudah siap mati di tanganmu.” Suan menarik gadis itu maju ke depannya, lalu menekan kedua pipi gadis tersebut dari belakang, memperlihatkan dengan jelas bagaimana bentuk wajah gadis yang baru saja ia beli tersebut kepada Aria.
*********
Aria sangat lelah, matanya juga terasa berat. kepalanya yang sangat pusing, tak kalah menambah rasa lelah di tubuhnya. Meskipun demikian, wanita itu tetap bertahan di ruangan tersebut untuk memberikan peringatan kepada Suan agar laki-laki itu, berhati-hati terhadap dirinya.
“Tentu saja.” Suan melepaskan tangan dari kedua pipi gadis di genggamannya, “Aku bahkan akan sangat senang jika kau melenyapkannya lalu dengannya, akan aku buktikan bahwa kau itu sebenarnya sudah gila.” Lalu setelahnya, ia melepaskan pelukan untuk gadis tersebut dan membiarkan gadis itu jatuh terduduk ketakutan. “Aku sudah membelinya begitu mahal untuk permainanku, setelah aku puas menidurinya, akan kubiarkan kau melakukan apapun semaumu terhadapnya. “
“Haha, hm, “ Aria terkekeh pelan lalu menengadah kepala “... tentu saja dengan senang hati akan kulakukan semua ucapanmu itu,” tenaganya perlahan-lahan pulih meskipun tidak sepenuhnya kembali. Wanita itu bahkan telah mampu menatap mata Suan yang berdiri di depannya,” ... dan tentu saja semua usahamu itu, kupastikan akan sia-sia lalu kau akan menangis memohon memintaku untuk memaafkanmu.”
“Hmmm, Baiklah, kita buktikan saja.” Suan menarik kembali tangan gadis itu, “.. bahkan hari ini akan kubuktikan keseriusanku padamu dengan menghabiskan malamku ini bersama dengannya, lalu akan kunikmati malam pertamaku sebagai laki-laki dewasa dan kau, hee.,” lalu menaikan kepalanya karena Aria yang tadinya duduk kini telah berdiri,”.. akan kubiarkan melihatku bahagia menikmati hidup bebasku.” Kemudian laki-laki itu melangkah, membawa paksa gadis yang baru saja ia beli itu untuk mengikuti langkahnya melewati Aria.
“Berhenti!” Aria tidak tahan lagi, ia sungguh tidak mau jika Suan tidur dengan wanita lain selain dirinya, “ Berhenti kubilang!” tidak ada henti-hentinya batin wanita itu bergejolak panas menahan amarah. Ia yang tadinya telah memulihkan tenaga, saat itu mulai melangkah cepat mengejar Suan yang telah keluar dari ruangan kerjanya.
Terus berjalan cepat lalu berlari dan kini telah berhasil menghalangi langkah Suan.
“Minggir!” Suan menarik tangan Aria untuk menyingkir dari hadapannya.
“Kau tidak dengar aku?, berhenti kubilang!” Aria yang tadinya menyingkir saat itu menghalangi langkah Suan kembali.
“Aku, hmmm, dengar. Tapi berpura-pura tidak mendengar karena ucapanmu itu menyampahi telingaku”
Tinggggg...
Pintu lift terbuka,
Aria dan Suan dibuat terkejut dengan kedatangan seorang laki-laki yang mulai memasuki usia tua di hadapan mereka.
Paaaaaaakkkk..
Tamparan keras mendarat ke pipi Suan.
“Pa.. paman!” panggil Aria terkejut ketika melihat ayah Suan muncul di sana.
“Hm, Aria, sampai kapan kau ingin...”
“Ingin apa?, mengadu?” wajah laki-laki yang tak lain adalah ayah Suan terlihat begitu marah hingga urat-urat nadinya bermunculan di permukaan dahi. “Kau kira sampah sepertimu berhak diadukan?” lalu membentak di koridor lantai yang kini telah sepi ditinggalkan oleh para karyawan yang tidak ingin melihat pertengkaran keluarga pemimpin mereka.
“Ehm,” Suan diam, dia hanya bisa tertegun lalu menyembunyikan gadis di belakangnya dari ayahnya
“Berapa banyak uang yang kau ambil dari perusahaanku?, berani sekali kau menghabiskan uangku untuk membeli wanitamu itu.” Semakin keras bentakan ayah Suan, terdengar. “Lepaskan dia!”
“Tidak,” tolak Suan cepat sembari mengeratkan genggaman tangannya untuk gadis di belakangannya.
“Kau tidak dengar aku?”
“Aku tidak mau menikah dengan Aria.” Sambung cepat Suan, mengatakan keinginan hati secara terang-terangan.
“Apa?, “ Bukkkk... “ Apa yang barusan kau bilang?”
“Paman!”
Pukulan keras mendarat di wajah Suan hingga tangan laki-laki itu melepaskan tangan gadis di belakangnya.
“Paman!”
“Pergilah Aria!” Perintah ayah Suan, Bukkk.., lalu memukul putranya lagi dengan lutut kaki ke bagian perut karena begitu emosi, “pergi!” tegasnya kepada Aria, bukkk.. kemudian melanjutkan pukulan dengan menggunakan siku tangan, baakkk... lalu memberikan pukulan lagi dan kali ini pukulan tersebut mendarat di punggung Suan hingga laki-laki itu jatuh ke bawah.